
SAKSI SEJARAH: Stadion Gelora 10 November pernah jadi saksi bisu Persebaya Surabaya dilarang tampil di sana ketika Liga Indonesia V berlangsung. (Robertus Risky/Jawa Pos)
JawaPos.com — Ketika musim Liga Indonesia V bergulir pada 1998/1999, Persebaya Surabaya menemui tantangan yang tak terduga di tengah perjalanan mereka menuju kejayaan.
Sebuah kontroversi besar melanda Green Force, menghasilkan hukuman yang menghantui kebanggaan mereka: larangan tampil di stadion kebanggaan, Gelora 10 November. Inilah kisah kelam yang menghiasi babak sejarah liga sepak bola Indonesia.
Keputusan yang menggoncangkan itu diumumkan pada 10 Februari 1999. Persebaya Surabaya dilarang menggelar pertandingan di Gelora 10 November selama enam bulan ke depan. Penyebabnya? Kerusuhan yang terjadi saat Persebaya Surabaya menjamu Persema Malang dalam pertandingan sebelumnya.
Kerusuhan tersebut bukan hanya menyebabkan kekacauan di lapangan, tetapi juga mencoreng citra tim dan stadion. Dampaknya, Persebaya Surabaya harus menerima konsekuensi yang berat: larangan bertanding di stadion ikonik itu, bahkan untuk laga uji coba pun dilarang.
Namun, larangan tersebut tidak berarti akhir dari perjalanan Persebaya Surabaya dalam Liga Indonesia V. Meskipun tidak bisa bermain di Gelora 10 November, Persebaya masih memiliki opsi untuk menggelar pertandingan di tempat lain, seperti Stadion Gelora Delta atau Lapangan Persebaya Karanggayam yang bersebelahan dengan Gelora 10 November.
Tondo Widodo, humas PSSI pada saat itu, memberikan gambaran bahwa setelah masa hukuman berakhir, PSSI akan meninjau kembali apakah Persebaya sudah layak atau tidak untuk kembali bermain di Gelora 10 November.
"Setelah hukuman (enam bulan) habis, PSSI akan meninjau kembali Persebaya sudah layak atau tidak untuk bermain di situ lagi," ujar Tondo Widodo humas PSSI kala itu dilansir dari Jawa Pos Koran edisi 10 Februari 2016.
Kontroversi ini menjadi sorotan publik yang hangat. Persebaya Surabaya, dengan sejarah dan prestasinya yang gemilang, harus menghadapi ujian besar dalam bentuk hukuman yang mengikis keberadaan mereka di stadion yang menjadi simbol identitas kota, Gelora 10 November.
Namun, di balik segala keterbatasan dan hambatan, semangat juang Persebaya tetap berkobar. Mereka terus berjuang di lapangan, meskipun harus bermain di tempat-tempat yang mungkin kurang familiar bagi mereka.
Kisah kontroversi Liga Indonesia V ini tidak hanya mencerminkan perjuangan Persebaya Surabaya dalam menghadapi cobaan, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga sportivitas dalam sepak bola. Sebuah pelajaran berharga yang harus diambil oleh semua pihak terkait dalam mengembangkan dunia sepak bola Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, kisah tentang larangan Persebaya Surabaya tampil di Gelora 10 November pada Liga Indonesia V akan terus menjadi bagian dari sejarah panjang perjalanan klub legendaris ini. Sebuah peristiwa yang mengingatkan kita akan betapa rapuhnya keberadaan sebuah prestasi dan betapa pentingnya menjaga nilai-nilai sportivitas dalam setiap langkah yang diambil dalam dunia sepak bola.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
