
PENUH SEJARAH: Como 1907 telah jadi salah satu klub yang disegani di Liga Italia karena kontribusinya lahirkan pemain-pemain kelas dunia. (Instagram Gianluca Zambrotta)
JawaPos.com — Como 1907, klub sepak bola asal Italia yang berusia 112 tahun, mencatatkan sejarah baru. Kepastian untuk berlaga di Serie A musim depan diraih setelah mereka berhasil menahan imbang 1-1 lawan Cosenza Calcio dalam pertandingan pamungkas Serie B di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Sabtu (11/5/2024) dini hari WIB.
Hasil ini memantapkan Como di posisi kedua Serie B, memastikan promosi mereka ke Serie A bersama Parma yang sebelumnya sudah lebih dulu memastikan gelar juara Serie B musim ini.
Keberhasilan ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi warga Como, tetapi juga menjadi catatan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Di balik kesuksesan klub ini, terdapat dukungan dari keluarga Hartono, keluarga terkaya di Indonesia. Melalui perusahaan SENT Entertainment, keluarga Hartono membeli Como pada 2019 ketika klub ini masih berlaga di Serie D.
Pembelian Como 1907 oleh keluarga Hartono merupakan kejutan besar bagi banyak orang. Media-media besar pun terlewat untuk menangkap berita mengejutkan tersebut. Banyak yang tidak menyangka bahwa keluarga dari Indonesia, yang dikenal dengan bisnisnya di bidang rokok dan perbankan, akan berinvestasi di sepak bola Italia.
Para penggemar Como pun dibuat penasaran dengan pemilik baru mereka. Mereka mencari tahu siapa sebenarnya keluarga Hartono. "Kami sangat terkejut ketika mengetahui pemilik baru Como adalah perusahaan Indonesia yang sangat kuat. Kami sempat bertanya-tanya bagaimana mungkin sebuah perusahaan Indonesia akan berinvestasi di sepak bola kami? Di klub kami?" ujar salah satu fans bernama Andrea Villa.
Meskipun ada yang skeptis, sebagian fans lainnya tidak terlalu mempedulikan asal-usul pemilik baru asalkan mereka peduli dan tahu cara membawa klub ini maju. "Hal terpenting adalah bukan kamu tahu sepak bola atau tidak. Orang Amerika atau bukan, penting untuk mengetahui bahwa di Como kamu perlu menang," tambahnya.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah harga pembelian klub tersebut. Keluarga Hartono membeli Como dengan jumlah yang tidak fantastis, hanya sebesar 850 ribu euro atau sekitar Rp5 miliar pada waktu itu. Mereka juga langsung melunasi utang klub sebesar 150 ribu euro saat mengakuisisinya. Saking murahnya, pembelian ini diibaratkan seperti menebus barang yang telah lama digadaikan.
Untuk menangani bisnis dan aktivitas lain di Como, keluarga Hartono menunjuk Michael Gandler, sosok yang pernah menjadi Manajer Pemasaran Inter Milan saat klub tersebut dimiliki oleh pengusaha asal Indonesia lainnya, Erick Thohir.
Tugas Michael Gandler di Como sangat berbeda dengan tugasnya di Inter Milan. Apalagi, faktanya Como adalah klub yang benar-benar terpuruk. Namun, seperti keluarga Hartono, Michael Gandler yakin bahwa Como memiliki sejarah yang istimewa.
"Kenyataannya adalah walau kondisi stadion seperti ini dan sejarah kebangkrutan yang telah dialami, ada sesuatu yang sangat istimewa. Itu yang membuat kami membeli klub ini," ujarnya dikutip dari serial dokumenter Como 1907: The Real Story.
Como memang klub yang penuh sejarah. Didirikan pada 1907, klub ini memiliki masa-masa kejayaan pada tahun 1980-an dan 1990-an. Mereka dijuluki "Pabrik Italia" karena banyak melahirkan pesepak bola kelas dunia seperti Gianluca Zambrotta, Marco Tardelli, dan Stefano Borgonovo. Namun, beberapa dekade kemudian, mereka mengalami masa-masa sulit dan bahkan terdegradasi hingga Serie D.
Di tangan keluarga Hartono, Como mulai menunjukkan performa yang membaik. Pada 2018, mereka langsung promosi ke Serie C. Dua tahun setelahnya, mereka naik kasta ke Serie B. Dan, kini Como akan berlaga di liga utama Italia, Serie A.
Keberhasilan ini tentu tidak datang dengan mudah. Keluarga Hartono bersama tim manajemen yang dipimpin Michael Gandler bekerja keras untuk membangun kembali klub ini dari dasar. Investasi besar-besaran dilakukan untuk memperbaiki fasilitas klub, termasuk stadion dan pusat latihan. Mereka juga fokus pada pengembangan akademi sepak bola untuk memastikan bakat-bakat muda lokal mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Tidak hanya itu, pendekatan bisnis yang modern juga diterapkan. Michael Gandler membawa pengalaman dan keahliannya dari Inter Milan untuk membangun strategi pemasaran yang kuat. Ini termasuk merangkul komunitas lokal, menjalin kemitraan dengan sponsor-sponsor besar, dan meningkatkan kehadiran klub di media sosial dan platform digital lainnya.
Kesuksesan ini juga tidak lepas dari dukungan para penggemar yang semakin mencintai keluarga Hartono. Mereka melihat perubahan positif yang terjadi di klub dan merasakan komitmen nyata dari pemilik baru mereka. "Kami melihat keluarga Hartono benar-benar peduli dengan klub ini. Mereka tidak hanya menginvestasikan uang, tetapi juga hati dan jiwa mereka," ujar salah satu penggemar setia Como.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
