Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Agustus 2020 | 04.04 WIB

Kumpulan Sajak Kiki Sulistyo

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Perahu Mentaram


perahu dikayuh di langit kota
Mentaram, udara asam menyala
tajam derit pintu membangunkan
burung-burung piatu, kehilangan ibu,
pohon-pohon yang tenggelam dalam
hutan beton dan hujan karbon

ibadah belanja, sembahyang komuni
di kedai-kedai kopi, riuh musik menitik
menjadi bintik surga di pipi remaja
berpendar sampai ketinggian, sampai
bintang-bintang muram, perlahan padam

perahu karam ketika tersaput sinar bulan
karam di atap gedung perkantoran, suram
seperti nisan bagi malam, Mentaram, makam
para pejalan, para petani, pengungsi, dan
seorang pengayuh perahu yang kini sendiri
meniru bunyi burung, nyanyi murung
dalam sangkar besi

2020




Kijang Mentaram


setelah jembatan, jalan akan jembar
hutan dengan kijang-kijang jantan
terhampar di hadapan, ini Mentaram
dalam demam berkepanjangan

antara beringin dan pohon-pohon asam
bayang-bayang penindasan menyusun
ruang, seorang panjak melihat jejak prajurit
seperti tajam derit, membuka pintu penjara

lalu sebuah puri basah oleh jerit seorang putri
orang-orang Belanda mencari Negarakertagama
sebelum proklamasi dan peta provinsi digaris
di atas tulang-tulang agraris, udara pun amis

seorang militer tua dengan kacamata hitam
seperti kamp kerja paksa, bicara, ”kota ini
terus berkembang, masyarakat sejahtera,
piala adipura melapangkan jalan menuju surga”

demam masih panjang, jembatan sudah hilang
kijang-kijang mengeras di seragam dinas…

2020




Madu Sumbawa


madu Sumbawa, serupa emas likuida
emas bulan cemas akan kehilangan

ketika kecil bara api memijat kulit kaki
setelah dewasa bara yang sama menyala
di lisannya

Sumbawa yang manis, dari sabana kuda-kuda
melesat ke udara, angin pelabuhan mengurapi
rambutnya, ketika remaja nyanyi burung gili
mempertinggi tiang lazuardi; di sini dilepaskannya
bunyi serupa, agar bagiku terbuka pintu diwana.

dari pintu itu kulihat lebah-lebah mengarungi
cakrawala, menyimpan kelenjarnya dalam tabung dunia,
lalu menetas ciuman, yang di dalamnya jarum cahaya
membutakan lidah, membatukan lisan yang ingin
benar melafal cinta.

2020




KIKI SULISTYO

lahir di Kota Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore