Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Februari 2020 | 00.29 WIB

Menikmati Kegetiran Parasite

MOMEN BAHAGIA: Bong Joon-ho (berdiri belakang) bersama para pemeran Parasite menerima trofi dalam 26th Annual Screen Actors Guild Awards di Los Angeles pada 19 Januari. (Jean-Baptise Lacroix/AFP) - Image

MOMEN BAHAGIA: Bong Joon-ho (berdiri belakang) bersama para pemeran Parasite menerima trofi dalam 26th Annual Screen Actors Guild Awards di Los Angeles pada 19 Januari. (Jean-Baptise Lacroix/AFP)

FILM ini jenaka sekaligus menakutkan.” Demikian yang diungkapkan oleh Bong Joon-ho kepada pemirsa The Tonight Show Starring Jimmy Fallon di kanal NBC, yang potongan wawancara tersebut kemudian diunggah di YouTube oleh akun resminya pada 10 Desember 2019.

Fallon tertawa menyambut pernyataan tersebut, diiringi riuh penonton di studio. Fallon menyimpulkan, karya teranyar sutradara Korea Selatan tersebut, Parasite, menyuguhkan kelucuan, kesedihan, dan problematika yang rumit.

Joon-ho merupakan sutradara dari Asia yang belakangan menjadi perbincangan. Pada 2019, film garapannya yang berjudul asli Gisaengchung tersebut meraih Palme d’Or dalam Festival Film Cannes Ke-72. Yang menarik, film yang sukses menggabungkan kelucuan dan ketegangan dengan sarat nilai filosofis itu juga mendapat pujian hadirin, berupa delapan menit standing ovation.

Awal tahun ini pun menjadi pengalaman yang tak kalah sangar bagi para penggawa Parasite. Film mereka memenangi Best Foreign Language Film di Golden Globe Awards dan Cast in a Motion Picture di Screen Actors Guild Awards. Indikasi yang kuat bahwa film itu juga akan naik panggung Oscars pada 7 Februari mendatang.

Apalagi, Parasite sudah mengantongi enam nominasi. Yakni, Best Picture, Best Director, Best Original Screenplay, Best International Film, Best Editing, dan Best Production Design. Parasite tercatat sebagai film Korea Selatan pertama yang mendapat nominasi di Academy Awards atau Oscars. Melihat tren yang ada, Parasite mungkin akan mengekor kesuksesan Life is Beautiful yang pada 1999 meraih tujuh nominasi, lantas membawa tiga Oscar ke Italia, negeri asal karya Roberto Benigni tersebut.

Film, sebagai salah satu media untuk menyampaikan pesan, bisa menjadi representasi dari kehidupan manusia sehari-hari. Data dan informasi faktual dapat diwakilkan melalui media gambar tersebut. Stuart Hall menyebutkan, konsep dan bahasa tertentu bisa membuat orang paham tentang realitas yang lebih kompleks, yang sedang diketengahkan dalam media sinematik (Cultural Identity and Cinematic Representation, 1989).

Untuk mengetahui detail representasi yang tertuang di film, analisis visual bisa dilakukan. Gillian Rose (Visual Methodologies, 2001) membagi ranah kajian visual menjadi tiga, the site of the production (level produksi), the site of image itself (level komposisi pada visual tersebut), dan site of audiencing (level interpretasi varian audiens). Cara yang paling sederhana, menganalisis berdasar komposisi yang ada pada visual tersebut. Sehingga tercetus pemaknaan dan muncul pesan moral dari film itu saat seseorang atau penilai ingin mencari poin representasi di sana.

Sebagai karya seni, Parasite tentu punya pesan moral. Bisa jadi, pesan yang disuguhkan lebih dari satu. Tiap penyimak mungkin saja mengungkapkan pengalaman dan pelajaran yang berbeda-beda. Parasite bukan film komedi murni, meski beberapa adegan mengundang senyum, bahkan tawa.

Salah satu topik yang direpresentasikan adalah ketamakan. Ya, tamak tidak hanya dilakukan oleh para penguasa korup. Tapi juga oleh keluarga miskin, yang saat salah satu anggotanya sudah bisa bekerja kepada keluarga kaya, keinginan agar seluruh anggota keluarga menjadi parasit di keluarga kaya itu menyeruak. Untuk menggapainya, dilakukan segala cara, bahkan dengan menindas sesama kaum miskin.

Tamak adalah sifat manusiawi yang perlu diperangi, sebagaimana termaktub dalam beberapa kitab suci agama samawi. Sebut saja di Alquran yang menyebut kecintaan pada harta duniawi selalu menghantui manusia dan mesti diwaspadai (lihat paling tidak di Al Fajr ayat 20 dan Al Adiyat ayat 8). Juga di Injil, Lukas 12: 13-21, yang bercerita tentang buruknya ketamakan manusia karena sifatnya yang menghancurkan. Ketamakan tidak akan berakhir, kecuali pada kesialan dan kegetiran. Seperti yang terlihat pada para koruptor dan orang-orang tamak yang ada di Parasite.

Film yang masuk nominasi Best Picture dalam Oscars umumnya memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang kuat. Bahkan cenderung merupakan film yang ”berat”. Sehingga, untuk menyimaknya, dibutuhkan stamina dan pikiran yang prima. Sebagai analogi, peraih Best Picture lima tahun terakhir rata-rata tayangan yang ”memeras otak” penonton karena bertempo lambat, berdurasi cukup panjang, dan dilingkupi dialog penuh. Salah satunya Birdman (2015) yang bercerita tentang aktor yang dulu terkenal, lantas merosot popularitasnya. Juga Spotlight (2016) yang berkisah soal pelecehan seksual oleh kaum agamawan, Moonlight (2017) yang mendeskripsikan perjuangan anak Afro-America, The Shape of Water (2018) yang membahas kisah cinta manusia dan ”monster”, serta Green Book (2019) yang menyoal rasisme di Amerika Serikat pada masa silam.

Bagaimana peluang Parasite membawa pulang Oscar pada kategori Best Picture tahun ini, sementara ia juga berhadapan dengan sederet film hebat dan para megabintang Hollywood? Tentu semua nomine punya peluang yang sama. Kalau berdalih bahwa film itu punya kelebihan di aspek kelucuan dan keceriaan yang membalut drama gelapnya, Jojo Rabbit besutan Taika Waititi juga punya aspek itu. Di pihak lain, Parasite menjadi unik karena satu-satunya film yang tidak menggunakan bahasa Inggris dan meledak karena memetik banyak penghargaan internasional sebelum Oscars digelar. (*)




*) Rio F. Rachman, penerima beasiswa 5000 Doktor Kemenag di FISIP Universitas Airlangga Surabaya, dosen Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore