
PENUH PERJUANGAN: Kisah Andri Budianto jadi salah satu kisah inspiratif generasi muda sekarang untuk tetap berkarya dengan ketekunan dan pantang menyerah. (Youtube Omah Balbalan)
JawaPos.com — Andri Budianto, seorang nama yang tak pernah lekang oleh waktu dalam sejarah kejayaan Persebaya Surabaya. Dia bukan hanya sekadar pilar dalam keberhasilan tim tersebut meraih trofi juara Liga Indonesia pada 2004, tetapi juga seorang atlet yang menorehkan prestasi gemilang di kancah sepak bola Indonesia.
Namun, setelah gantung sepatu pada 2015, Andri Budianto memilih jalur berbeda dengan sukses berbisnis genteng di bawah merek dagang Utama.
Perjalanan panjang Andri Budianto di dunia sepak bola dimulai dari pelatihan di tim Dolog Surabaya, yang turut berkiprah di kompetisi internal Persebaya Surabaya. Di sinilah, ia meraih panggilan akrab Gepeng, sebuah julukan yang melekat erat padanya hingga saat ini. Meskipun talentanya terpantau oleh tim pelatih nasional junior, Andri Budianto lebih memilih pulang ke Surabaya setelah tak betah berada di Diklat Ragunan.
"Dulu kepala saya kan plontos seperti mendiang Gepeng. Oleh teman dan pelatih, saya pun dipanggil Gepeng yang kemudian melekat sampai sekarang. Malah ada yang tak tahu nama asli saya," kata Andri Budianto dikutip dari kanal Youtube Omah Balbalan.
"Saya ke Jakarta diantar ayah. Tapi, sesampai di Ragunan saya merasa tak betah dan memutuskan pulang ke Surabaya," kenang Andri Budianto.
Namun demikian, ketidaktertarikannya pada latihan tim nasional junior tidak mengurangi prestasi Andri Budianto di tingkat klub. Setelah menjadi bagian dari skuad Persebaya Surabaya pada musim 1998/1999, dia mengukir namanya saat membawa Jawa Timur meraih medali emas di PON 2000. Keberhasilan tersebut membawa Andri Budianto tetap bersinar di panggung Persebaya Surabaya hingga musim 2003.
"Saat itu persaingan memang ketat. Nama saya sudah tak masuk ketika Persebaya ke Jakarta dan Manado," kata Andri Budianto.
Tak lama setelah itu, Andri Budianto menapaki karier di klub lain seperti Deltras Sidoarjo dan Persegi Gianyar sebelum kembali ke pelukan Persebaya Surabaya pada musim 2004. Pada tahun yang sama, Andri Budianto dan timnya menorehkan sejarah dengan meraih gelar juara Liga Indonesia, mengalahkan pesaing tangguh seperti PSM Makassar dan Persija Jakarta.
"Saya menerima tawaran Deltras karena mendapat jaminan pemain inti serta nilai kontrak yang lumayan," ungkap Andri Budianto.
Meskipun telah melanglang buana di beberapa klub, Andri Budianto selalu menjaga konsistensi dalam performanya. Bahkan, dia pernah didaulat menjadi kapten tim saat memperkuat Deltras Sidoarjo pada musim 2006/2007. Namun, panggilan hati akhirnya membawa Andri Budianto kembali ke akar rumput, bergabung dengan tim-tim kecil seperti Persegres, Persebaya Surabaya, dan terakhir Madiun Putra pada 2015 sebelum memutuskan gantung sepatu.
"Setelah itu, saya fokus melanjutkan bisnis genteng keluarga. Alhamdulilah usaha ini lancar dengan mempekerjakan 20 karyawan," pungkas Andri Budianto.
Setelah menyelesaikan karier sepak bola profesionalnya, Andri Budianto beralih haluan ke dunia bisnis. Bersama keluarganya, dia menjalankan usaha penyedia genteng dengan merek Utama. Keputusannya untuk fokus pada bisnis tersebut terbukti tepat, dengan usaha yang sukses dan mampu menyerap tenaga kerja hingga 20 orang.
Kisah Andri Budianto adalah cerminan dari perjalanan seorang atlet yang berani menghadapi berbagai tantangan. Dari panggung sepak bola hingga arena bisnis, Andri Budianto mengukir prestasi dengan dedikasi dan ketekunan yang luar biasa. Keberhasilannya sebagai pengusaha genteng menggambarkan bahwa talenta dan keuletan yang dimilikinya di lapangan juga dapat diterapkan dalam dunia usaha.
Andri Budianto, nama yang terpatri dalam sejarah kejayaan Persebaya Surabaya, bukan hanya sebagai gelandang jangkar yang memimpin timnya meraih kemenangan, tetapi juga sebagai contoh inspiratif bagi generasi muda yang bercita-cita tinggi. Dengan ketekunan dan semangat pantang menyerah, Andri Budianto membuktikan bahwa kesuksesan bukanlah hasil dari keberuntungan semata, melainkan dari kerja keras dan komitmen yang tak pernah padam.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
