Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Januari 2025 | 03.11 WIB

Menyibak Taktik dan Gaya Permainan Ruben Amorim, "Mourinho 2.0" Berjuang Ciptakan Identitas Baru Manchester United

Ruben Amorim tampak memberikan semangat untuk skuad Manchester United saat menghadapi Arsenal di Piala FA 2024/25. (X/@EmiratesFACup) - Image

Ruben Amorim tampak memberikan semangat untuk skuad Manchester United saat menghadapi Arsenal di Piala FA 2024/25. (X/@EmiratesFACup)

JawaPos.com - Sejak mengambil alih posisi sebagai pelatih Manchester United pada akhir November 2024, Ruben Amorim telah menegaskan visinya untuk membangun identitas yang jelas bagi timnya.

Namun, setelah dua bulan dan 15 pertandingan berlalu, perjalanan tersebut masih penuh tantangan. Dengan hasil yang mencakup tujuh kekalahan, pelatih asal Portugal itu belum sepenuhnya mampu menciptakan gaya permainan yang ia dambakan di Old Trafford.

Kekalahan 3-1 dari Brighton & Hove Albion di kandang Minggu lalu menjadi salah satu titik rendah musim ini, dan Amorim mengakui bahwa proses perubahan membutuhkan waktu.

"Saya tidak akan mengubah cara saya melihat permainan. Pemain akan menderita, dan saya benar-benar menyesal, para penggemar juga akan menderita. Tetapi kita harus bertahan melalui momen ini. Kita mungkin sedang menjadi tim terburuk dalam sejarah Manchester United," ujar Amorim tegas.

Apa Identitas yang Ingin Dibangun Amorim?

Selama masa jabatannya di Sporting CP, Amorim dikenal dengan gaya permainan agresif dalam formasi 3-4-2-1. Filosofi ini menekankan penguasaan bola yang efektif dengan memanfaatkan lebar lapangan melalui peran bek sayap yang tinggi dan melebar. Hal ini memungkinkan ruang bagi para gelandang untuk mengeksploitasi celah di lini tengah lawan.

Dalam strategi menyerang, pelatih yang mendapat julukan Mourinho 2.0 ini berusaha menciptakan keunggulan jumlah pemain (5v4) saat membangun serangan dari lini belakang. Contoh sempurna terlihat dalam gol Manchester United saat melawan Nottingham Forest. Dalam momen tersebut, posisi para pemain memperlihatkan bentuk formasi khas Amorim, dengan bek sayap yang berada tinggi dan lebar, sementara gelandang dan penyerang menyerang ruang kosong yang tercipta.

Di luar penguasaan bola, Amorim juga menekankan intensitas tinggi dalam pressing. Ketika para penyerang United memutuskan untuk menekan kiper lawan, seperti dalam pertandingan melawan Southampton dan Brighton, hasilnya kerap berbuah peluang, termasuk gol dari penalti yang didapat melawan Brighton. Namun, tantangannya adalah menjaga konsistensi pressing berkualitas ini, terutama melawan tim-tim papan atas.

Taktik Defensif dan Masalah Konsistensi

Penggunaan formasi tiga bek oleh Amorim bertujuan untuk lebih proaktif, bukan hanya bertahan. Salah satu bek tengah sering diminta untuk maju ke lini tengah saat lawan mencoba membangun serangan. Contohnya, Lisandro Martinez berhasil merebut bola di area tinggi saat melawan Liverpool. Namun, taktik ini juga bisa menjadi bumerang. Dalam pertandingan melawan Brighton, Matthijs de Ligt yang maju terlalu jauh gagal menghentikan umpan panjang Carlos Baleba, yang berujung pada gol Kaoru Mitoma.

Para bek United tampaknya masih kesulitan memahami kapan waktu yang tepat untuk maju, menunjukkan perlunya lebih banyak waktu di lapangan latihan. Dibandingkan era Erik ten Hag, United di bawah Amorim memang sedikit lebih cepat dalam memutus permainan lawan (PPDA meningkat dari peringkat 11 ke 4), tetapi mereka juga jauh lebih sedikit menciptakan high turnovers (berada di peringkat 14 dibandingkan peringkat 3 sebelumnya).

Gaya Bermain yang Berubah di Era Amorim

Salah satu perubahan besar yang dibawa Amorim adalah pendekatan dalam membangun serangan dari lini belakang. Sebelum kedatangannya, United cenderung bergantung pada sisi kiri tanpa strategi yang jelas saat melakukan tendangan gawang. Kini, mereka lebih bervariasi dan sering memanfaatkan umpan-umpan pendek ke lini tengah untuk mempercepat transisi ke depan.

Namun, perubahan ini belum sepenuhnya efektif. Penggunaan formasi lima bek sering kali dianggap terlalu defensif, dengan terlalu sedikit pemain kreatif di lini depan. Kombinasi ini membuat kemampuan United untuk menyerang secara langsung menurun drastis. Data menunjukkan bahwa serangan langsung mereka di bawah Amorim turun ke peringkat 13 dibandingkan peringkat 5 di era Ten Hag.

Apa Tantangan Utama Amorim?

Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore