Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Maret 2024 | 18.25 WIB

Mengenang Memori Kelam Ketika FIFA Mencoret Indonesia Sebagai Tuan Rumah Piala Dunia U-20

MEMORI KELAM: Piala Dunia U-20 memang gagal berlangsung di Indonesia, namun sejarah akan tetap mencatatnya dalam perjalanan sejarah sepak bola Indonesia. (FIFA) - Image

MEMORI KELAM: Piala Dunia U-20 memang gagal berlangsung di Indonesia, namun sejarah akan tetap mencatatnya dalam perjalanan sejarah sepak bola Indonesia. (FIFA)

JawaPos.com — Piala Dunia U-20 adalah salah satu kompetisi sepak bola muda yang dinantikan oleh banyak negara di seluruh dunia. Setiap penyelenggaraan turnamen ini menjadi momen penting bagi para pemain muda untuk menunjukkan bakat dan potensi mereka di panggung internasional.

Namun, bagi Indonesia, mimpi menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 berubah menjadi kenangan kelam setelah FIFA resmi mencopot Indonesia sebagai tuan rumah, menyusul gelombang penolakan terhadap keikutsertaan Timnas Israel.

Keputusan FIFA untuk mencabut izin Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 menandai akhir dari ambisi Indonesia untuk menjadi tuan rumah kompetisi olahraga kelas dunia.

Meskipun Pemerintahan Presiden Joko "Jokowi" Widodo telah mengidentifikasi penyelenggaraan turnamen ini sebagai peluang untuk memperluas daya tarik global Indonesia, namun penolakan terhadap keikutsertaan timnas Israel membuat FIFA akhirnya memutuskan untuk mencabut izin tuan rumah tersebut.

“Tuan rumah baru akan diumumkan sesegera mungkin, dengan tanggal turnamen yang saat ini tidak berubah,” katanya dalam pernyataan yang dikeluarkan di situsnya.

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) melakukan upaya terakhir untuk melobi FIFA, dengan Ketua PSSI Erick Thohir bertemu dengan Presiden FIFA Gianni Infantino di Doha pada Rabu 29 Maret 2023.

Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil, dan FIFA memutuskan untuk mencabut izin Indonesia sebagai tuan rumah turnamen remaja tersebut.

Meskipun FIFA tidak secara langsung menyebutkan perlawanan baru-baru ini terhadap keikutsertaan Israel sebagai alasan pencabutan tersebut, namun seruan untuk melarang Israel berkompetisi di tanah Indonesia telah mendapat perhatian luas, terutama setelah dukungan dari beberapa politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Keputusan FIFA tersebut tidak hanya mengecewakan para penggemar sepak bola di seluruh negeri, tetapi juga menimbulkan kemarahan di kalangan masyarakat. Banyak yang menggambarkan keputusan ini sebagai pembatalan peluang bersejarah bagi Indonesia dan keputusan yang merugikan banyak pihak.

Analis sepak bola, Akmal Marhali, yang mengkoordinasikan gerakan akar rumput #SAVEOURSOCCER, mengancam akan mengajukan gugatan class action sebagai respons terhadap pembatalan turnamen tersebut. Menurutnya, orang-orang yang membuat keributan tidak boleh lepas dari tanggung jawab atas tindakan mereka, dan mereka harus meminta maaf kepada masyarakat Indonesia atas kerugian yang telah terjadi.

“Mereka harus memohon maaf kepada masyarakat Indonesia karena telah mengorbankan kesempatan kita untuk membuat sejarah, karena gagal melaksanakan tugas yang sangat besar, dan karena melanggar komitmen kita sendiri. Mereka harus memohon maaf kepada seluruh pemain muda kita yang impiannya bermain di Piala Dunia telah pupus,” kata Akmal dalam rekaman pernyataan, Rabu 30 Maret 2023.

“Ini adalah kejadian yang sangat menyakitkan bagi Indonesia dan kejadian yang sangat meresahkan dimana kepentingan banyak orang dikorbankan demi kepentingan politik segelintir orang,” imbuhnya.

Keputusan untuk mencabut izin tuan rumah di Indonesia terjadi kurang dari enam bulan setelah tragedi mematikan Stadion Kanjuruhan di Malang, Jawa Tengah. Tragedi tersebut memicu seruan reformasi di industri sepak bola Indonesia dan penegakan hukum yang lebih ketat.

Meskipun Indonesia telah berkomitmen untuk memperbaiki situasi sepak bola di negara ini setelah tragedi tersebut, namun keputusan FIFA untuk mencopot Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 menunjukkan bahwa masih ada tantangan besar yang harus dihadapi oleh sepak bola Indonesia.

Dalam pernyataannya setelah keputusan FIFA, Ketua PSSI Erick Thohir menyatakan bahwa meskipun telah berjuang dengan kemampuan terbaiknya, namun sebagai anggota FIFA, Indonesia harus mematuhi aturan federasi. Dia juga mengajak semua penggemar sepak bola di Indonesia untuk tetap waspada menghadapi keputusan sulit ini, dan bersama-sama membuktikan kepada FIFA bahwa Indonesia akan bekerja lebih keras lagi untuk mengubah sepak bola mereka.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore