Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Februari 2019 | 13.00 WIB

Persebaya vs Persinga: Deja Vu Sepak Bola Dagelan 2010

Skuad Persebaya Surabaya saat menggelar latihan beberapa waktu lalu - Image

Skuad Persebaya Surabaya saat menggelar latihan beberapa waktu lalu

JawaPos.com – Tiga kali penundaan pertandingan bukan makanan baru bagi Persebaya Surabaya. Mereka sudah pernah mengalaminya pada penghujung kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2010 lalu.


Kali ini Persebaya kembali mendapatkan pengalaman tidak mengenakkan. Pertandingan melawan Persinga Ngawi di babak 32 besar Piala Indonesia 2018 mengalami penundaan. Bukan satu atau dua kali, namun penundaan itu berlangsung hingga tiga kali.


Laga melawan Persinga seharusnya diadakan pada 22 Januari dan 30 Januari. Kemudian jadwal berubah menjadi 30 Januari dan 7 Februari. Setelah itu berubah lagi menjadi 5 Februari dan 9 Februari. Pada akhirnya, pertandingan pun batal diselenggarakan.


Menurut pelatih Persebaya, Djadjang Nurdjaman, pihaknya saat ini belum mendapat kabar lagi perihal jadwal kick off yang baru. Begitupun dengan lokasi pertandingan.


“Kami berharap tetap digelar. Walaupun batal dan batal lagi,” kata pelatih yang akrab disapa Djanur ini.


Penundaan pertandingan hingga tiga kali bukan pengalaman baru bagi Persebaya. Mereka pernah mengalaminya pada laga kontra Persik Kediri. Momen yang terjadi pada akhir musim 2010 itu, sangat membekas di memori pendukung Persebaya.


Ketika itu Persebaya, Persik, dan Pelita Jaya berebut tiket ke babak play-off. Persik seharusnya menjamu Persebaya di Stadion Brawijaya, Kediri, 29 April 2010. Namun laga gagal digelar karena tidak mendapatkan izin.


Kemudian, venue pertandingan dipindah ke Stadion Mandala Krida, Jogjakarta pada 6 Mei 2010. Akan tetapi pertandingan ini kembali gagal digelar karena terbentur masalah izin. Menurut manual Liga pada saat itu, Persebaya seharusnya menang WO.


Namun kemenangan yang sudah menjadi hak Persebaya tidak diberikan oleh PT Liga Indonesia yang pada saat itu dipimpin Joko Driyono. Kemudian muncul jadwal baru, yakni 5 Agustus 2010. Lokasi tandingnya di Stadion Brawijaya, Kediri.


Lagi-lagi pertandingan gagal digelar karena faktor izin. Persebaya yang terlanjur berangkat ke Kediri akhirnya putar balik menuju Surabaya. Kemudian PT Liga menetapkan bahwa laga ini digelar di Palembang, 8 Agustus 2010.


Persebaya akhirnya memutuskan tidak berangkat ke Palembang. Mereka kecewa karena merasa layak menang WO. Selain itu, PT Liga dan PSSI belum membayar ganti rugi Persebaya akibat pembatalan tiga laga melawan Persik. Bajul Ijo akhirnya terdegradasi.


Itulah cerita sepak bola dagelan yang sempat tersohor. Momen ini pula yang menjadi akar terjadinya dualisme Persebaya. Hebatnya, dualisme Persebaya menyebabkan terjadinya dualisme kompetisi (ISL dan IPL) hingga dualisme federasi (PSSI dan KPSI).


Sembilan tahun berselang, penundaan pertandingan hingga tiga kali kembali dialami oleh tim pujaan Bonek ini. Bukan di kompetisi, melainkan di turnamen yang baru saja dihidupkan kembali oleh PSSI, yakni Piala Indonesia.


Berbeda dengan 2010 lalu, kali ini Persebaya menanggapi penundaan ini dengan santai. Bahkan mereka terkesan masa bodoh. Toh jikalau Persebaya menang melawan Persinga dan lolos ke babak 16 besar, mereka akan menghadapi ketidakpastian lagi.


Sebab, babak 16 besar Piala Indonesia kemungkinan besar tertunda karena agenda tahunan, yakni turnamen pra musim Piala Presiden.

Editor: Bagusthira Evan Pratama
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore