ILUSTRASI. (JAWA POS)
Tahun 2017 saya pernah menulis di sebuah harian nasional mengenai permasalahan Festival Film Indonesia (FFI)dengan judul FFI Mau ke Mana? Di tulisan itu saya mengkritik sistem total voting dalam penjurian dan mengusulkan adanya diskusi dan berargumentasi dalam menentukan daftar nominasi film dan pemenangnya.
DELAPAN tahun berlalu, FFI mencoba melakukan perbaikan meski di sana-sini masih ada kekurangan dan celah yang harus diperbaiki. Dalam hal sistem penjurian, telah terjadi perubahan yang baik secara signifikan dari sistem total voting ala Oscars berubah menjadi sistem diskusi dan berargumentasi. Sistem baru ini secara teori seharusnya dapat menitikberatkan pada kualitas sinematik dan bobot sebuah film tatkala menyeleksi film-film yang dinominasikan serta penentuan pemenang film pada setiap kategori. Kenyataannya, pada pelaksanaannya di tahapan seleksi nominasi belum sesuai dengan semestinya. Beberapa film yang sepatutnya sangat layak masuk nominasi ke dalam kategori tertentu luput dari perhatian.
Film Pangku karya Reza Rahadian yang telah meraih empat penghargaan di festival film Busan, Korea Selatan, tapi tak mendapatkan nominasi sutradara terbaik di FFI tahun ini. Film Tale of the Land (TOTL) karya Loeloe Hendra yang sangat puitik dan penuh kedalaman pun tak masuk nominasi film terbaik FFI serta tak masuk nominasi di sutradara terbaik. Perlu diingat, film TOTL masuk seleksi resmi kompetisi di Busan International Film Festival pada bagian New Currents, yang sangat bergengsi di Asia. Dalam sejarahnya, tak lebih dari sepuluh sutradara Indonesia yang filmnya mampu tembus di bagian New Currents Busan.
Film animasi Jumbo justru masuk nominasi kategori sutradara terbaik bersaing dengan empat film live action. Menyutradarai film animasi dengan live action adalah dua hal berbeda, baik secara teknis maupun konseptual. Meskipun demikian, ada sedikit kesamaan di sebagian kecil elemen film style (mise en scene/ pengadeganan, sinematografi, penyuntingan, dan tata suara). Tetapi, instrumen yang digunakan sutradara untuk mewujudkan skenario menjadi sebuah film lebih banyak perbedaannya ketimbang kesamaannya.
Baca Juga: Sekata Tak Serupa
Sebuah film terbentuk dari adanya naratif (cerita) dan film style (gaya). Dalam mise en scene terdapat unsur akting pemain, tata artistik, pencahayaan, kostum, tata rias, hingga blocking pemain. Di elemen mise en scene dan sinematografi, instrumen penyutradaraan antara live action dan animasi sangat berbeda. Pada animasi, mise en scene menjadikan teknologi komputer sebagai instrumen untuk mewujudkan keinginan sutradara terhadap cerita, sementara live action mengandalkan manusia (aktor, penata artistik, penata kostum dan penata rias, hingga penata cahaya).
Dalam animasi, menyutradarai pemain adalah menyutradarai orang yang mengoperasikan teknologi komputer, bukan langsung menyutradarai manusia sebagai aktor. Ini sangat berbeda dengan menyutradarai manusia sebagai aktor dalam live action. Tidak pernah terjadi di festival-festival film besar di dunia seperti Oscars dan Cannes Film Festival, di kategori sutradara film terbaik, film animasi dikompetisikan dengan film live action.
Film animasi UP (2009) mendapatkan nominasi film terbaik Oscars dan tiga nominasi lainnya, dan film animasi Beauty and the Beast (1991) masuk nominasi film terbaik, animasi terbaik, serta tiga nominasi teknis lainnya, tetapi keduanya tidak dimasukkan nominasi sutradara terbaik.
Pengecualian pada Berlin Film Festival yang pernah memenangkan Wes Anderson sebagai sutradara film terbaik pada film animasi Isle of Dogs (2018), dan ini sangat jarang terjadi. Tentu, Berlin memiliki argumentasi sendiri soal ini. Dalam sejarahnya, Berlin sangat mempertimbangan isu sosial politik global dalam menyeleksi dan memenangkan film-film di festivalnya. Perlu dicatat, Berlin pernah memenangkan filmnya Jafar Panahi berjudul Taxi (2015) sebagai film terbaik bertepatan saat Panahi dihukum tahanan rumah oleh pemerintah Iran.
Sementara itu, empat asosiasi film, IFDC (asosiasi sutradara), Aprofi (asosiasi produser), APFI (asosiasi perusahaan film), dan Pilar (asosiasi penulis skenario) yang menominasikan sutradara terbaik untuk Jumbo, publik tidak tahu apa argumentasinya. Bahkan saya sebagai juri pun tidak mengetahuinya. Apakah hanya karena Jumbo mencetak rekor jumlah penonton terbanyak dalam sejarah sinema Indonesia? Atau karena apa?
Hal tersebut menunjukkan bahwa sistem penjurian FFI dalam tahapan penentuan nomine oleh asosiasi film menyisakan persoalan. Masalah lain, misalnya, jumlah nomine pada beberapa kategori tidak seragam. Kategori penyuntingan gambar ada enam nomine, sementara pada kategori pemeran pendukung perempuan dan pria hanya ada empat nomine, dan kategori lainnya ada lima nomine. Apakah untuk kategori yang hanya ada empat nomine sebab tak ada lagi yang layak untuk dinominasikan? Saya pun tak tahu persis apa argumentasinya dan bagaimana perhitungannya hingga terjadi demikian. Sebagai juri akhir, saya hanya menilai dan menentukan pemenangnya melalui diskusi dan argumentasi dengan delapan juri lainnya dari daftar nominasi yang telah ditentukan sebelumnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
