
Mantan pemain Sevilla Frederic Kanoute. (Istimewa)
JawaPos.com–Nama Frederic Kanoute tidak hanya dikenang sebagai striker tajam di sepak bola Eropa. Bagi banyak orang, khususnya di Seville, Spanyol, dia juga dikenal sebagai sosok yang teguh memegang prinsip serta aktif membantu komunitas muslim.
Momen yang paling sering diingat terjadi pada 2006 ketika klub yang dia bela, Sevilla FC, mengganti sponsor utama mereka dengan situs judi 888. Pergantian sponsor ini sempat menimbulkan perdebatan, terutama karena Kanoute secara terbuka menolak mengenakan logo tersebut.
Dalam beberapa pertandingan, tulisan sponsor yang tertera di jersey bahkan sempat ditutupi dengan lakban. Aksi itu langsung menjadi sorotan media di Spanyol.
Situasinya cukup sensitif. Saat itu Kanoute baru saja bergabung dengan Sevilla setelah kesulitan mendapatkan tempat utama di Tottenham Hotspur. Di klub London tersebut, dia kalah bersaing dengan penyerang lain, salah satunya Jermain Defoe.
Meski begitu, Kanoute tetap mempertahankan sikapnya. Baginya, identitas sebagai seorang Muslim adalah hal yang tidak bisa ditawar.
Akhirnya ditemukan jalan tengah. Sevilla mengizinkan Kanoute untuk tidak terlibat dalam aktivitas promosi sponsor tersebut. Sebagai kompromi, dia tidak lagi menutup logo sponsor di jersey saat pertandingan.
Dalam wawancara di The Guardians, Kanoute juga sering menegaskan bahwa keyakinannya menjadi bagian penting dalam kehidupan.
”Aku tak pernah menyesal telah menjadi seorang Muslim,” kata Kanoute dalam salah satu kesempatan.
Keyakinan itu juga terlihat dalam berbagai aksi yang dia lakukan di dalam maupun di luar lapangan. Setiap mencetak gol, Kanoute sering melakukan selebrasi sujud sebagai bentuk syukur.
Pada 2009, dia juga sempat menarik perhatian publik saat memperlihatkan kaus bertuliskan Palestina setelah mencetak gol ke gawang Deportivo La Coruna.
Di luar lapangan, kontribusinya bahkan lebih besar. Kanoute diketahui pernah mengeluarkan dana sekitar 700 ribu dolar AS untuk membeli sebuah lahan dan bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai musholla di Sevilla.
Saat itu, tempat ibadah tersebut terancam ditutup karena kontraknya hampir habis. Dengan membeli bangunan tersebut, musala itu akhirnya bisa dipertahankan dan menjadi tempat ibadah permanen bagi komunitas Muslim di kota tersebut.
