Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Desember 2018 | 10.30 WIB

Ini Sepak Terjang Johar Lin Eng, Exco PSSI yang Diciduk Polri

Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah, Johar Lin Eng ditangkap polisi saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (27/12) - Image

Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah, Johar Lin Eng ditangkap polisi saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (27/12)

JawaPos.com - Kabar mengejutkan datang dari sepak bola Indonesia. Johar Lin Eng yang notabene merupakan anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI justru diduga terlibat dalam kasus pengaturan skor.


Satgas yang dibentuk Polri telah mengamankan Johar saat baru saja tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma, Kamis (27/12) pagi. Dia dibawa polisi karena diduga berperan dalam kasus mafia sepak bola Indonesia.


Johar akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dan terancam hukuman minimal lima tahun penjara. Selain ancaman pidana, dia juga akan mendapat sanksi tegas dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.


Pria kelahiran Semarang itu sebetulnya bukan nama baru dalam sepak bola Indonesia. Dia memiliki sepak terjang yang cukup tinggi dalam dunia si kulit bundar.


Sudah dua periode ini, Johar menjabat sebagai Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah. Jabatan pertamanya diemban dalam kepengurusan 2013-2017. Tahun lalu, dia kembali terpilih sebagai ketua untuk periode 2017-2021.


Pada kepemipinan Edy Rahmayadi di PSSI, dia juga mendapatkan suara dari anggota untuk menduduki jabatan Exco. Johar terpilih dalam pemungutan suara di Kongres PSSI tahun lalu.


Akan tetapi, di balik sepak terjangnya, Johar Lin Eng ternyata pernah juga mendapat hukuman seumur hidup dilarang beraktivitas di industri sepak bola Indonesia. Hukuman itu jatuh saat PSSI dipimpin Djohar Arifin. Hukuman tersebut tertulis dalam surat bernomor 03/KEP/KDKHUSUS/III-2012 tertanggal 2 Maret 2012.


Kendati demikian, hukuman itu kemudian diputihkan setelah kasus sudah selesai. Kini, Johar terancam hukuman serupa dari Komdis PSSI usai dinyatakan terlibat dalam dugaan pengaturan skor.


"Kami ranahnya beda dengan polisi. Kalau polisi kan pidana, kami lebih ke kode disiplin. Misal, bisa dilarang aktivitas di sepak bola Indonesia, tak boleh masuk stadion, hingga denda," bilang Wakil Ketua Komdis, Umar Husein saat dihubungi JawaPos.com.


Tentu publik sepak bola Indonesia menanti pengungkapan kasus ini secara tuntas. Hal itu agar sepak bola Indonesia kembali bersih dari mafia.

Editor: Bagusthira Evan Pratama
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore