
Supaham, mantan pemain Suryanaga yang mendapat kesempatan bermain di Persebaya.
Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta adalah dua klub besar di kancah sepak bola Indonesia. Bukan hanya sekarang tapi sejak era perserikatan. Pemain yang direkrut pasti dengan standar tinggi. Tapi ada seorang dengan label bukan pemain nasional yang mampu melakukannya.
Sidiq Prasetyo, Surabaya
SEORANG pemain mampu melepaskan tembakan kaki kiri yang keras dari luar kotak penalti. Itu dilakukan oleh sosok berusia 46 tahun dalam sebuah pertandingan antarkomunitas di Lapangan Karangpilang, Surabaya, pada Jumat sore (22/3). Arahnya di pojok kiri lawan dan berbuah gol.
Bukan hanya rekan satu timnya yang memberikan aplaus, tapi juga pemain lawan. Gol itu seolah menunjukkan skill bermain bolanya belum hilang. Meski, usianya sudah 46 pada tahun ini. Dia adalah Supaham. Mungkin, bagi publik sepak bola nama, tersebut terasa asing. Padahal, Supaham adalah segelintir pesepak bola yang bisa membela Persebaya Surabaya dan kemudian ikut Persija Jakarta.
''Saya membela Persebaya di usia yang masih muda 19 tahun pada 1998/1999. Sedang di Persija pada 2006,’’ ungkap Supaham.
Hebatnya, Supaham bukan pemain yang pernah membela Tim Nasional Indonesia. Beda dengan Hendro Kartiko, Budi Sudarsono, dan Anang Ma’ruf. Ketiganya merupakan legenda sepak bola Indonesia. Sementara Supaham bisa diistilahkan adalah ''pemain kampung’’.
Nama Supaham mulai terangkat saat membela klub internal Persebaya, Suryanaga. Sebagai pemain muda, dia mampu tampil menonjol. Permainan yang ngeyel dan haus gol menjadi ciri dari Arek Warugunung, sebuah daerah di ujung barat Kota Surabaya, tersebut.
''Saya masuk Persebaya tapi bukan pilihan utama. Persaingan lini depan Persebaya sangat ketat dan saya masih termasuk pemula,’’ terang Supaham.
Di musim itu, 1998/1998, lini depan Green Force, julukan Persebaya, dihuni para senior seperti Yusuf Ekodono, Putut Wijanarko, dan Reonald Pietersz. Belum lagi ada Musa Kallon, pemain asing asal Kamerun.
Dalam perjalanannya, Persebaya mampu tampil hingga babak final. Namun, dalam pertandingan yang dilaksanakan di Stadion Klabat, Manado, Sulawesi Utara, 9 April 1999 itu, Uston Nawawi dkk kalah 0-1. Gol kemenangan PSIS dicetak Maradona dari Purwodadi, Tugiyo, di menit ke-89.
''Saya tak masuk line up. Tapi masuk Persebaya ketika itu sudah membuat bangga,’’ lanjut Supaham.
Dengan usia muda dan berlabel Persebaya, Supaham pun menjadi buruan klub-klub di tanah air. Namun, ingin jam bermain, dia menjatuhkan pilihan ke klub Divisi I, kasta kedua kompetisi sepak bola Indonesia di musim 1999/2000, Persekaba Badung.
''Saya tak mau jadi cadangan. Di Persekaba saya diberi kesempatan main dan mencetak banyak gol,’’ jelas Supaham.
Dari Pulau Dewata, lelaki yang kini dikaruniai 3 putra itu kemudian ke Persela Lamongan dan ikut mengangkat Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, menembus Divisi Utama yang merupakan level tertinggi kompetisi sepak bola di Indonesia.
''Barulah di 2004, saya gabung ke Deltras. Namun, saya tahu-tahu cedera dan jarang bermain di putaran I dan memutuskan mengundurkan diri,’’ papar Supaham.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
