
Xabi Alonso dikabarkan terancam dipecat di Real Madrid. (Yahoosports)
JawaPos.com - Kedatangan Xabi Alonso ke Real Madrid sempat membawa harapan besar, terutama soal keberanian memberi kesempatan kepada pemain akademi.
Ia digadang-gadang sebagai sosok yang akan memutus pola lama: memainkan talenta muda bukan sekadar solusi darurat, melainkan bagian dari proyek jangka panjang. Namun, seiring berjalannya waktu, realitas di lapangan justru berkata lain.
Melansir Defensa Central, kasus David Jiménez menjadi contoh paling jelas. Bek muda itu baru mendapat kesempatan bermain ketika Dani Carvajal dan Trent Alexander-Arnold absen. Sementara Asencio dipaksa tampil meski dalam kondisi demam.
Situasi serupa juga dialami Valdepeñas, yang baru diturunkan di Vitoria saat Carreras, Fran García, Mendy, Alaba, dan Camavinga sama-sama tidak tersedia. Dengan kata lain, mereka bermain bukan karena kepercayaan penuh, melainkan karena tidak ada pilihan lain.
Ironisnya, keputusan-keputusan semacam ini dulu menjadi bahan kritik utama terhadap Carlo Ancelotti. Kini, pola yang sama justru diulang oleh Alonso. Sebuah ironi yang mengejutkan banyak pihak, terutama mereka yang berharap ada perubahan pendekatan di era pelatih asal Spanyol tersebut.
Demi menjaga keharmonisan ruang ganti, Alonso tampak mengesampingkan idealismenya sendiri. Hubungannya dengan para pemain senior memang membaik, tetapi performa tim justru menurun dibanding awal musim.
Akademi Penuh Talenta, Tapi Minim Kepercayaan
Real Madrid sejatinya tidak kekurangan bakat. David Jiménez dan Valdepeñas adalah dua contoh bek sayap muda dengan potensi besar untuk bersaing di level elite. Setiap kali diberi kesempatan, keduanya mampu tampil solid, bahkan dalam situasi krusial.
Karena itu, terasa janggal ketika pemain lain justru dipaksa bermain di posisi yang tidak mereka kuasai, alih-alih memberi menit bermain kepada pemain yang memang secara natural cocok di posisi tersebut.
Pengembangan pemain akademi seharusnya menjadi investasi, bukan risiko yang ditakuti. Klub-klub lain, termasuk Barcelona, sudah lama membuktikan bahwa tim cadangan mereka bisa menyumbang pemain yang siap tampil reguler di La Liga.
Kuncinya ada pada kepercayaan dan kontinuitas. Tanpa itu, talenta-talenta muda akan pergi ke klub lain, berkembang di sana, dan pada akhirnya membuat Real Madrid menyesal karena pernah menyia-nyiakan mereka.
Tekanan Besar untuk Xabi Alonso
Situasi ini menempatkan Xabi Alonso dalam posisi sulit. Hasil buruk dan performa tim yang tidak konsisten membuat masa depannya di Santiago Bernabéu mulai dipertanyakan.
Sejumlah anggota dewan dikabarkan meragukan kemampuannya membalikkan keadaan. Bahkan, kegagalan di Piala Super Spanyol bisa menjadi pukulan fatal bagi posisinya sebagai pelatih kepala.
Kini Alonso berada di persimpangan jalan. Ia harus memilih: tetap bertahan dengan pendekatan aman demi hasil jangka pendek, atau kembali ke ide awalnya dengan memberi kepercayaan nyata kepada pemain akademi, meski penuh risiko.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022