
Photo
BAGI Prancis, Michel Platini di tahun 1984 bukan cuma pemain sepak bola. Dia melebihi manusia biasa. Platini adalah dewa.
Tim Nasional Prancis cukup lama dianggap tidak serius oleh publik Eropa. Sudah 20 tahun, Les Bleus gagal menembus Euro. Oleh karena itulah, ketika Prancis terpilih sebagai tuan rumah pada 1984, tak banyak yang menjagokan mereka menjadi kampiun.
Orang-orang lebih memfavoritkan juara bertahan dan finalis Piala Dunia 1982 Jerman Barat. Lothar Matthaeus dan Rudi Voeller adalah mesin canggih yang bakal menggilas siapapun, penghalang langkah mereka.
Dan ketika Jerman Barat tersungkur di penyisihan grup, Prancis malah tak terbendung. Sang Ayam Jantan Galia melabrak semua musuh dengan menyapu bersih kemenangan mulai dari babak penyisihan sampai final!
Platini sang kapten tim, adalah inspirator terbesar tim Prancis. Dalam lima pertandingan, Platini yang ketika itu berusia 29 tahun, mencetak sembilan gol. Itu termasuk dua kali hattrick di penyisihan. Lalu satu gol kemenangan pada perpanjangan waktu untuk menyingkirkan Portugal di semifinal. Serta menceploskan satu dari dua gol yang membekap Spanyol pada partai final.
Bersama Alain Giresse, Jean Tigana, dan Luis Fernandez, Platini membentuk kuartet lini tengah yang tidak hanya luar biasa solid, tetapi juga bermain sangat indah. Publik Prancis, dengan kecintaan yang murni, menamai barisan gelandang idola mereka dengan nama carre magique. Sebuah kotak ajaib.
Selain membawa Prancis menjadi kampiun Euro, pada tahun yang sama, Platini juga mengantarkan Juventus meraih gelar Serie A dan Piala Winners. Platini melengkapi semua kemegahannya dengan gelar individu paling penting, Ballon d’Or.
Penggemar sepak bola yang sekarang berusia 40 tahun ke atas, kemungkinan besar sangat akrab dengan julukan Le Roi. Sebuah predikat yang menggambarkan bahwa pemiliknya adalah raja terbesar sepak bola dunia. Platini tidak hanya pemain berskill tinggi. Dia juga playmaker yang cepat, serba bisa, elegan, dan sangat jenius. Bonusnya, Platini merupakan maestro bola-bola mati.
Gagal menjadi pelatih, Platini banting setir menuju jalan administrasi. Dia bergabung dalam organizing committee Piala Dunia 1998 Prancis. Nama Platini kembali harum. Dia tidak hanya menjadikan kejuaraan tersebut salah satu yang tersukses sepanjang masa. Sosoknya juga terangkat karena Timnas Prancis menjadi juara dunia untuk kali pertama dalam sejarah.
Sejak 2002, karir Platini di deret birokrasi terus merangkak naik saat dia terpilih menjadi anggota komite eksekutif UEFA dan FIFA. Platini mungkin tidak sadar, bahwa sejak saat itulah, dia resmi terjerumus masuk ke dalam organisasi bobrok yang dilambari dengan bau anyir korupsi.
***
Sore tadi, kabar sangat mengejutkan datang dari Prancis. Platini ditangkap oleh polisi dengan tudingan serius; melakukan korupsi di seputar terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.
Situs berita Prancis, Mediapart, adalah yang pertama mengabarkan warta tersebut. Platini dibekuk di Nanterre, wilayah pinggiran bagian barat Paris. Pihak kepolisian dan komite antikorupsi Prancis (OCLCIFF) belum memberikan keterangan resmi terkait penangkapan Platini. Sumber Mediapart menyebutkan bahwa investigasi sedang berlangsung.
Platini terjerat kasus korupsi saat masih menjabat sebagai Presiden UEFA. Pada 2007, dia terpilih menjadi orang nomor satu di Federasi Sepak Bola Eropa, mengalahkan incumbent Lennart Johansson dengan selisih empat suara.
Platini menjabat sampai 2015. Namun, saat setelah masa kepemimpinannya rampung, Komite Etik FIFA menuding Platini menerima ’’uang kesetiaan’’ sebesar USD 2 juta (Rp 28, 621 miliar) dari mantan Presiden FIFA Sepp Blatter.
Dari hasil investigasi yang digelar pemerintah Swiss, duit tersebut diberikan agar Platini tidak mempermasalahkan apapun tindakan Blatter sebagai Presiden FIFA dalam periode 1999 sampai 2002.
Baik Platini mapupun Blatter dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukuman pelarangan aktif terlibat dalam sepak bola selama delapan tahun sampai 2023. Belakangan, hukuman untuk Platini dikepras sampai Oktober 2019 atas perintah Pengadilan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS).
Jauh, sebelum penangkapannya kemarin, Platini berkali-kali memicu kontroversi. Namanya pernah masuk dalam Panama Papers. Platini juga diduga terlibat dalam skandal sepak bola Yunani. Dan yang paling terkenal, Platini mengadakan pertemuan rahasia pada November 2010, atau sembilan hari sebelum Qatar resmi terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.
Saat itu, mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mengundang Putra Mahkota Qatar Tamim bin Hamad al-Thani dalam sebuah makan siang di Elysee Hotel, Paris. Platini yang saat itu memegang dua jabatan dobel, sebagai Presiden UEFA sekaligus wakil presiden FIFA, hadir dalam pertemuan tersebut.
Inti perjumpaan tersebut adalah pembicaraan mengenai akuisisi Paris Saint-Germain oleh pemerintah Qatar di bawah bendera Qatar Sports Investments (QSI). Namun, sejumlah media Prancis mengabarkan bahwa ada agenda jahat dalam rapat tersebut. Yakni upaya konspirasi busuk untuk menjadikan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.
Platini tentu saja menyanggah kabar tersebut. ’’Saya sudah berniat memilih Qatar sebelum makan siang itu,'' kata Platini kepada Surat Kabar Inggris, Daily Telegraph, waktu itu. ''Saya akan menemui Nicolas Sarkozy dan mengatakan kepada dia tentang keputusan saya. Saya tidak tahu bahwa pihak Qatar juga berada di sana!,’’ tambahnya.
Pada 2 Desember 2010 di Zurich, Swiss, Qatar akhirnya terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Negeri terkaya di dunia versi IMF tersebut mengalahkan Amerika Serikat pada ronde keempat dengan kemenangan 14 berbanding 8 suara.
Qatar memang sudah menang. Namun, desas-desus miring dan syak wasangka malah makin menguat. Karena banyaknya fakta yang bengkok, Komite Etik FIFA lantas melakukan investigasi internal. Hasilnya, sebanyak 16 anggota Exco FIFA dinyatakan bersalah karena korupsi. Mereka diduga menerima uang suap sebagai kompensasi untuk meloloskan Qatar.
Penangkapan hari ini, membuat nama Platini semakin rusak. Inovasi-inovasi pentingnya sebagai Presiden UEFA rasanya gampang dilupakan orang. Platini memang secara aneh dan kepala batu, menolak goal-line technology. Tetapi dialah yang meningkatkan jumlah peserta Euro dari 16 menjadi 24. Ide ambisiusnya untuk menggelar kejuaraan Pan-European 2020 layak dipuji. Begitu pula dengan niat kerasnya untuk memudahkan jalan tim-tim dari negara kecil untuk mengikuti Liga Champions. Namun, kebijakan Platini yang paling legendaris dan sukses menciptakan teror pada klub-klub kaya baru Eropa adalah Financial Fair Play.
Orang juga mungkin sudah lupa, bahwa sedikit lagi, Platini akan menjadi presiden FIFA. Bukan pria Swiss-Italia penggemar Inter Milan bernama Gianni Infantino.
Meski remuk dan terlupakan, namun bagi pencinta Les Bleus, Michel Platini tetaplah seorang pahlawan terbesar. Kelincahan kaki, visi bermain, gayanya yang anggun, serta umpan-umpannya yang memikat, akan terus mengendap dalam ingatan kolektif rakyat Prancis. Selamanya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
