Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 Oktober 2024 | 18.58 WIB

Kisah Fenomenal Perjuangan Budi Santoso, Legenda Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia Era 60-an

Budi Santoso legenda Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia era 60-an berada di depan rumahnya. (Youtube Pinggir Lapangan) - Image

Budi Santoso legenda Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia era 60-an berada di depan rumahnya. (Youtube Pinggir Lapangan)

JawaPos.com — Nama Budi Santoso mungkin tak banyak dikenal oleh generasi muda sepak bola Indonesia saat ini. Namun, di era 60-an hingga 70-an, Budi adalah sosok fenomenal yang menjadi legenda di klub Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia.

Budi Santoso adalah seorang gelandang serba bisa yang berjuang keras demi mewujudkan mimpinya di dunia sepak bola. Dia lahir pada 18 Mei 1948 dan memulai kariernya dengan bergabung di PS AD, sebuah klub yang bermarkas di daerah Gunung Sari, Surabaya.

"Awalnya saya ikut PS AD di daerah Gunung Sari, sebelum latihan dijemput oleh pengurusnya. Kemudian ikut Persebaya junior dulu, seangkatan Rusdi Bahalwan. Setelah di klub, saya ikut dipanggil Timnas 1970. Ikut Piala Asia junior di Filipina, dan meraih runner-up,"ujar Budi Santoso dikutip dari kanal Youtube Pinggir Lapangan.

Bakat dan kegigihannya membuat Budi cepat berkembang, hingga akhirnya dia bergabung dengan Persebaya Surabaya Junior. Dirinya satu angkatan dengan Rusdi Bahalwan, salah satu pemain legendaris Persebaya Surabaya lainnya, sebelum akhirnya dipanggil membela Timnas Indonesia pada 1970.

Budi tak hanya bermain untuk Timnas Indonesia, tetapi juga turut mengantarkan Garuda meraih prestasi gemilang. Salah satu pencapaian terbaiknya adalah saat membawa Indonesia meraih posisi runner-up di Piala Asia Junior 1970 yang digelar di Filipina.

Sebagai seorang pemain yang rendah hati, Budi selalu fokus pada permainannya di lapangan. Di Timnas Indonesia, dirinya menjadi gelandang sentral yang tangguh, berduet dengan pemain hebat lainnya seperti Roni Patinasarani, dan dikenal karena visi permainannya yang cerdas.

Namun, meski punya karier yang cemerlang di sepak bola, kisah hidup Budi tak melulu tentang gemerlap. Setelah pensiun, dia harus menjalani hidup dengan sederhana. Kini, di usianya yang sudah renta, Budi tinggal di sebuah kamar kecil berukuran 2x3 meter di kawasan Ploso, Surabaya.

Bangunan yang ditempatinya dulunya adalah sebuah gubuk, tetapi berkat bantuan dari Bonek, para suporter setia Persebaya Surabaya, serta manajemen klub, tempat tinggal Budi kini lebih nyaman. Televisi menjadi teman setianya dalam menjalani hari-hari di masa tua.

Budi Santoso mengaku, dirinya tidak pernah menyesali pilihan hidupnya. Sepak bola sudah menjadi bagian dari jiwanya sejak kecil. Dia bercerita bahwa bergabung dengan Persebaya Surabaya adalah impiannya yang menjadi kenyataan. Di era itu, Budi harus bekerja keras karena kondisi pemain sepak bola belum sebaik sekarang.

"Saya pernah diajak pindah ke Jakarta. Tapi, saya tidak mau dan memilih tetap di Persebaya. Sampai akhirnya pensiun sekitar tahun 80-an, hingga saya bekerja di Pertamina, tak lepas dari peran pak Sjarnoebi Said (Ketum PSSI pada masanya)," kenang Budi.

Baginya, Persebaya Surabaya adalah rumah sejati, dan dia lebih memilih untuk tetap setia bermain di Surabaya, meski ada tawaran yang lebih menggiurkan dari klub-klub lain.

"Persebaya Surabaya juga klub impian saya sejak kecil, karena dulu kalau tidak main di Persebaya tidak dapat uang. Beda dengan sekarang pemain gajinya besar-besar," jelasnya.

Selain mengukir prestasi di level nasional, Budi juga sempat bertemu dengan legenda sepak bola dunia. Salah satu momen paling berkesan dalam hidupnya adalah ketika dia bertemu dengan Lev Yashin, kiper legendaris Uni Soviet yang dikenal sebagai salah satu penjaga gawang terbaik sepanjang masa.

Setelah karier sepak bolanya berakhir, Budi pun memilih jalur lain di hidupnya. Dia bekerja di Pertamina, sebuah perusahaan besar di Indonesia, berkat peran penting dari Sjarnoebi Said, Ketua Umum PSSI di era itu. Meski begitu, hatinya tak pernah benar-benar jauh dari sepak bola.

Budi mengakui bahwa kondisi pemain sepak bola di era 60-an sangat berbeda dengan sekarang. Gaji pemain di masanya jauh lebih kecil dibandingkan dengan apa yang dinikmati oleh pemain-pemain masa kini. Namun, bagi Budi, bermain untuk Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia sudah menjadi kebanggaan yang tak ternilai.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore