Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Mei 2025 | 15.36 WIB

Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta Tak Masuk Daftar Lisensi AFC Tanpa Catatan, Bagaimana Dampaknya?

ILUSTRASI: AFC

JawaPos.com - Lisensi klub menjadi syarat mutlak bagi klub sepak bola profesional untuk dapat tampil di kompetisi regional Asia, termasuk di bawah naungan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Maka dari itu, ketika PT Liga Indonesia Baru (LIB) mengumumkan hasil siklus lisensi klub untuk musim 2024/2025, perhatian publik langsung tertuju pada dua nama besar Liga 1: Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta.

Keduanya, meskipun tetap dinyatakan lolos, tidak meraih status 'granted' secara penuh. Hal ini menjadi sinyal penting yang bisa berdampak pada kesiapan mereka jika ingin berlaga di level Asia, sekaligus cerminan bahwa masih ada hal-hal mendasar yang perlu diperbaiki oleh kedua klub kebanggaan ini.

Dalam konferensi pers yang digelar di kantor pusat LIB, Jakarta (Rabu, 7/5), diumumkan bahwa sebanyak 18 klub Liga 1 dinyatakan lulus lisensi. Namun hanya enam klub yang mendapatkan status 'granted' tanpa catatan, yakni PSS Sleman, Borneo FC Samarinda, Persib Bandung, Persita Tangerang, Persik Kediri, dan Dewa United FC.

Sementara Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta termasuk dalam 12 klub yang mendapatkan status 'granted with sanction', artinya mereka lolos lisensi tetapi masih memiliki beberapa catatan perbaikan. Catatan tersebut umumnya berkaitan dengan dokumen administratif serta pemenuhan standar pada sektor pelatih dan manajemen.

"Musim ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, seluruh klub Liga 1 berhasil lolos lisensi, dengan enam klub berstatus granted penuh," ujar Ferry Paulus, Direktur Utama LIB.

Ketua Komite Club Licensing 2024/25, Essy Asiah, menambahkan bahwa proses lisensi tahun ini berjalan ketat dan penuh pendampingan selama hampir lima bulan. "Semua aspek ini kami nilai secara ketat bersama tim ahli, dan hasilnya sangat menggembirakan. Terjadi lonjakan pemenuhan aspek yang luar biasa dibanding musim sebelumnya," ucap Essy.

Aspek yang dinilai dalam lisensi klub mencakup lima bidang utama: kriteria olahraga, infrastruktur, personel dan administrasi, hukum, dan keuangan.

Berikut capaian masing-masing aspek:

Sporting: 80%
Infrastructure: 100%
Personnel & Administration: 100%
Legal: 100%
Financial: 63%

Catatan paling mencolok datang dari aspek keuangan, yang menunjukkan masih adanya ruang perbaikan cukup besar. Meski begitu, pencapaian di infrastruktur, administrasi, dan legal sudah sepenuhnya terpenuhi.

Selain Liga 1, penilaian juga dilakukan pada klub-klub Liga 2. Dari 26 peserta, hanya empat tim yang memenuhi semua syarat: PSIM Yogyakarta, Bhayangkara Presisi FC, Persijap Jepara, dan Deltras FC. "Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kami ke depan, agar semua klub di level ini bisa mengikuti jejak Liga 1," kata Essy.

Bagi klub besar seperti Persebaya dan Persija, status 'granted with sanction' tentu menjadi sorotan. Di tengah tuntutan profesionalisme, capaian ini menunjukkan bahwa walau secara keseluruhan layak, ada aspek fundamental yang belum optimal.

Jika mereka ingin ambil bagian di kompetisi seperti AFC Champions League 2 atau AFC Challenge League, perbaikan harus dilakukan secara serius dan sistematis.

Dengan dinamika seperti ini, lisensi bukan sekadar formalitas, tapi cerminan komitmen klub terhadap standar internasional. Jika Persebaya dan Persija tak segera memperbaiki catatan mereka, bukan tidak mungkin peluang tampil di kompetisi Asia bisa lepas dari genggaman.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore