Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Februari 2025 | 19.17 WIB

Mengenal Simon Tahamata, Legenda Ajax dan Timnas Belanda yang Dikabarkan Jadi Calon Direktur Teknik Timnas Indonesia

Simon Tahamata, legenda Ajax berdarah Maluku. (Ajax YouTube) - Image

Simon Tahamata, legenda Ajax berdarah Maluku. (Ajax YouTube)

JawaPos.com - Nama Simon Tahamata tengah menjadi perbincangan hangat di dunia sepak bola Indonesia. Eks pemain Ajax Amsterdam ini dikabarkan akan menduduki posisi Direktur Teknik (Dirtek) Timnas Indonesia. Spekulasi semakin kuat setelah ia mulai mengikuti akun Instagram Timnas Indonesia, Ketua Umum PSSI Erick Thohir, serta pelatih dan asisten anyar Garuda, Patrick Kluivert dan Denny Landzaat.

Simon Melkianus Tahamata lahir di Belanda pada 26 Mei 1956. Ia memiliki garis keturunan Maluku dari ayahnya, Lambert Tahamata, yang pernah menjadi prajurit KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Ibunya, Octovina Leatemia, adalah sosok yang sangat berperan dalam keluarga besar mereka.

Simon lahir di barak Kamp Vught, sebuah kawasan penampungan yang dibuat oleh pemerintah Belanda untuk menampung orang-orang Maluku yang bermigrasi pada era 1950-an. Perpindahan mereka ke Belanda berkaitan dengan situasi politik pasca-proklamasi Republik Maluku Selatan (RMS), yang dipimpin oleh Soumokil, mantan Jaksa Agung Negara Indonesia Timur (NIT).

"Saya lahir di barak Vught. Saat saya berusia lima tahun, keluarga kami pindah ke kawasan Tiel, Diderik Vijghstraat, yang saat itu masih berada di pinggiran desa," ujar Simon dalam wawancara dengan AD.NL.

Menariknya, sejak kedatangannya ke Belanda pada 1951, orang-orang Maluku tidak memiliki kewarganegaraan resmi hingga akhirnya Simon baru mendapatkan paspor Belanda pada 1976.

Sebagai pemain sepak bola, Simon dikenal sebagai winger lincah dengan kaki kiri yang tajam. Karier profesionalnya dimulai di Ajax Amsterdam pada era 1970-an, sebelum kemudian memperkuat beberapa klub ternama lainnya seperti Feyenoord, Beerschot, dan Germinal Ekeren.

Dalam dua dekade kariernya, ia berhasil meraih berbagai gelar bergengsi, di antaranya:

  • 3 gelar Eredivisie dan 1 Piala Belanda bersama Ajax Amsterdam,
  • 2 gelar Liga Belgia, 1 Piala Belgia, dan 1 Piala Super Belgia bersama Standard Liege.

Simon akhirnya memutuskan gantung sepatu pada 1996, dengan Germinal Ekeren menjadi klub terakhir yang dibelanya.

Pasca pensiun sebagai pemain, Simon memilih menekuni dunia kepelatihan, khususnya di level akademi. Ia pernah menangani tim-tim muda di beberapa klub, seperti Standard Liege, Beerschot, Al-Ahli, dan Ajax Amsterdam.

Dari semua klub yang dilatihnya, Ajax menjadi tempat terlama bagi Simon. Ia mengabdi di akademi klub berjuluk de Godenzonen itu selama satu dekade, dari 2014 hingga 2024, sebelum resmi berpisah pada 29 Februari 2024.

Kini, nama Simon kembali mencuat setelah dikabarkan akan mengemban tugas sebagai Direktur Teknik Timnas Indonesia. Jika benar terwujud, pengalaman dan wawasannya di sepak bola Eropa tentu bisa membawa dampak besar bagi perkembangan sepak bola Indonesia. (Sri Wahyuni)

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore