Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Juni 2025 | 04.31 WIB

Raphinha Kritik Format Baru Piala Dunia Antarklub: Libur Adalah Hak Pemain, Bukan Kemewahan

Raphinha. (bEIN Sports) - Image

Raphinha. (bEIN Sports)

JawaPos.com - Penyerang Barcelona asal Brasil, Raphinha, melontarkan kritik tajam terhadap keputusan memperluas format Piala Dunia Antarklub tanpa melibatkan suara para pemain. Ia menyesalkan bahwa para pemain harus dipaksa mengorbankan waktu libur demi mengikuti turnamen tambahan yang berlangsung hanya beberapa pekan setelah musim liga berakhir.

Turnamen edisi perdana dengan format baru itu digelar mulai 14 Juni hingga 13 Juli 2025, langsung setelah jendela internasional dan berakhirnya musim kompetisi Eropa di akhir Mei.

Bagi Raphinha, ini menandakan beban yang semakin berat tanpa ruang pemulihan yang layak.

"Berbicara sebagai pemain dari tim Eropa, seharusnya saat ini kami sedang libur," ungkap Raphinha.

"Marquinhos dan Beraldo dari PSG bahkan belum sempat merayakan gelar Liga Champions mereka. Langsung bergabung ke tim nasional, lalu lanjut ke Piala Dunia Antarklub. Mereka belum berhenti," tambahnya.

Ia menekankan bahwa waktu libur adalah hak pemain, bukan sesuatu yang bisa diambil begitu saja.

"Banyak yang bilang ini cuma alasan. Bisa iya, bisa tidak. Tapi harus menyerahkan waktu libur secara wajib? Itu sangat rumit. Semua orang berhak atas setidaknya sebulan libur. Banyak pemain di turnamen itu tidak akan mendapatkannya," jelasnya.

Raphinha menyoroti jadwal padat klub-klub besar, seperti PSG yang akan langsung menghadapi Tottenham Hotspur dalam laga Piala Super pada 13 Agustus kurang dari sebulan setelah final Piala Dunia Antarklub.

"Tidak ada jeda. Dari sudut pandang saya, ini tidak sehat. Kami seolah dipaksa untuk bermain tanpa pilihan. Tidak ada yang bertanya apakah kami bersedia," ujar Raphinha.

Raphinha yang tidak ambil bagian di ajang tersebut, menyuarakan kekhawatiran banyak pemain atas jadwal pertandingan yang kian padat. Ia menyebut bahwa sepak bola tetaplah pekerjaan, dan seperti pekerjaan lainnya, membutuhkan waktu untuk istirahat demi menjaga kesehatan fisik dan mental.

"Sepak bola adalah pekerjaan, dan kami butuh jeda untuk mengisi ulang energi. Tidak mungkin terus bermain dengan intensitas tinggi tanpa istirahat," lanjutnya.

Sementara klub-klub seperti Real Madrid, Manchester City, dan Flamengo berlaga di turnamen ini, Raphinha memilih menyuarakan suara yang kerap diabaikan kesejahteraan pemain.

Menurutnya, ambisi dan hiburan seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mengorbankan hak dasar atlet.

"Libur itu bukan kemewahan. Itu kebutuhan," pungkasnya.

Pernyataan Raphinha ini bisa jadi pemicu diskusi yang lebih luas di dunia sepak bola soal batas kewajaran beban kompetisi.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore