
RATOH JAROE: Para penari Kembang Renjana bersama Nawal Abdina setelah pentas di Kemensos, Jakarta, pada 19 Oktober 2022. (Foto: Dokumentasi Kembang Renjana)
Popularitas Kembang Renjana membuat Kepala SMALB Karya Mulia Sukamto bangga. Jauh sebelum Nawal Abdina menggagas ekstrakurikuler tari di sekolah tersebut, dialah yang meletakkan fondasinya. Yakni mengajarkan tari dalam pelajaran seni budaya. Inisiatif itu dia mulai pada 1993.
Harapan Sukamto agar sekolahnya punya tim tari baru terwujud pada 2018 saat Dina (sapaan Nawal Abdina) bergabung sebagai pengajar di sana. Ketika itulah dia yakin impiannya akan tergapai. Tahun ini semuanya terwujud.
Sukamto mengatakan bahwa respons publik terhadap Kembang Renjana memang menjadi lebih baik setelah pentas di Mojokerto viral. Dulu, tiap kali tampil, fee dari pengundang tidak banyak. Biasanya hanya cukup untuk transportasi, biaya make-up, sewa kostum, dan dibagikan ke para penari serta anggota tim lainnya. Kini semuanya menjadi lebih layak.
Untuk mendandani para penari, sekolah mengerahkan tim make-up yang terdiri dari guru-guru yang juga tunarungu. Sedangkan untuk mengenakan kostum, para penari biasanya dibantu orang tua siswa. ”Mereka ini tidak terlalu peduli dapat fee berapa. Seberapa pun tetap bahagia asal bisa tampil,” terangnya Jumat (19/7).
Kembang Renjana, menurut Sukamto, memang berfokus pada jam terbang. Yang terpenting, anak-anak berani tampil sehingga kemampuan mereka terasah. Kedisiplinan saat latihan dan kekompakan mempersiapkan pementasan juga menjadi bagian yang penting dalam perjalanan Kembang Renjana.
”Kami buktikan dulu ke masyarakat bahwa anak-anak kami ini mampu. Ibaratnya bersakit-sakit dahulu, sukses kemudian,” jelasnya.
Seiring meningkatnya jam terbang, Kembang Renjana pun bisa lebih banyak menyisihkan honor untuk kepentingan tim. Di antaranya untuk membeli kostum dan aksesori. Namun, tetap saja ada yang harus disewa. Sebab, tarian tradisional di Indonesia sangat banyak dan beragam. Kostum dan aksesorinya pun berbeda-beda.
Setelah viral bulan lalu, Kembang Renjana kebanjiran undangan. Termasuk diminta tampil dalam acara ngunduh mantu pejabat Pemkot Surabaya. Sukamto mengakui bahwa para penari Kembang Renjana senang sekali karena mendapatkan uang saku tambahan di luar kesepakatan.
Kini Sukamto berharap Kembang Renjana bisa berkembang dengan lebih baik dan dikelola secara profesional. Jika memungkinkan, Sukamto ingin harapannya itu terkabul sebelum dirinya pensiun. Dia ingin menyaksikan para penari Kembang Renjana menuai hasil kerja keras mereka. Sebab, mereka tidak hanya mengharumkan nama sekolah dan nama Surabaya, tapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang. (sha/c9/hep)
