
Pelatih Manchester City Pep Guardiola. (YouTube BeanymanSports)
JawaPos.com–Pep Guardiola kembali menjadi sorotan. Kali ini bukan semata karena taktik atau hasil Manchester City, melainkan karena sikapnya terhadap isu kemanusiaan global.
Pelatih Manchester City Pep secara terbuka menyuarakan keprihatinan atas konflik berdarah yang terjadi di berbagai belahan dunia. Termasuk Palestina, Ukraina, hingga Sudan.
Dalam beberapa kesempatan terbaru, Pep Guardiola menegaskan bahwa sepak bola tidak bisa berdiri terpisah dari realitas sosial dan politik. Menurut pelatih Manchester City asal Spanyol itu, ketika nyawa manusia melayang dan penderitaan terus terjadi, figur publik memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara, terlepas dari profesi yang mereka jalani.
Pernyataan tersebut mendapat banyak dukungan. Pep Guardiola dinilai berani menggunakan pengaruh besarnya untuk mengangkat isu yang kerap luput dari perhatian publik olahraga. Dia menolak gagasan bahwa pelatih atau pemain harus fokus pada sepak bola saja, terutama di era ketika olahraga telah menjadi bagian dari kekuatan ekonomi dan politik global.
Namun, sikap itu juga memunculkan perdebatan. Guardiola saat ini merupakan manajer Manchester City, klub yang dimiliki Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan dari Uni Emirat Arab.
Pemerintah UEA pernah disorot berbagai laporan internasional terkait dugaan keterlibatan dalam konflik di Sudan. Meski tudingan tersebut dibantah pihak terkait.
Kondisi ini menempatkan Guardiola pada posisi yang rumit. Di satu sisi, dia berbicara lantang tentang penderitaan manusia dan pentingnya empati global. Di sisi lain, dia bekerja di bawah naungan institusi yang kerap dikaitkan dengan praktik sportswashing, yakni penggunaan olahraga untuk membangun citra positif negara atau rezim tertentu.
Bagi sebagian pengamat, kontradiksi ini sulit dihindari dalam sepak bola modern. Industri sepak bola elite kini melibatkan modal besar, kepentingan politik, dan jaringan kekuasaan lintas negara. Pelatih dan pemain berada di tengah pusaran tersebut, sering kali tanpa ruang benar-benar netral.
Meski begitu, pernyataan Guardiola tetap dinilai penting. Setidaknya, isu kemanusiaan yang dia angkat berhasil masuk ke ruang publik sepak bola, yang selama ini lebih akrab dengan statistik, taktik, dan transfer pemain.
Suaranya memicu diskusi, kritik, sekaligus refleksi tentang peran olahraga di dunia yang penuh konflik. Guardiola sendiri belum memberi isyarat akan menghentikan sikapnya. Bagi pelatih berusia 55 tahun itu, kemenangan di lapangan tidak seharusnya membungkam kepedulian terhadap penderitaan di luar stadion.
Dalam sepak bola yang kian terikat pada kekuasaan global, suara seperti ini meski penuh kontradiksi tetap menggema dan sulit diabaikan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022