Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 Februari 2017 | 00.47 WIB

Misteri Sepak Bola Sidoarjo: Produktif Lahirkan Pemain Hebat, tapi Klub Melempem

SEMANGAT: Para pemain Deltras Sidoarjo berlatih di Stadion Jenggolo, Sidoarjo. - Image

SEMANGAT: Para pemain Deltras Sidoarjo berlatih di Stadion Jenggolo, Sidoarjo.


Ketidakseriusan dalam pengelolaan menjadi penyebab nihilnya prestasi klub-klub di Sidoarjo. Semua pihak harus bergerak, tak bisa hanya mengandalkan Askab PSSI saja.



--------



SUDAH dua tahun berselang. Tapi, pengalaman menangani Persida Sidoarjo itu masih segar terekam dalam ingatan Freddy Muli.



’’Ketika itu gaji pemain memang terbayar. Tapi, fasilitas pendukung lain minim,’’ kata pelatih yang kini menangani PSS Sleman tersebut.



Bukan hanya tidak punya mes, jatah makanan untuk para pemain juga seadanya. ’’Untung pemain semua berasal dari Sidoarjo. Kalau tidak, mau tinggal di mana mereka,’’ ujar Freddy ketika dihubungi pada Selasa pekan lalu (31/1).



Dengan pengelolaan seadanya seperti itu, tak mengherankan kalau Persida sulit bersaing. Laskar Jenggolo –julukan Persida– pun tersingkir di fase grup. Tapi, kegagalan itu sebenarnya juga tak mengagetkan. Sebab, sepanjang sejarah kompetisi sepak bola di tanah air, belum pernah ada klub asal Sidoarjo yang berjaya.



’’Saudara’’ Persida yang lebih tenar, Deltras, misalnya. Bertahun-tahun berkiprah di divisi teratas, prestasi terbaiknya hanya lolos ke babak delapan besar Divisi Utama 2007. Raihan itu sekaligus mengantarkan The Lobster –julukan Deltras– ke Indonesia Super League edisi perdana di musim berikutnya.



Dulu, di era Galatama, Sidoarjo juga pernah punya Perkesa. Tapi, tim yang ketika itu ditangani Iswadi Idris tersebut juga belum pernah berprestasi puncak hingga akhirnya pindah ke Jogjakarta.



Padahal, kawasan tetangga Surabaya itu tak henti menelurkan pemain hebat. Sekadar menyebut nama, di era Liga Indonesia saja, setelah Nurul Huda, Uston Nawawi dan Sutaji, masih ada Rendy Irwan, Lucky Wahyu, dan Hariono.



Kompetisi internal juga rutin bergulir, terutama setelah 2010. Itu belum ditambah lengkapnya fasilitas pendukung. Puluhan klub lokal punya lapangan masing-masing. ’’Kalau ditotal ada 30 klub internal saja, maka sudah ada 30 lapangan,’’ kata Ibnu Hambal, Plt sekretaris Askab PSSI Sidoarjo.



Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, bahkan rutin memanggungkan laga kelas nasional dan internasional. Gelar Piala AFF U-19 2013 untuk Indonesia, contohnya, direbut Evan Dimas Darmono dkk di sana.



Jadi, apa yang terjadi? Mengapa sepak bola Sidoarjo menggeliat di level amatir, tapi melempem di tataran profesional? ’’Saya sendiri juga nggak habis pikir. Kompetisi internal bagus, pemain muda banyak bertebaran, tapi klub profesionalnya masih belum ’wah’,’’ ujar Uston yang kini menjadi pelatih di Indonesian Soccer Academy.



Freddy melihat penyebabnya adalah minimnya keseriusan jajaran klub di Sidoarjo untuk berprestasi. Dia mengakui dana memang menjadi kendala. ’’Tetapi, kalau mau gotong royong, ya tidak seperti itu jadinya,’’ ungkap Freddy.



Dalam kalimat lain, gotong royong bisa diartikan kerja sama pengelolaan yang baik dan profesional. Tapi, itu nyaris tak pernah terealisasi di Sidoarjo.



Harmadi, pelatih Deltras, mengatakan, akibat minimnya pendanaan, persiapan klub pun dimampetkan menjelang kompetisi. Itu pula yang terjadi pada Deltras di 2014 hingga akhirnya terdegradasi ke divisi terbawah. ’’Pelatih siapa yang dapat mempersiapkan tim dalam waktu singkat? Susah,’’ ujar Harmadi.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore