
Trofi Premier League (Dok. Liverpool.com)
JawaPos.com - Sepak bola Inggris sedang berada dalam tekanan besar. Laporan terbaru Deloitte menyebut bahwa sistem sepak bola di Inggris tengah dihimpit antara tuntutan komersial dan kebutuhan para pendukung.
Dilansir dari The Guardian, laporan tahunan bertajuk Annual Review of Football Finance itu mengungkap bahwa pasar sepak bola Eropa bernilai rekor £32,2 miliar (sekitar Rp 667 triliun) pada musim 2023-24. Dari jumlah itu, lebih dari £16,9 miliar (sekitar Rp 350 triliun) berasal dari lima liga besar Eropa, dengan Premier League menyumbang £6,3 miliar (sekitar Rp 130 triliun).
Meski angka-angka itu mencerminkan pertumbuhan, Deloitte mengingatkan bahwa data finansial semata tak cukup menggambarkan realita di balik industri. Sepak bola Inggris tengah menghadapi tantangan menjaga akar komunitas di tengah dorongan ekspansi bisnis.
"Tidak diragukan lagi bahwa sistem sepak bola di Inggris sedang dalam tekanan," ujar Tim Bridge, mitra utama di Deloitte Sports Business Group.
Bridge juga menyoroti banyaknya laporan ketidakpuasan fans, khususnya soal harga tiket dan aksesibilitas. Menurutnya, ini adalah bukti sulitnya menyeimbangkan pertumbuhan komersial dan peran sosial klub sebagai aset masyarakat.
Sebuah rancangan undang-undang untuk membentuk regulator independen sepak bola telah melewati pembacaan kedua di parlemen bulan lalu. Jika disahkan, regulasi ini berpotensi mengubah sistem tata kelola sepak bola Inggris.
Namun, Bridge menekankan pentingnya mengatasi kesenjangan finansial antara Premier League dan Championship. Ia menyebut ketimpangan ini mengancam keseimbangan kompetisi dan keberlanjutan klub.
"Cara sepak bola diatur dan diregulasi harus mampu mendorong nilai, keterlibatan penggemar baik secara fisik maupun digital, serta keseimbangan kompetitif," jelasnya.
Dua musim terakhir memperlihatkan tantangan besar, di mana semua klub yang promosi dari Championship langsung terdegradasi dalam satu musim. Efek "yoyo" ini berdampak besar terhadap pengeluaran klub dan daya saing secara keseluruhan.
Kondisi ini menjadi salah satu hambatan utama untuk menarik investor jangka panjang. Meski minat investasi tetap tinggi, ketidakjelasan seputar bentuk akhir regulator membuat investor ragu.
Regulator ini rencananya mulai bekerja pada musim gugur, namun masih banyak rintangan. Salah satunya adalah kemungkinan investigasi terhadap penunjukan David Kogan sebagai ketuanya.
"Ketertarikan terhadap sepak bola Inggris tetap tinggi, terutama jika ada hubungan komunitas yang kuat atau peluang investasi tambahan," kata Bridge.
"Tapi ketidakpastian mengenai rezim regulasi ke depan menjadi hambatan," pungkasnya.
Negara-negara lain seperti Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol turut mengamati perkembangan ini. Mereka melihatnya sebagai peluang untuk menutup kesenjangan finansial dengan Premier League.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
