
Nuryono Hariadi, kapten Persebaya Surabaya ketika juara Perserikatan 1988. (Galih Cokro/Jawa Pos)
JawaPos.com — Persebaya Surabaya, tim legendaris sepak bola Indonesia, pernah mencapai puncak kejayaannya saat berhasil menjadi juara Perserikatan 1988. Kemenangan tersebut bukan sekadar hasil dari kemampuan individu para pemain, melainkan buah dari kekompakan tim yang sudah terjalin erat.
Nuryono Haryadi, kapten tim saat itu, membagikan rahasia sukses di balik keberhasilan mereka. “Saat itu (1988) kita main sudah kompak kayak mesin,” ujar Nuryono dikutip dari koran Jawa Pos edisi 4 April 2017, pernyataan tersebut menggambarkan betapa solidnya kerja sama di antara para pemain Persebaya Surabaya.
Kekompakan ini tidak terbentuk dalam semalam. Para pemain Persebaya Surabaya pada waktu itu menjalani training center (TC) intensif di Lapangan KONI, Surabaya. Selama masa pelatihan, mereka tidak hanya berlatih fisik dan teknik, tetapi juga saling mengenal karakter satu sama lain.
Hal ini menciptakan chemistry yang kuat di dalam tim. "Semua saling tahu. Si A sukanya bola-bola gini, si B gini, jadi sudah tahu,” lanjut Nuryono, menunjukkan betapa pentingnya pemahaman antara pemain untuk menghasilkan performa tim yang solid.
Sebagai kapten, Nuryono memiliki tugas penting dalam menjaga komunikasi dan keharmonisan di dalam tim. Dia mengungkapkan bahwa mengenal karakter setiap pemain adalah kunci untuk menjaga kekompakan. "Harus tahu, ada anak yang modelnya gak mau disalahin. Ya, harus diperlakukan sesuai dengan karakternya, modele ngemong," kata Nuryono, menunjukkan betapa pentingnya memahami kepribadian rekan-rekan satu tim dalam mengelola dinamika di lapangan.
Persebaya Surabaya pada tahun 1988 memang diisi oleh pemain-pemain berbakat. Namun, bakat saja tidak cukup untuk membawa mereka menjadi juara. Salah satu duet paling terkenal di tim saat itu adalah Syamsul Arifin dan Mustaqim.
Menurut Nuryono, pada awalnya kedua pemain ini tidak langsung padu. “Dulu, duet Syamsul Arifin sama Mustaqim juga nggak padu. Tapi, karena sering ketemu akhirnya lama-lama kompak,” ungkapnya. Kehadiran mereka yang akhirnya saling memahami, menjadi salah satu kunci kesuksesan tim di lapangan.
Kemenangan Persebaya Surabaya di Perserikatan 1988 adalah hasil dari upaya kolektif yang luar biasa. Pemain saling mengenal dan memahami karakteristik permainan satu sama lain, menciptakan pola permainan yang harmonis di setiap laga.
Dalam setiap pertandingan, mereka mampu tampil bagaikan satu kesatuan yang bergerak seirama, seperti mesin yang tak terhentikan. Strategi dan komunikasi yang terjalin di antara mereka terbukti efektif dalam menaklukkan lawan-lawannya.
Nuryono juga menekankan pentingnya komunikasi dalam menjaga kekompakan tim. Di eranya, komunikasi antar pemain tidak terbatas hanya di lapangan, tetapi juga di luar pertandingan.
Hubungan yang erat di luar lapangan membantu memperkuat ikatan di dalam lapangan, membuat mereka mampu bermain dengan lebih percaya diri dan terkoordinasi.
Kejayaan Persebaya Surabaya pada tahun 1988 juga menjadi inspirasi bagi generasi pemain muda saat ini. Semangat kebersamaan dan kekompakan yang terjalin di antara para pemain saat itu adalah contoh nyata bahwa sebuah tim sepak bola tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan individu. Dibutuhkan kolaborasi, komunikasi, dan pengertian antar pemain untuk menciptakan kesuksesan.
Kemenangan di Perserikatan 1988 menjadi tonggak penting dalam sejarah Persebaya Surabaya. Tidak hanya sebagai bukti kualitas permainan mereka, tetapi juga sebagai bukti bahwa dengan kekompakan dan kerja keras, segala sesuatu bisa dicapai.
Persebaya Surabaya berhasil mencatatkan namanya di puncak sepak bola Indonesia, dan kejayaan tersebut akan terus dikenang oleh para penggemarnya hingga saat ini.
Kisah sukses ini juga menjadi pengingat bagi generasi pemain Persebaya Surabaya saat ini untuk terus bekerja sama dan saling mendukung. Dengan semangat yang sama seperti yang ditunjukkan oleh tim juara Perserikatan 1988, Persebaya Surabaya memiliki potensi untuk kembali mengukir prestasi di kancah sepak bola nasional.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
