ILUSTRASI
Awal 2023, Menyu tiba kembali. Seorang perempuan tua menyambutnya
dengan satu beliung berkarat. Dan selembar papan lantai perahu.
"Hanya ini yang tersisa," kata si perempuan.
Dan Menyu tahu apa artinya: negara tak cukup meremukkannya lewat
pajak dan aturan, melainkan juga merampas masa lalunya.
Ia ingat, tentu saja. Dua puluh tahun lalu, ketika orang-orang Suku Balik
di kampung sebelah menyelenggarakan balian mulung yang terakhir,
ia tancapkan beliung itu di kebun belakang untuk
menandai tanah yang menyimpan tubuh bapak. Dan ia mengelus
papan perahu itu sebelum mengucap sampai jumpa.
"Aku akan kembali," katanya. "Untuk berlayar ke hulu Sungai Sepaku, memancing dan menanam sayur."
Sesungguhnya, ia tak ingin pergi, waktu itu. Tapi, ia harus. Sebab, utang sewaktu bapak sakit mesti dibayar. Dan di Malaysia, denting ringgit memanggil-manggil.
Dan ia kembali. Awal 2023. Untuk tahu bahwa tak ada lagi yang tersisa. "Siapa yang menduga?" perempuan itu berujar lemah. ’’Ibu kota negara dipindahkan dan kebun kita yang tua mesti menanggungnya. Sungai kita yang sederhana mesti dibendung dan dipecah. Lalu tak ada lagi perahu yang berlayar. Tak ada lagi ikan yang bisa dipancing. Tak ada lagi air bening yang bisa diangsu. Tak ada lagi..."
"Tak ada lagi makam leluhur yang bisa diziarahi," Menyu memotong. "Tak ada lagi masa lalu yang tersisa."
Ia masih ingin meratap sesungguhnya.
Tapi, ia menahan diri.
"Setelah tajuk sawit mengikis rimbun hutan,
setelah tambang batu bara menipiskan kulit tanah,
kenapa orang-orang dari Jawa masih juga merasa perlu menghabisi
sejarah kita?" isak si perempuan, mengatakan apa yang Menyu tahan.
Dan Menyu menatap Sungai Sepaku –sisa-sisa Sungai Sepaku.
"Bersabarlah, Mamak." Itu yang akhirnya ia ucapkan. "Bertahanlah."
Dan Menyu memejamkan mata. Ia berharap, ibu kota adalah cerita
yang tak pernah benar-benar nyata. Atau, cerita murung yang urung jadi.
Tak akan benar-benar jadi.
---
Hari itu mungkin seorang turis melongok dari tepi jalan, dan
seorang busu yang optimis berkata dekat kupingnya, "Lihat, Mister,
lihat bagaimana keajaiban bekerja di sini. Di luar nalar dan
logikamu."
Tapi, mungkin saja tak ada turis dan tak ada busu yang optimis.
Tapi, memang orang ramai berkumpul sekian meter dari papan batang,
dan seorang pawang menyentuh permukaan sungai yang hangat.
"Kau bisa,"seseorang berteriak. Dan pawang itu, yang sedikit ragu, menjadi
semakin ragu. Ia tahu ia tak seharusnya ada di sana. Orang-orang mengenalnya
sebagai pawang kuda lumping –seorang transmigran Jawa yang diikuti jin-jin
pemakan beling dan ayam mentah. Dan sehari sebelumnya, seekor buaya muara
sepanjang 5 meter menyeret seorang bocah 6 tahun ke dalam sungai.
"Seharusnya kalian memanggil pawang buaya," katanya tadi pagi. Tapi, orang-
orang menggeleng. "Susah betul menemukan pawang buaya," kata mereka.
Dan ia tak mengerti bagaimana orang-orang yang hidup dari sungai,
yang memuja sungai, yang menyebut nenek untuk menghormati
buaya, mengalami kesulitan menemukan pawang buaya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
