Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 Juli 2025 | 15.50 WIB

Pep Guardiola Alami Dilema soal Buruan Pemain di Pos Bek Kanan, Pilih Denzel Dumfries yang Realistis atau Tino Livramento yang Visioner?

Pelatih Manchester City Pep Guardiola. (Manchester Evening News)  - Image

Pelatih Manchester City Pep Guardiola. (Manchester Evening News) 

JawaPos.com - Manchester City tengah berburu bek kanan baru jelang musim 2025-2026, namun dalam perburuan tersebut Pep Guardiola menemui dilema. Musabab dua nama yang mencuat dalam radar: Denzel Dumfries milik Inter Milan dan Tino Livramento dari Newcastle United. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing, tetapi analis klub Steven McInerney menyebutkan bahwa Livramento bisa jadi opsi jangka panjang yang lebih masuk akal, sementara Dumfries adalah pilihan "realistis" yang bisa menyelesaikan masalah dalam waktu cepat.

Setelah mengeluarkan lebih dari 100 juta poundsterling untuk mendatangkan empat pemain anyar musim panas ini, City kini menyoroti sektor bek kanan pasca kepergian Kyle Walker ke Burnley. Pep Guardiola saat ini hanya memiliki Rico Lewis dan Matheus Nunes yang bisa dimainkan di posisi tersebut, disusul opsi darurat seperti Manuel Akanji dan Abdukodir Khusanov.

Tino Livramento menjadi target utama, namun label harga yang mencapai 80 juta Poundsterling membuat Newcastle enggan melepasnya. Di sisi lain, City dikabarkan sedang mengincar Denzel Dumfries dan dapat mengaktifkan klausul rilis sebesar 25 juta Euro (setara 21,6 juta Poundsterling) yang akan berakhir pada 15 Juli.

Steven McInerney dari kanal Esteemed Kompany menyebut Dumfries sebagai pilihan berkualitas dan menyamakan transfer ini dengan perekrutan oportunistik seperti Akanji pada 2022. Meski demikian, dia menyoroti bahwa mendatangkan Dumfries akan bertolak belakang dengan pendekatan baru Direktur Olahraga Hugo Viana yang selama ini fokus pada pemain muda.

"Dumfries baru berusia 29 tahun, dan tentu bukan opsi jangka panjang. Viana dan Txiki Begiristain telah membangun skuad dengan pemain usia muda seperti Rayan Cherki, 21; Rayan Ait-Nouri, 24; Tijjani Reijnders, 26; dan Nico Gonzalez, 23. Dumfries akan jadi pengecualian, tetapi kadang Anda butuh solusi jangka pendek yang efektif," ujar McInerney.

Masalah lainnya adalah terkait kuota pemain homegrown. Aturan Premier League dan UEFA mewajibkan setidaknya delapan pemain yang tergolong homegrown dalam 25 skuad utama, empat di antaranya harus merupakan produk akademi klub. Saat ini City memiliki 11 pemain homegrown, namun beberapa di antaranya seperti Jack Grealish, Kalvin Phillips, John Stones, dan James McAtee dikaitkan dengan kepindahan.

"Kalau City merekrut Dumfries, itu artinya menambah satu slot pemain non-homegrown, dan bisa jadi beban karena mereka sudah kelebihan di sektor itu. Solusinya adalah menjual beberapa pemain asing yang tidak terlalu terpakai," imbuh McInerney.

Terlepas dari itu, kualitas Dumfries tak diragukan. Eks PSV Eindhoven itu memiliki keunggulan dalam duel udara, umpan silang, serta gaya bermain direct yang cocok dengan kebutuhan City.

"Ia bek kanan yang cerdas, tidak sering melakukan pelanggaran gegabah, dan punya naluri ofensif yang baik. Dia bisa memberikan stabilitas selama dua-tiga musim, dan memberi waktu bagi pasar untuk berkembang," tambah McInerney.

Namun bila melihat dari sisi investasi jangka panjang, Livramento jelas lebih menarik. Meski lebih mahal hampir 60 juta Poundsterling dari Dumfries, ia adalah pemain muda berbakat yang sudah menunjukkan performa konsisten di Premier League dan juga masuk kategori homegrown.

"City dikenal dengan kestabilan skuad. Mereka biasa mempertahankan pemain hingga satu dekade. Jika Anda membayar 80 juta untuk Livramento, itu bukan hanya pembelian pemain, tetapi investasi 10 tahun ke depan. Dengan reputasi dan fasilitas klub, Livramento bisa berkembang jadi bintang," kata McInerney.

Meskipun begitu, proses transfer Livramento diyakini tidak akan mudah. Newcastle bersikukuh mempertahankan sang pemain dan bisa jadi hanya akan melepasnya jika ada tekanan dari Financial Fair Play atau desakan langsung dari Livramento sendiri.

"Dari perspektif realistis, Dumfries adalah opsi yang mungkin lebih mudah dicapai. Namun, jika City ingin membangun masa depan, Livramento tetap pilihan terbaik. Ini seperti memilih antara solusi cepat atau investasi masa depan," ujarnya.

McInerney juga menyoroti bahwa Dumfries bisa mengisi kekosongan sementara sembari City menunggu kondisi pasar membaik. "Seperti halnya saat kami rekrut Akanji dengan harga 17 juta Poundsterling, dia langsung jadi pemain reguler. Dumfries bisa memberikan dampak yang sama, dan membebaskan City dari urgensi merekrut bek kanan lain untuk satu atau dua musim ke depan," pungkasnya.

Di sisi lain, City masih membuka kemungkinan menjual Ilkay Gundogan atau Mateo Kovacic. Keduanya berpotensi keluar sebelum musim baru dimulai, sementara Bernardo Silva juga bisa pergi saat kontraknya habis di 2026. Jika tiga gelandang senior itu hengkang, maka kebutuhan akan pemain versatile seperti Dumfries yang bisa bertahan dan menyerang makin mendesak.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore