
Skuad Inter Milan. (instagram.com/@inter)
JawaPos.com–Inter Milan dikenal sebagai salah satu klub besar di Italia dengan sejarah panjang dan deretan prestasi. Namun, di balik kesuksesan itu, Nerazzurri juga punya catatan kelam soal kebijakan transfer pemain yang berujung penyesalan.
Beberapa nama bahkan masih sering dibahas hingga kini karena dianggap sebagai kesalahan besar manajemen, baik dalam membeli maupun melepas pemain.
Salah satu yang paling diingat adalah Alvaro Pereira yang didatangkan dari Porto pada 2012. Dengan banderol €10 juta, ia diharapkan menjadi solusi di sisi kiri. Namun performanya justru kerap ceroboh dan tidak konsisten, hingga akhirnya lebih sering dipinjamkan.
Transfer Radja Nainggolan pada 2018 juga menuai kritik. Selain karena masalah disiplin dan cedera, Inter harus merelakan talenta muda Nicolo Zaniolo ke AS Roma sebagai bagian dari kesepakatan.
Nama lain seperti Valentino Lazaro dan Joao Mario juga gagal memenuhi ekspektasi. Padahal, Joao Mario datang dengan status juara UEFA Euro 2016 dan harga mahal.
Dari era yang lebih lama, Darko Pancev menjadi simbol kegagalan transfer. Didatangkan sebagai top skor Eropa, dia justru kesulitan beradaptasi di Serie A.
Kemudian ada Ricardo Quaresma yang direkrut atas permintaan Jose Mourinho. Gaya bermain individualisnya tidak cocok dengan taktik tim, bahkan dia sempat mendapat label pemain terburuk.
Kisah Gabriel Barbosa atau Gabigol juga tak kalah mengecewakan. Dengan label Neymar baru, dia hanya mampu mencetak satu gol sebelum akhirnya kembali ke Brasil.
Namun, kesalahan terbesar Inter justru terjadi saat melepas pemain. Roberto Carlos dijual ke Real Madrid setelah tidak dimaksimalkan posisinya. Padahal, dia kemudian menjadi legenda di sana.
Hal serupa terjadi pada Andrea Pirlo yang dilepas ke AC Milan. Di klub rival, Pirlo berkembang menjadi salah satu gelandang terbaik sepanjang masa.
Puncaknya adalah penjualan Philippe Coutinho ke Liverpool pada 2013. Dijual murah, Coutinho justru bersinar dan kemudian ditebus mahal oleh Barcelona.
Dari daftar ini, jelas bahwa keputusan transfer bisa menjadi penentu arah klub. Inter Milan pun belajar dari kesalahan masa lalu untuk membangun tim yang lebih solid di era modern.
