
KEJAR DEADLINE: Renovasi stadion milik Dynamo Moscow terus dikebut untuk menyambut perhelatan akbar Piala Dunia 2018. Dynamo musim depan kembali ke kasta tertinggi sepak bola Rusia
JawaPos.com- Dynamo Moscow dan CSKA Moscow ’’bersekutu’’ untuk melawan dominasi Spartak Moscow yang ’’berteman’’ dengan Torpedo Moscow. Sementara itu, Lokomotiv Moscow cenderung berada di tengah.
Rivalitas selalu panas. Hal itu juga terjadi di antara klub-klub sepak bola di Moskow. Saat ini Spartak berada di atas angin karena torehan prestasinya. Pengaruh dan nama besar Spartak menggurita di ibu kota Rusia itu. Dengan mengidentitaskan diri sebagai people’s club, banyak yang akhirnya mendukung Spartak ketimbang klub-klub lainnya.
Pada era Sovyet, sepak bola memang punya kaitan erat, baik secara pendanaan maupun afiliasi politik. Dynamo identik dengan polisi rahasia. CSKA merupakan timnya tentara. Lalu, Lokomotiv adalah klub pegawai kereta api. Sedangkan Torpedo didukung perusahaan mobil Torpedo-ZIL.
Sangat mudah menemui fans Spartak. Tapi, tidak demikian dengan penggemar Dynamo. Bahkan di kawasan sekitar Stadion Dynamo sekalipun. Tak banyak orang yang paham dan tahu mengenai sejarah klub berusia 94 tahun itu.
’’Stadion Dynamo sedang dibangun untuk Piala Dunia mendatang.’’ Begitulah rata-rata jawaban warga di sekitar stadion. Apakah mereka fans Dynamo? Bukan. Yang menarik, mereka mengaku suporter Spartak.
Sekitar 1,5 kilometer dari Stadion Dynamo, suasananya berbeda. Nuansa Dynamo mulai terasa. Terutama di kawasan Novaya Shilovska. Ada sebuah relief di dinding apartemen bergambar seorang mendribel bola. Dengan logo milik D di atas relief tersebut, bisa dipastikan itu salah satu pemain Dynamo.
’’Igor Leonidovich Chislenko, pemain Dynamo, pernah tinggal di apartemen ini periode 1963–1993.’’ Demikian tulisan di bawah relief tersebut. Benar saja. Di belakang bekas apartemen Chislenko itu ada kantor administrasi Dynamo.
Ivan, pegawai di kantor Dynamo, tidak banyak berkomentar ketika ditanya tentang klub. Dia meminta koran ini mengajukan pertanyaan lewat e-mail.
Seorang di antara sedikit fans Dynamo adalah Bogdan. Dia kini menjadi volunter Piala Konfederasi. Menurut dia, suporter Dynamo sedang berada dalam masa ujian. Sejak terkena regulasi financial fair play (FFP) 2015–2016 oleh UEFA, langkah Dynamo terseok-seok. Pemain bintang seperti Mathieu Valbuena dan Kevin Kuranyi hengkang. Ujung-ujungnya, Dynamo terdegradasi pada musim 2015–2016.
Namun, kini kondisi Dynamo mulai membaik. Masuknya Dynamo Sports Society menyelamatkan Dynamo dari kebangkrutan. Mereka membeli saham klub dari Bank VTB.
’’Kami akan kembali berjaya. Lihat saja, kami hanya semusim di level kedua kompetisi dan kini kondisinya membaik. Rivalitas dengan Spartak akan seseru era-era sebelumnya,’’ tutur Bogdan. (*/c19/ca)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
