Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 November 2025 | 20.06 WIB

FFI, Asosiasi Film dan Nominasi

ILUSTRASI. (JAWA POS)

Tahun 2017 saya pernah menulis di sebuah harian nasional mengenai permasalahan Festival Film Indonesia (FFI)dengan judul FFI Mau ke Mana? Di tulisan itu saya mengkritik sistem total voting dalam penjurian dan mengusulkan adanya diskusi dan berargumentasi dalam menentukan daftar nominasi film dan pemenangnya. 

DELAPAN tahun ber­la­lu, FFI men­coba me­la­ku­kan per­baik­an meski di sana-sini ma­sih ada kekurangan dan celah yang harus diperbaiki. Dalam hal sistem penjurian, telah terjadi perubahan yang baik secara signifikan dari sistem total voting ala Oscars berubah menjadi sistem diskusi dan berargumentasi. Sistem baru ini secara teori seharusnya dapat menitikberatkan pada kualitas si­ne­matik dan bobot sebuah film tatkala menyeleksi film-film yang dinominasikan serta penentuan pemenang film pada setiap kategori. Ke­nya­ta­annya, pada pelaksanaannya di tahapan seleksi nominasi belum sesuai dengan semes­ti­nya. Beberapa film yang se­patutnya sangat layak masuk nominasi ke dalam kategori tertentu luput dari perhatian. 

Film Pangku karya Reza Rahadian yang telah meraih em­pat penghargaan di fest­ival film Busan, Korea Se­latan, tapi tak mendapatkan nominasi sutradara terbaik di FFI tahun ini. Film Tale of the Land (TOTL) karya Loeloe Hendra yang sangat puitik dan penuh kedalaman pun tak masuk nominasi film terbaik FFI serta tak masuk nominasi di sutradara ter­baik. Perlu diingat, film TOTL masuk seleksi resmi kom­petisi di Busan International Film Festival pada bagian New Currents, yang sangat bergeng­si di Asia. Dalam seja­rahnya, tak lebih dari sepuluh sutradara Indonesia yang film­nya mampu tembus di ba­gian New Currents Busan. 

Film animasi Jumbo justru ma­suk nominasi kategori sutradara terbaik bersaing dengan empat film live ac­tion. Menyutradarai film animasi dengan live action adalah dua hal berbeda, baik secara teknis maupun konseptual. Meskipun de­mi­kian, ada sedikit kesamaan di sebagian kecil elemen film style (mise en scene/ peng­adeganan, sinematografi, pe­nyuntingan, dan tata suara). Tetapi, instrumen yang di­gunakan sutradara untuk mewujudkan skenario men­jadi sebuah film lebih banyak perbedaannya ketimbang kesamaannya. 

Perbedaan Animasi dan Live Action

Sebuah film terbentuk dari adanya naratif (cerita) dan film style (gaya). Dalam mise en scene terdapat unsur ak­ting pemain, tata artistik, pencahayaan, kostum, tata rias, hingga blocking pemain. Di elemen mise en scene dan sinematografi, instrumen penyutradaraan antara live action dan animasi sangat berbeda. Pada animasi, mise en scene menjadikan tekno­logi komputer sebagai instrumen untuk mewujudkan keinginan sutradara terha­dap cerita, sementara live action mengandalkan manusia (aktor, penata artistik, penata kostum dan penata rias, hingga penata cahaya). 

Dalam animasi, me­nyu­tra­darai pemain adalah me­nyutradarai orang yang mengoperasikan teknologi komputer, bukan langsung menyutradarai manusia sebagai aktor. Ini sangat berbeda dengan menyutradarai manusia sebagai aktor dalam live action. Tidak pernah terjadi di festival-festival film besar di dunia se­perti Oscars dan Cannes Film Festival, di kategori sutradara film terbaik, film animasi dikompetisikan dengan film live action.

Film animasi UP (2009) men­da­patkan nominasi film terbaik Oscars dan tiga nominasi lainnya, dan film animasi Beauty and the Beast (1991) masuk nominasi film terbaik, animasi terbaik, serta tiga nominasi teknis lainnya, tetapi keduanya tidak di­ma­­sukkan nominasi sutra­dara terbaik. 

Pengecualian pada Berlin Film Festival yang pernah me­menangkan Wes An­der­son sebagai sutradara film terbaik pada film animasi Isle of Dogs (2018), dan ini sangat jarang terjadi. Tentu, Berlin memiliki argumentasi sendiri soal ini. Dalam se­ja­rahnya, Berlin sangat mempertimbangan isu sosial po­li­tik global dalam menye­leksi dan memenangkan film-film di festivalnya. Perlu dicatat, Berlin pernah me­me­nangkan filmnya Jafar Panahi berjudul Taxi (2015) sebagai film terbaik ber­tepatan saat Panahi dihukum tahanan rumah oleh pe­merintah Iran. 

Sementara itu, empat aso­siasi film, IFDC (asosiasi sutradara), Aprofi (asosiasi produser), APFI (asosiasi perusahaan film), dan Pilar (asosiasi penulis skenario) yang menominasikan su­tradara terbaik untuk Jumbo, publik tidak tahu apa ar­gu­men­tasinya. Bahkan saya se­bagai juri pun tidak menge­tahuinya. Apakah hanya karena Jumbo mencetak rekor jumlah penonton terbanyak dalam sejarah sinema In­do­nesia? Atau karena apa? 

Penentuan Nomine Bermasalah

Hal tersebut menunjukkan bahwa sistem penjurian FFI dalam tahapan penentuan nomine oleh asosiasi film menyisakan persoalan. Ma­salah lain, misalnya, jum­lah nomine pada beberapa kategori tidak sera­gam. Ka­tegori penyuntingan gambar ada enam nomine, sementara pada kategori pemeran pendukung pe­rempuan dan pria hanya ada empat no­mine, dan ka­tegori lainnya ada lima nomine. Apakah untuk kategori yang hanya ada empat nomine sebab tak ada lagi yang layak untuk dino­mi­nasikan? Saya pun tak tahu persis apa argumentasinya dan bagaimana per­hi­tungan­nya hingga terjadi demikian. Sebagai juri akhir, saya hanya menilai dan me­nentukan pe­me­nangnya melalui dis­kusi dan argu­men­tasi dengan delapan ju­ri lainnya dari daftar no­minasi yang telah ditentukan sebelumnya. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore