Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Februari 2020 | 02.07 WIB

Kajegen, Tradisi Komunal Pengejawantahan Budaya Gotong Royong

HASIL GOTONG ROYONG: Rumah milik warga Selobanteng ini dikerjakan dengan cara gotong royong lewat tradisi kajegen. (IZZUL MUTAQIN/JAWA POS RADAR BANYUWANGI) - Image

HASIL GOTONG ROYONG: Rumah milik warga Selobanteng ini dikerjakan dengan cara gotong royong lewat tradisi kajegen. (IZZUL MUTAQIN/JAWA POS RADAR BANYUWANGI)

Masyarakat Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Situbondo, membangun rumah dan memanen jagung dengan cara bergotong royong. Warga yang membantu mendapatkan ketan dan bubur manis.

---

PERJALANAN menuju Desa Selobanteng cukup sulit. Terjal dan harus melewati hutan jati.

Jarak jalan raya ke desa yang terletak di atas bukit itu sekitar 4 kilometer. Sama sekali tidak terlihat lalu-lalang manusia di sepanjang jalan menuju Selobanteng. Yang ada hanyalah gerombolan anjing liar.

Lima belas menit kemudian baru sampai di gapura bertulis Desa Selobanteng. Sejak itulah, mulai tampak aktivitas manusia. Ada yang berjualan, memotong kayu, hingga bersih-bersih halaman. Tepat di sebuah gang kecil, terlihat sejumlah pria berkumpul. Mereka bahu-membahu membangun rumah semipermanen milik salah seorang warga.

Sukardi, warga setempat, menuturkan, aktivitas membangun rumah di Desa Selobanteng memang selalu mengandalkan gotong royong. Budaya tersebut dikenal dengan istilah kajegen. Artinya, mengajak atau bersama-sama. ’’Kita memang perlu gotong royong agar pekerjaan lebih mudah dilakukan. Selain itu, juga bisa selesai dengan cepat,’’ ungkapnya.

Menurut Sukardi, dengan cara gotong royong, warga yang hendak membangun rumah juga tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar tukang. ’’Mungkin pemilik rumah hanya perlu membuat nasi ketan dan bubur manis. Kemudian diberikan kepada warga yang ikut membantu. Sebab, bubur dan ketan adalah syarat yang harus ada dalam budaya kajegen,’’ tuturnya.

Ada filosofi tersendiri dari nasi ketan dan bubur manis tersebut. ’’Jadi, ketan itu melambangkan keawetan. Sementara bubur manis melambangkan kebahagiaan. Jadi, rumah yang dibangun itu diharapkan bisa awet. Dan keluarga yang ada di dalamnya bahagia,’’ tuturnya.

Selain membangun rumah, budaya kajegen sering dilakukan dalam memanen jagung. ’’Jadi, warga berbondong-bondong ke lahan jagung untuk membawa hasil panen ke rumah pemiliknya. Setelah itu, warga yang membantu diberi ketan dan bubur manis. Dengan harapan, hasil panen yang didapatkan bisa awet dan membawa kebahagiaan,’’ tuturnya.

Selain itu, pemilik jagung biasanya menyumbangkan beberapa jagung miliknya kepada perangkat desa. ’’Jadi, pemilik jagung yang sudah panen mengumpulkan jagung-jagungnya di balai desa. Nanti diambil oleh perangkat. Itu adalah sedekah dari pemilik jagung,’’ ucapnya.

Photo

HASIL GOTONG ROYONG: Rumah milik warga Selobanteng ini dikerjakan dengan cara gotong royong lewat tradisi kajegen. (IZZUL MUTAQIN/JAWA POS RADAR BANYUWANGI)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore