Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 28 Januari 2024 | 18.50 WIB

Ironi Liga Indonesia saat Pemain Tak Dibayar walau Proyek Naturalisasi Tetap Jalan, PSSI Diingatkan Fokus Benahi Kompetisi

MENUNTUT HAK: Pemain Kalteng Putra yang tengah berlatih untuk berlaga di Liga 2. Mereka sekarang sedang berada dalam kondisi yang memilukan, tidak digaji dan dianggap melakukan pencemaran nama baik. - Image

MENUNTUT HAK: Pemain Kalteng Putra yang tengah berlatih untuk berlaga di Liga 2. Mereka sekarang sedang berada dalam kondisi yang memilukan, tidak digaji dan dianggap melakukan pencemaran nama baik.

SEPAK bola Indonesia, yang seharusnya menjadi panggung gemerlap bagi bakat-bakat lokal, kini tenggelam dalam ironi yang sulit diabaikan.

MOCH. RIZKY PRATAMA PUTRA, Reporter JawaPos.com

___

Ketidakpastian dan ketidakadilan terus menghantui para pemain Liga Indonesia yang tidak mendapatkan gaji mereka. Sementara proyek naturalisasi pemain terus berjalan tanpa hambatan. Ironisnya, PSSI seakan lupa bahwa langkah pertama menuju perbaikan adalah dengan fokus pada problem internal Liga Indonesia.

Pada Sabtu (27/1), peristiwa mengejutkan terjadi ketika pemain Kalteng Putra memutuskan untuk mogok bertanding melawan PSCS Cilacap karena tunggakan gaji yang mencapai 1-2 bulan.

Sementara pemain-pemain ini harus berjuang untuk mendapatkan hak mereka, PSSI tampaknya terlalu terburu-buru memprioritaskan proyek naturalisasi pemain.

Proyek naturalisasi, yang seharusnya menjadi langkah strategis untuk mengangkat kualitas sepak bola nasional, terus berlanjut tanpa pandang bulu. Sementara pemain lokal merasakan penderitaan finansial, sumber daya dialihkan untuk mempercepat naturalisasi pemain-pemain asing. Pertanyaannya, apakah proyek ini menjadi prioritas yang tepat dalam kondisi sepak bola Indonesia saat ini?

PSSI seakan melupakan bahwa pondasi sepak bola nasional terletak pada pemain-pemain lokal yang berkomitmen dan memiliki motivasi tinggi. Bagaimana bisa mencapai prestasi internasional jika di dalam negeri sendiri, pemain-pemain yang membentuk tulang punggung Liga Indonesia harus merayakan kemenangan mereka dengan penderitaan finansial?

Sorotan pada proyek naturalisasi seharusnya bukan alasan untuk mengalihkan perhatian dari problem internal yang lebih mendalam. Pemain-pemain Indonesia harus menjadi prioritas utama PSSI. Sebelum melibatkan pemain asing dalam proyek naturalisasi, PSSI seharusnya memastikan bahwa pondasi sepak bola lokal kuat dan berkelanjutan.

Krisis gaji yang dihadapi oleh pemain Kalteng Putra hanya menyoroti masalah yang lebih besar di Liga Indonesia. PSSI harusnya memanfaatkan situasi ini sebagai panggilan untuk refleksi mendalam. Apakah klub-klub memiliki manajemen keuangan yang sehat? Apakah aturan dan kontrol keuangan yang memadai diterapkan?

Ketidakpastian dalam pembayaran gaji bukanlah masalah baru di Liga Indonesia. Kalteng Putra sendiri tidak asing dengan situasi ini, dengan kasus tunggakan gaji yang belum terselesaikan dari musim sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa ada masalah struktural yang perlu diatasi.

PSSI juga perlu bertanggung jawab atas kegagalan manajemen klub-klub di bawah payungnya. Perlu adanya inspeksi dan pengawasan yang lebih ketat terhadap keuangan klub agar kejadian serupa tidak terulang.

Liga yang sehat tidak hanya bergantung pada kualitas permainan di lapangan, tetapi juga pada kesejahteraan pemain dan stabilitas keuangan klub.

Langkah-langkah perbaikan internal juga dapat mencakup peninjauan kembali proyek naturalisasi. Meskipun naturalisasi dapat memberikan keuntungan dalam meningkatkan kualitas tim nasional, namun prioritas harus diberikan pada pengembangan bakat-bakat lokal terlebih dahulu. Apakah sudah dilakukan segala upaya untuk mengoptimalkan potensi pemain lokal?

PSSI perlu memahami bahwa kesuksesan sepak bola nasional tidak hanya diukur dari jumlah pemain asing yang dihadirkan dalam tim, tetapi lebih pada pondasi yang kuat dari pemain-pemain lokal yang kompeten dan termotivasi. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi global, ketergantungan terhadap pemain asing dapat menjadi risiko yang tidak terkendali.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore