
Dodik Suprayogi, kepala desa Kepatihan, Gresik yang merupakan mantan pemain Persebaya saat bertugas di kantor Balai Desa Kepatihan, Gresik, kemarin (6/7). FOTO: Angger Bondan/Jawa Pos
JawaPos.com – Cedera membuat karir Dodik Suprayogi terhenti di usia 28 tahun. Setelah pensiun, dia tak memilih karir sebagai pelatih. Mantan mesin gol Persebaya Surabaya itu kini menjadi kepala desa.
Dodik Suprayogi melompat setinggi mungkin. Dia berusaha memenangi perebutan bola atas. Belum sampai bola diraih, kakinya disikat bek Assyabaab Yani Faturrahman. Dia kemudian harus mendarat darurat.
Kreeek. Bunyi itu terdengar bersamaan dengan Dodik mendarat. Suara tersebut berasal dari otot lutut kirinya yang sobek. Dia salah bertumpu. Hingga berujung cedera anterior cruciate ligament (ACL) lutut kiri. Dodik mengerang kesakitan. Sang striker andalan itu tidak bisa melanjutkan pertandingan.
Tak disangka, momen mengerikan pada musim 1996–1997 tersebut menjadi laga terakhir Dodik. Bukan hanya bersama Persebaya. Tapi juga sebagai pemain profesional. Sebab, cedera ACL lutut kiri membuatnya harus gantung sepatu. Padahal, saat itu usianya baru 28 tahun. Usia emas untuk seorang pesepak bola. Tapi, keputusan Dodik untuk pensiun sudah bulat. ”Saya kecewa dengan manajemen saat itu,” tegasnya saat ditemui Jawa Pos di Balai Desa Kepatihan, Menganti, Gresik.
Apa yang membuat Dodik kecewa? Ternyata, selama cedera, dia merasa kurang diperhatikan. Biaya perawatan memang ditanggung sepenuhnya oleh manajemen. ”Tapi, saya harus cari dokter sendiri untuk pengobatan,” kata pria yang kini berusia 52 tahun tersebut. Dodik kemudian bertemu dengan dokter Sarwani. Saat itu Sarwani adalah dokter khusus ortopedi di RSUD dr Soetomo Surabaya.
Dodik kemudian dianjurkan untuk istirahat total dua bulan. Plus melakukan recovery satu bulan. Nah, setelah tiga bulan, kondisi bapak tiga anak tersebut membaik. Dia pun ingin kembali berlatih dengan skuad Green Force. ”Tapi, ada salah satu manajemen yang bilang saya sudah nggak dibutuhkan di tim,” ungkap Dodik. Dia ogah menyebut nama. Yang jelas, dia kecewa. ”Daripada nggak dibutuhkan, lebih baik saya mundur,” tambahnya.
Setelah itu tawaran dari klub lain berdatangan. Tapi, Dodik sudah bertekad untuk pensiun. ”Lebih baik fokus ke pekerjaan saya di PDAM,” ucapnya. Dodik memang sudah berstatus karyawan PDAM Surya Sembada Surabaya sejak 1990. Meski pendapatan jauh lebih kecil, Dodik tidak mempersoalkan. ”Masio pangkat rendah nggak opo-opo. Sing penting diajeni (Walaupun pangkat rendah tidak apa-apa. Yang penting dihargai, Red),” cetus pria kelahiran 24 Februari 1968 itu.
Nah, statusnya sebagai karyawan PDAM itulah yang membuka jalan sebagai kepala desa. Bekerja di PDAM membuatnya memiliki banyak koneksi. Dodik kemudian keluar dari PDAM pada 2004. Setelah itu, pria asli Tanggulangin, Sidoarjo, tersebut langsung mendirikan usaha sendiri berupa CV.
Setelah sukses di dunia usaha, Dodik mulai berani nyalon sebagai kepala Desa Kepatihan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Maklum, dia sudah tinggal di daerah tersebut sejak 1984. Tapi, perjalanannya untuk menjadi kepala desa tak langsung berjalan mulus. Awalnya dia nyalon sebagai kepala desa pada 2014. Hasilnya? ”Dari tiga kandidat, saya dapat suara paling rendah,” katanya.
Dodik kalah telak. Tapi, dia enggan menyerah. Dengan bekal dan pengalaman yang lebih matang, dia kembali maju dalam pemilihan kepala desa 2019. Kali ini dia menang. Kemudian dilantik pada 9 September 2019. Lalu, apa kunci sukses di pemilihan kepala desa yang kedua? ”Saya menawarkan pembaruan. Tinggal masyarakatnya, mau desa maju atau tidak? Ternyata alhamdulillah, semua mau diajak maju,” papar Dodik.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
