
SERIUS: Salah satu adegan film saat tokoh Piko yang diperankan Iqbal Ramadhan sedang mengutak-atik lukisan. (DOK. MENCURI RADEN SALEH)
Ketika Mencuri Raden Saleh tayang di bioskop, ada dua kata kunci yang ikut mencuat di mesin pencarian Google. Yakni, Penangkapan Pangeran Diponegoro dan Raden Saleh. Bukti bahwa awareness masyarakat Indonesia terhadap seni rupa bisa dibangun dengan stimulus yang dikemas baik.
---
PADA 22 Oktober lalu, Festival Film Indonesia (FFI) 2022 mengumumkan daftar nominasinya. Dan, film yang bertema seni rupa Indonesia Mencuri Raden Saleh karya sutradara Angga Dwimas Sasongko mendapatkan sembilan nominasi dalam penghargaan FFI 2022.
Dalam konferensi pers film itu, Angga menyatakan tak cuma ingin menuturkan kisah pencurian besar-besaran. Angga juga punya misi memperkenalkan maestro seni lukis tanah air kepada penonton muda. Khususnya Raden Saleh dan karya ikoniknya, Penangkapan Pangeran Diponegoro.
Berbicara soal pencurian lukisan Raden Saleh, hal itu sungguh pernah terjadi. Lukisan Raden Saleh berjudul Musafir di Padang Pasir yang ada di Museum Dullah Solo dicuri pada 1990 atau 32 tahun yang lalu. Lukisan tersebut ’’digondol’’ orang yang menyaru jadi pengunjung museum. Untung, lukisan yang dibuat pada 1825 itu berhasil kembali ke Museum Dullah beberapa saat kemudian.
Photo
SARAT SEJARAH: Lukisan Musafir di Padang Pasir karya Raden Saleh ini pernah dicuri 32 tahun lalu. Untungnya, lukisan itu bisa kembali. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)
Nah, misi yang dibawa Angga dan film itu dinilai hampir sempurna oleh kurator konsultan Istana Kepresidenan Republik Indonesia sekaligus dosen ISI Jogja Mikke Susanto. ’’Jadi, ini sebenarnya simbiosis mutualisme seni (rupa) dengan film,” ucapnya. Mikke menilai ada beberapa dampak langsung dari film tersebut dalam membangun kesadaran terhadap dunia seni tanah air.
Pertama, Mencuri Raden Saleh menjadi pengingat kolektif publik akan sosok Raden Saleh. Selanjutnya, film tersebut sekaligus berfungsi sebagai ’’lanjutan kisah’’ tentang Raden Saleh yang sudah dilakukan lewat pameran. Secara khusus, keberadaan film itu akan menjadi bagian dari sejarah lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.
’’Patut diingat, film ini juga akan menaikkan nilai aset. Enggak cuma secara estetik, tapi juga secara ekonomi di masa depan,” lanjut Mikke. Menurut dia, nilai lukisan tersebut –yang kini ada di angka Rp 250 miliar– berpotensi naik. Dia menjelaskan, film itu juga memotret banyak realitas di industri seni yang menarik dan memancing diskusi.
Mikke menuturkan, cerita tentang tokoh utama Piko –mahasiswa seni sekaligus pelukis yang diperankan Iqbaal Ramadhan– bisa menjadi topik diskusi seputar profesi seniman lukis. ’’Saya harap, banyak orang tua yang tergugah untuk mendorong anaknya jadi seniman,” kata Mikke.
Dia juga mengapresiasi Mencuri Raden Saleh yang tak hanya berfokus pada heist. Ada kisah tentang kurator, proses pemindahan lukisan yang dikawal ketat, hingga pemalsuan karya (forgery). Mikke menuturkan, meski secara tema tak bisa digugat, ada detail yang justru lebih dramatis di kehidupan nyata ketimbang di film.
Misalnya, proses pemindahan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro dari Istana Negara ke Galeri Nasional. Mikke mengungkapkan, pemindahan itu memang terjadi. Tapi, dari Gedung Agung, salah satu istana kepresidenan di Jogjakarta. ’’Proses perpindahannya dengan truk yang sangat besar, lebih besar dari di film, dan dikawal voorijder. Perjalanan selama 8 jam itu dipantau penuh lewat kamera pengawas,” terangnya.
Terlepas dari dramatisasi cerita, Mencuri Raden Saleh dianggap Mikke sebagai pengenalan yang baik akan industri seni. ’’Dan yang terpenting, penonton paham bahwa kita punya legenda dan harta nasional. Harapan saya, film ini juga bisa memancing munculnya film yang mengambil inspirasi dari seniman kita,” jelas Mikke.
Mikke pun menaruh hormat pada Angga, sutradara sekaligus co-writer Mencuri Raden Saleh. Penceritaan Raden Saleh dan Penangkapan Pangeran Diponegoro dalam film dianggapnya berpotensi jadi ’’jembatan” budaya antara seniman dan penikmat seni. ’’Film ini bisa dan layak dipasarkan di tempat-tempat yang disinggahi Raden Saleh, seperti Belanda atau Jerman. Inilah bentuk ekspor budaya,” papar Mikke.
Photo
ASET BANGSA: Beragam lukisan yang dipamerkan di Museum Dullah Solo. Selain karya Dullah, ada karya pelukis lain seperti S. Soedjojono dan Raden Saleh yang dipasang. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
