Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Maret 2024 | 22.33 WIB

Kisah Supaham, Pemain Kampung 19 Tahun yang Bisa Membela Persebaya dan Bersaing dengan Yusuf Ekodono, Rienald Pieters, Hingga Musa Kallon

Supaham, mantan pemain Suryanaga yang mendapat kesempatan bermain di Persebaya. - Image

Supaham, mantan pemain Suryanaga yang mendapat kesempatan bermain di Persebaya.

Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta adalah dua klub besar di kancah sepak bola Indonesia. Bukan hanya sekarang tapi sejak era perserikatan. Pemain yang direkrut pasti dengan standar tinggi. Tapi ada seorang dengan label bukan pemain nasional yang mampu melakukannya.

Sidiq Prasetyo, Surabaya

SEORANG pemain mampu melepaskan tembakan kaki kiri yang keras dari luar kotak penalti. Itu dilakukan oleh sosok berusia 46 tahun dalam sebuah pertandingan antarkomunitas di Lapangan Karangpilang, Surabaya, pada Jumat sore (22/3). Arahnya di pojok kiri lawan dan berbuah gol.

Bukan hanya rekan satu timnya yang memberikan aplaus, tapi juga pemain lawan. Gol itu seolah menunjukkan skill bermain bolanya belum hilang. Meski, usianya sudah 46 pada tahun ini. Dia adalah Supaham. Mungkin, bagi publik sepak bola nama, tersebut terasa asing. Padahal, Supaham adalah segelintir pesepak bola yang bisa membela Persebaya Surabaya dan kemudian ikut Persija Jakarta.

''Saya membela Persebaya di usia yang masih muda 19 tahun pada 1998/1999. Sedang di Persija pada 2006,’’ ungkap Supaham.

Hebatnya, Supaham bukan pemain yang pernah membela Tim Nasional Indonesia. Beda dengan Hendro Kartiko, Budi Sudarsono, dan Anang Ma’ruf. Ketiganya merupakan legenda sepak bola Indonesia. Sementara Supaham bisa diistilahkan adalah ''pemain kampung’’.

Nama Supaham mulai terangkat saat membela klub internal Persebaya, Suryanaga. Sebagai pemain muda, dia mampu tampil menonjol. Permainan yang ngeyel dan haus gol menjadi ciri dari Arek Warugunung, sebuah daerah di ujung barat Kota Surabaya, tersebut.

''Saya masuk Persebaya tapi bukan pilihan utama. Persaingan lini depan Persebaya sangat ketat dan saya masih termasuk pemula,’’ terang Supaham.

Di musim itu, 1998/1998, lini depan Green Force, julukan Persebaya, dihuni para senior seperti Yusuf Ekodono, Putut Wijanarko, dan Reonald Pietersz. Belum lagi ada Musa Kallon, pemain asing asal Kamerun.

Dalam perjalanannya, Persebaya mampu tampil hingga babak final. Namun, dalam pertandingan yang dilaksanakan di Stadion Klabat, Manado, Sulawesi Utara, 9 April 1999 itu, Uston Nawawi dkk kalah 0-1. Gol kemenangan PSIS dicetak Maradona dari Purwodadi, Tugiyo, di menit ke-89.

''Saya tak masuk line up. Tapi masuk Persebaya ketika itu sudah membuat bangga,’’ lanjut Supaham.

Dengan usia muda dan berlabel Persebaya, Supaham pun menjadi buruan klub-klub di tanah air. Namun, ingin jam bermain, dia menjatuhkan pilihan ke klub Divisi I, kasta kedua kompetisi sepak bola Indonesia di musim 1999/2000, Persekaba Badung.

''Saya tak mau jadi cadangan. Di Persekaba saya diberi kesempatan main dan mencetak banyak gol,’’ jelas Supaham.

Dari Pulau Dewata, lelaki yang kini dikaruniai 3 putra itu kemudian ke Persela Lamongan dan ikut mengangkat Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, menembus Divisi Utama yang merupakan level tertinggi kompetisi sepak bola di Indonesia.

''Barulah di 2004, saya gabung ke Deltras. Namun, saya tahu-tahu cedera dan jarang bermain di putaran I dan memutuskan mengundurkan diri,’’ papar Supaham.

Anehnya, saat dia direkrut Persekabpas Kabupaten Pasuruan, cedera itu hilang sendirinya. Bahkan, Supaham mampu berlari kencang, satu hal yang tak bisa saat di Deltras.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore