
Madrai jadi salah satu sosok legendaris yang menemani Persebaya Surabaya dalam suka maupun duka. (Angger Bondan/Jawa Pos)
JawaPos.com — Kala itu Persebaya Surabaya kembali kehilangan salah satu sosok yang begitu setia, sosok yang selalu ada dalam suka dan duka, baik saat Green Force berjaya maupun ketika terpuruk.
Sosok itu adalah Mochammad Madrai. Madrai, yang meninggal dunia pada Minggu, 11 April 2021, sekitar pukul 23.00 WIB, bukan hanya sekadar seorang masseur di Persebaya Surabaya. Dia adalah bagian dari sejarah Persebaya Surabaya, mewakili esensi kesetiaan yang abadi terhadap klub kebanggaan Surabaya tersebut.
Bagi para penggemar Persebaya Surabaya, Madrai bukan hanya seorang tukang pijat biasa. Sosoknya telah menjadi simbol yang menggambarkan Persebaya Surabaya sejati ketika klub ini terpecah pada masa-masa kelam. Di saat itu, Persebaya Surabaya terbelah menjadi dua, dan banyak pihak kebingungan menentukan klub mana yang sesungguhnya mewakili Green Force. Namun, jawaban dari para Bonek begitu jelas, "Persebaya yang ada Madrai-nya, itu yang asli."
Ungkapan tersebut bukanlah sekadar candaan. Kesetiaan Madrai kepada Persebaya Surabaya begitu tulus dan tak tergoyahkan. Ketika Persebaya 1927 tidak diakui PSSI dan dilarang berkompetisi, Madrai tetap bertahan. Meski ditawarkan gaji besar untuk bergabung dengan Persebaya ‘buatan’, dia menolak dengan tegas. Baginya, Persebaya Surabaya yang dia kenal adalah yang asli, bukan klub dengan nama serupa tapi berbeda esensi. Kesetiaannya diuji, dan Madrai memilih untuk tidak bekerja, menjalani hidup yang lebih sulit, tetapi tetap setia pada tim yang dia cintai.
Pengorbanan itu pada akhirnya tidak sia-sia. Pada 8 Februari 2017, Persebaya Surabaya diakui kembali oleh federasi dan diizinkan untuk mengikuti kompetisi, meski harus memulai dari kasta kedua. Madrai pun kembali mengambil perannya di tim, memijat kaki-kaki para pemain yang akan berjuang di lapangan.
Meskipun usianya tak lagi muda, semangatnya tetap menyala. Dia tak hanya sekadar memijat, tetapi juga menjadi sumber kebahagiaan dan dukungan moral bagi para pemain. Sosok Madrai menjadi seperti seorang ayah, teman, dan saudara bagi pemain-pemain Persebaya Surabaya kala itu.
Bagi mereka yang mengenal Madrai, dia bukan hanya tukang pijat yang mahir. Madrai sering kali membuat para pemain tertawa dengan tingkah lakunya yang jenaka, terutama saat dia memerankan sosok Rhoma Irama, musisi yang diidolakannya. Keceriaan yang dia bawa membuat lelah, stres, dan rasa sakit pemain perlahan hilang.
Rendi Irwan, salah satu mantan kapten Persebaya Surabaya yang dekat dengan Madrai, pernah mengungkapkan bahwa Madrai memiliki kelakuan yang selalu bisa membuat orang tertawa. "Bikin rasa lelah, sakit, dan stres hilang kalau Mbah Mad (panggilan Madrai) yang mijat. Onok ae pokoke kelakuane sing nggarai ngguyu," ungkap Rendi Irwan dikutip dari koran Jawa Pos edisi 13 April 2021.
Meski usianya sudah mencapai 70 tahun, Madrai tetap mampu memijat beberapa pemain setiap harinya. Rasa lelah tak pernah menjadi penghalang baginya untuk melayani para pemain, dan senyuman serta candanya tak pernah pudar. Namun, di balik perannya sebagai masseur, Madrai memiliki kisah yang panjang dan mendalam bersama Persebaya Surabaya.
Kariernya sebagai masseur dimulai tanpa sengaja pada 1979. Saat itu, dia masih bermain sebagai bek kiri dan seorang rekannya, Djoko Malis, mengalami cedera engkel. Madrai yang saat itu iseng memijat engkel Djoko Malis, tak disangka berhasil membantu menyembuhkan cederanya. Sejak saat itu, selain sebagai pemain, dia juga menjadi tukang pijat di tim Niac Mitra.
“Lalu, saya datang dan tanya sebelah mana yang sakit, sini tak pijet bee iso waras," kenang Madrai menceritakan momen awal dirinya menjadi tukang pijat.
Karier bermain Madrai berakhir pada 1980 setelah sempat membela Persebaya Surabaya sebagai bek kiri pada musim 1969-1973, Madrai kemudian berkiprah sebagai masseur. Pada 2000, dia kembali ke Persebaya Surabaya, bukan sebagai pemain, melainkan sebagai tukang pijat tim setelah ditawari oleh Ketua Harian Persebaya Surabaya kala itu, Suroso.
Meski perannya berubah, cintanya pada Persebaya Surabaya tetap sama. Selama bertahun-tahun, Madrai selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Persebaya Surabaya, hingga akhirnya dia merasakan manisnya gelar juara Liga Indonesia pada 2004, salah satu momen paling berharga dalam hidupnya.
Namun, waktu tak bisa dilawan. Pada 2020, Madrai akhirnya memutuskan pensiun dari Persebaya Surabaya di usia 73 tahun. Alasan utamanya adalah karena usia yang sudah tak lagi mendukungnya untuk terus memijat para pemain. "Saya takut tidak kuat mijat pemain lagi, umur sudah banyak," ungkapnya pada tahun terakhirnya bersama Green Force.
Sejak saat itu, Madrai tak lagi hadir di lapangan untuk menemani para pemain Persebaya Surabaya. Namun, doanya dan cintanya tetap bersama tim. Meskipun secara fisik tidak lagi ada, jiwa dan hatinya tetap berada di Persebaya Surabaya.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
