Bos Leicester City Aiyawatt Srivaddhanaprabha sampaikan permohonan maaf. (X/@LCFC)
JawaPos.com - Klub yang pernah menciptakan salah satu kisah paling ajaib dalam sejarah sepak bola, Leicester City, saat ini harus menghadapi kenyataan pahit. Pada Selasa malam (21/4) ‘lonceng kematian’ bagi The Foxes resmi berdentang setelah mereka dipastikan terdegradasi ke League One, kompetisi kasta ketiga Liga Inggris.
Hasil imbang 2-2 melawan Hull City di King Power Stadium menjadi penutup harapan terakhir Leicester untuk bertahan di Championship. Klub itu mencatat degradasi kedua secara beruntun yang menjadi kemunduran drastis dari masa kejayaan mereka satu dekade lalu.
Nama Leicester City pernah mengguncang dunia saat menjuarai Premier League musim 2015/2016 dan menjadi sebuah kisah yang sering disebut sebagai “keajaiban terbesar dalam era Premier League”. Di bawah asuhan Claudio Ranieri, Leicester mengalahkan klub-klub raksasa dan menjadi simbol harapan bagi tim kecil.
Namun, sepuluh tahun berselang, suasana di stadion berubah drastis. Jika dulu dipenuhi air mata kebahagiaan, kini tribun King Power justru bergemuruh oleh cemoohan dan kemarahan suporter.
Sejak sebelum kick-off, para pemain Leicester sudah disambut dengan sorakan negatif. Kesalahan fatal kiper Asmir Begovic yang menghadiahkan gol pembuka kepada Liam Millar semakin memicu kemarahan suporter.
Meski sempat bangkit lewat penalti Jordan James dan gol voli Luke Thomas, Leicester gagal mempertahankan keunggulan. Gol penyeimbang dari Oli McBurnie memastikan hasil imbang yang terasa seperti kekalahan. Cemoohan keras terus menggema, termasuk kepada Harry Winks yang masuk sebagai pemain pengganti.
Leicester saat ini menjadi klub kelima dalam sejarah Premier League yang terdegradasi dari kasta tertinggi hingga ke liga ketiga dalam dua musim beruntun, mengikuti jejak Sunderland dan Wolverhampton Wanderers (Wolves).
Ironisnya, degradasi itu terjadi hanya lima tahun setelah mereka menjuarai FA Cup dan menjadi degradasi ketiga dalam empat musim terakhir. Pelatih Leicester Gary Rowett yang baru ditunjuk pada Februari 2026 mengaku bertanggung jawab atas situasi yang terjadi.
“Saya akan bertanggung jawab atas peran saya. Saya akan bercermin dan mengambil tanggung jawab itu,” ujar Rowett dikutip dari The Athletic.
Pemilik Leicester, Aiyawatt Srivaddhanaprabha atau Top, juga menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada para suporter. Srivaddhanaprabha menegaskan bahwa tidak ada alasan atas kegagalan itu dan berjanji akan melakukan perubahan besar. “Kami telah mengalami puncak tertinggi dan sekarang titik terendah, dan rasa sakit ini dirasakan oleh kita semua. Saya sungguh menyesal atas kekecewaan yang telah kami sebabkan,” tulisnya dalam pernyataan resmi klub.
“Fokus kami sekarang adalah pada langkah selanjutnya. Kami akan mengambil keputusan yang diperlukan untuk membawa klub ini maju, bekerja bersama untuk membangun kembali, memperbaiki, dan mengembalikan standar yang diharapkan dari Leicester City,” tambah Srivaddhanaprabha.

Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Lionel Messi vs Mohamed Salah, Albiceleste Diunggulkan ke Perempat Final
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Kirim Pulang Tuan Rumah
Kontroversial! Wasit Inggris Anthony Taylor Pimpin Portugal vs Spanyol di Piala Dunia 2026, Rekam Jejak Jadi Sorotan
Daftar 32 Negara Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Dirilis Iran, Indonesia Tak Masuk, Warganet Bertanya-tanya
Arogan Tonjok Pengendara di Jalan Jagakarsa, 'Bang Jago' Tak Berdaya Ditangkap di Rumahnya
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Sesumbar De Nati Andalkan Manzambi
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Bungkam Tuan Rumah
