Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Juli 2021 | 19.26 WIB

Bola yang Merana di Eropa

England - Image

England

SI kulit bundar terus menggelinding. Ia bermain-main nun jauh di stadion-stadion megah Eropa. Ia bergulir di kolong kaki, menerabas pagar betis, terpental di antara papan iklan, dan melenting ke luar stadion, membikin demam para pemujanya.

Namun, bola itu tak seperti biasanya. Seakan-akan bersimpati pada nasib manusia, bola-bola di Piala Eropa 2020 sesak napas dan enggan menampilkan wajah ceria. Tidak banyak gol indah yang bisa dikenang. Hanya sedikit aksi-aksi ajaib yang bisa disaksikan.

Sesekali ia menampakkan wajah cantiknya ketika berada di kaki para genius: Paul Pogba atau Pedri.

Bola yang Merana

Tapi, ini barangkali juga bukan semata-mata karena pandemi. Dari segi permainan, sudah lama turnamen sepak bola global sedikit membosankan. Bola-bola tidak digerakkan oleh naluri dan imajinasi liar. Ia lebih banyak dikontrol oleh rezim penguasaan dan keseimbangan.

Obsesi dengan statistik dan kehati-hatian membuat bola jarang digiring. Memang, ia lebih banyak dikuasai. Namun, lebih sering lagi diumpan ke samping. Alih-alih mengelus dan menari bersama bola, para pemain lebih takut kehilangan dan cepat-cepat memberikannya ke teman-temannya.

Apalagi dengan merangseknya teknologi. Bola semakin tidak nyaman karena sering diawasi. Dia sering ngambek dan kehilangan alurnya. Umpan hebat dan gol-gol menawan harus dibatalkan demi kebenaran posisi ujung jari.

Demi keadilan, sepak bola menukar sisi kemanusiaannya dengan kecanggihan teknologi. VAR membuat kotak penalti tak lagi menjadi medan pertarungan. Pemain belakang seperti para tahanan tanpa borgol. Alih-alih beradu kaki, mereka menyembunyikan tangannya ke belakang.

Apa boleh buat? Turnamen sepak bola ada untuk dimenangkan, bukan untuk dinikmati dan dirayakan. Untuk menjadi juara, para penari sering kali harus dicadangkan, sementara para pelari dan pengangkut air kini menjadi pasukan andalan. Sepak bola sering menjadi hambar. Sehambar air putih yang Ronaldo tawarkan.

Bola banyak berkeliling bosan di lapangan tengah, membuat kotak penalti seperti kuburan yang merana. Semak belukar tak tumbuh, tetapi tidak ada satu pun pemain Jerman yang rutin berkunjung ke sana. Alvaro Morata, Harry Kane, atau Karim Benzema sesekali datang, tapi mereka cepat bosan, kesepian dan pergi lagi.

Final yang Layak

Namun, tidak juga kita bisa bilang Inggris dan Italia tidak layak untuk memainkan laga terakhir. Inggris melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan untuk melawan kutukan semifinal. Southgate memilih garis pertahanan rendah dan dua gelandang bertahan.

Jack Grealish sesumbar Inggris punya enam penyerang muda terbaik di dunia. Namun, bagi Southgate, pemain terbaik Inggris bukan salah satu dari mereka.

Permainan Inggris tidak semulus Roll-Royce. Tetapi, dengan lapangan tengah yang stabil, Inggris belum pernah menderita serangan balik. Dengan cara itu, mereka baru kebobolan satu gol. Itu pun dari bola mati.

Ini sangat bisa dipahami. Sudah terlalu sering mereka patah hati. Ketika main bagus, biasanya kalah adu penalti. Ketika main buruk, aib para pemain akan selalu diingat dan diudar bahkan jauh setelah kematiannya.

Barangkali ini ada hubungannya dengan politik. Gareth Southgate terkenal anti-Brexit dan pengkritik vokal politisi chauvinistic. Jadi, demi memulangkan sepak bola ke rumah, apa salahnya menang dengan cara yang tidak Inggris?

Dan Italia tetaplah Italia, meski tak sama persis tim-tim lamanya. Tak ada jejak-jejak Gianni Rivera, Roberto Baggio, atau Francesco Totti di sana. Namun, Mancini berhasil meracik strategi yang dianggap memberi kesegaran hidangan klasik ala Italia.

Resepnya masih memakai bumbu lama: lini pertahanan. Donnarumma seperti bocah raksasa yang menjaga kolong meja makan keluarga. Ketika bola melaju deras ke arahnya, ia menangkapnya seperti memetik apel manis yang dilempar ibunya.

Chiellini dan Bonucci? Bek-bek berumur itu seperti anak remaja tanggung yang tertawa-tawa kepada wasit dan penonton setelah menarik kaus atau menjegal kaki lawan-lawannya, seperti mereka pura-pura tertawa ke arah orang tuanya setelah menjegal adik-adiknya.

Permainan mereka tak lagi sama setelah Spinazzola, pemain terbaik mereka (dan juga turnamen), cedera. Tapi, Italia adalah hadiah terbesar sepak bola di Piala Eropa kali ini. Cara mereka bermain membuat jantung kita berdesir. Pertandingan-pertandingan yang mereka mainkan di babak penentuan akan kita ingat jauh di kemudian hari.

Baca juga: Jadi Kiper Inggris Terlama yang Tidak Kebobolan dalam Sejarah

Semoga saja final esok hari menampilkan wajah bola sesungguhnya. Jika tidak, kita pun harus menerimanya. Bola yang merana di Eropa itu tetap memberi kita kesenangan kecil, meskipun sesaat, di tengah derita korona. Ia mungkin tidak terlalu gembira. Namun, lentingannya terasa jauh ke penjuru dunia dan mengaduk-aduk perasaan manusia. Ia akan berhenti bergulir dan tiba di ujung nasib: membuat jutaan orang bersorak merayakan kemenangan atau menyumpahserapahi hari buruk. (*)

*) DARMANTO SIMAEPA, Penulis buku Tamasya Bola & Dari Belakang Gawang

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore