Senin, 23 Apr 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Teknologi

Mengulas Skandal Data Facebook Bocor Seret Nama Indonesia, Kok Bisa?

| editor : 

facebook bocor, Cambridge Analytica

Ilustrasi: Facebook (Reuters)

JawaPos.com – Jejaring sosial Facebook masih menjadi perbincangan hangat hingga hari ini. Tak Cuma publik di Amerika Serikat (AS) yang menjadi awal mula mencuatnya kasus penyalahgunaan data Facebook, kini publik di beberapa negara termasuk Indonesia turut dibuat geger.

Sebelumnya memang belum diketahui pasti perihal jumlah kebocoran data pengguna Facebook. Namun, rumor menyebut bahwa angka tersebut berada di kisaran 56 juta pengguna yang menjadi korban pencurian data.

Hingga Rabu (4/4) lalu, Facebook resmi mengumumkan jumlah kebocoran yang dialaminya. Tak main-main, jumlahnya melejit jauh dari rumor yang beredar sebelumnya. Totalnya ada 87 juta data pengguna yang bocor ke Cambridge Analytica (CA).

"Kami pikir informasi yang paling banyak bocor berada di wilayah AS yang kemungkinan bocor ke Cambridge Analytica," kata Facebook dalam keterangan di blog resminya.

Bahkan dari angka 87 juta itu, secara mengejutkan Indonesia ternyata berada dalam daftar yang masuk ke lubang kebocoran data. Lebih dari satu juta data pengguna Facebook di Indonesia turut bocor ke CA.

facebook bocor, Cambridge Analytica

Data statistik kebocoran data Facebook di beberapa negara. (FacebookNewsRoom)

Menanggapi hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika mengaku sudah berkomunikasi dengan Facebook sejak kasus tersebut merebak.

"Saya bahkan telepon sendiri ke Facebook 10 hari yang lalu. Untuk apa? Memastikan apakah benar informasi tersebut. Kemudian meminta jaminan apakah Facebook sebagai penyelenggara sistem elektronik (PSE) sudah patuh dengan Peraturan Menteri Kominfo tahun 2016 tentang perlindungan data pribadi," jelas Rudiantara.

Menurutnya, memang ada indikasi pengguna Facebook di Indonesia terseret dalam kasus CA. "Kami sedang meminta angka pastinya," kata Rudiantara.

"Kami juga sudah mulai berkoordinasi dengan teman-teman kepolisian mengantisipasi diperlukannya penegakkan hukum," sambung pria yang akrab disapa Chief RA itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus kebocoran data yang dialami Facebook diduga dimanfaatkan oleh pihak ketiga dalam hal ini CA. CA diduga menjadi dalang atas kasus kebocoran data ini dan memanfaatkannya untuk memenangkan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS beberapa waktu lalu.

CA sendiri mengembangkan sebuah teknik untuk mendapat data Facebook dari kuis kepribadian. Tipe kuis yang memang cukup populer di Facebook ini dikerjakan perusahaan pihak ketiga, yakni Global Science Research.

rudiantara, Ruben Hattari, facebook bocor

Menkominfo Rudiantara (kiri) bersama perwakilan Facebook Indonesia Ruben Hattari. (RianAlfianto/JawaPos.com)

Minta Aplikasi Sejenis CA Dimatikan

Menkominfo Rudiantara telah meminta Facebook untuk men-shutdown atau mematikan segala bentuk aplikasi pihak ketiga. Sebab, aplikasi tersebut diindikasi menjadi celah bocornya data pengguna.

"Aplikasi yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga kita minta matikan dulu. Untuk Indonesia terutama," jelas Rudiantara usai pertemuan dengan pihak Facebook Indonesia di Gedung Kemenkominfo, Jakarta, Kamis (5/4).

Selain itu, pihaknya juga telah meminta Facebook untuk segera mengaudit data yang mungkin dipakai pihak ketiga. "Pokoknya aplikasi yang meminta data pengguna untuk disetop dulu. Terutama aplikasi seperti kuis-kuis personality test yang dibuat oleh Cambridge Analytica itu. Matikan dulu," tegas Rudiantara.

Menanggapi hal tersebut, Public Policy Lead Facebook Indonesia Ruben Hattari mengatakan, Facebook Indonesia terlebih dahulu akan mengkomunikasikan dengan Facebook pusat di Menlo Park, California, AS.

Dia juga mengaku belum bisa memastikan terkait permintaan shutdown yang diminta Kemenkominfo untuk dilaksanakan. Dia hanya menyatakan bahwa jika sudah dapat konfirmasi dari Facebook pusat, maka akan segera mengomunikasikan dengan Kemenkominfo.

Terkait hal tersebut, Rudiantara kembali menjelaskan bahwa ada sanksi jika Facebook enggan melakukan imbauan pemerintah. "Kalau nggak nurut bisa kena sanksi. Melanggar Peraturan Menteri Kominfo tentang perlindungan data pribadi. Sanksinya bisa mulai dari administrasi, hukuman penjara maksimal 12 tahun, dan denda maksimal hingga Rp 12 milyar," tegas Rudiantara.

Hanafi Rais, komisi I DPR, facebook bocor

Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais (RianAlfianto/JawaPos.com)

Facebook Mangkir RDP dengan DPR

Rabu (11/4) kemarin, perwakilan Facebook Indonesia seharusnya menghadiri Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I DPR, namun hal itu batal dilaksanakan. Facebook berkilah bahwa mereka masih menunggu keputusan Mark Zuckerberg yang tengah menghadapi ‘sidang’ dengan 44 Senator AS.

Penundaan RDP ini disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais. Dia menyebut bahwa penundaan ini atas permintaan Facebook. "Facebook sendiri itu yang minta ditunda," kata Hanafi melalui pesan singkatnya kepada JawaPos.com, Rabu (11/4).

"Mereka minta ditunda karena menunggu hasil sidang CEO Facebook Mark Zuckerberg oleh Kongres di AS," tambah Hanafi.

Kendati Facebook batal memenuhi panggilan, Komisi I DPR tetap berencana memanggil Facebook untuk kali kedua pekan depan. "Iya, diganti Selasa depan," jelas Politikus PAN itu.

Mark Zuckerberg, facebook bocor

CEO Facebook Mark Zuckerberg di sidang kongres terkait skandal kebocoran data. (DailyBeast)

Permintaan Kemenkominfo Urung Dilaksanakan

Di sisi lain, Facebook telah memberikan kabar kepada Kemenkominfo terkait update kasus penyalahgunaan data ini. Sayangnya, surat tanggapan yang dikirimkan Facebook kepada kementerian yang dipimpin Rudiantara ini tidak menanggapi perihal SP 2 yang dikirimkan. Melainkan membahas SP 1 yang diberikan bersamaan dengan bertemunya perwakilan Facebook Indonesia dengan Kemenkominfo.

"Tadi malam ada surat dari Facebook tapi dari Irlandia. Dia hanya menerangkan mengenai tata cara Facebook menangani masalah seperti Cambridge Analytica," kata Rudiantara dikantornya Kemenkominfo, Jakarta, Rabu (11/4) malam.

Menurutnya, Facebook mengaku sudah menghentikan aplikasi pihak ketiga yang terafiliasi dengan CA. Kemenkominfo juga meminta bahwa semua aplikasi yang mirip dengan CA dalam bentuk kuis, semuanya harus dimatikan terutama untuk pasar Indonesia.

"Kami meminta semua aplikasi pihak ketiga yang berpotensi bahaya seperti CA untuk dimatikan. Namun mereka baru mematikan aplikasi milik CA saja, bukan keseluruhan seperti yang kami minta," tambah Rudiantara.

Mengapa yang menangani bukan Facebook pusat di Amerika Serikat tapi justru Facebook Irlandia? Rudiantara menjelaskan, hal ini karena pengelolaan Facebook Indonesia masuk ke ranah Facebook Irlandia, bukan Facebook Amerika. Facebook Amerika hanya mengelola Facebook milik Amerika dan Kanada.

Sejauh ini Rudiantara juga belum mendapat jawaban dari Facebook terkait dengan hasil audit, seperti yang diminta Kemenkominfo pada pertemuan pertamanya dengan perwakilan Facebook Indonesia pada 5 April lalu. Untuk itu Kemenkominfo mengirimkan surat peringatan kedua pada Selasa (10/4) kemarin.

"Melalui surat peringatan tambahan kedua itu kami juga mengindikasikan ada aplikasi mirip CA yang berpotensi membahayakan data pengguna. Aplikasi tersebut bernama CubeYou dan AggregateIQ. Makanya kami mengirimkan surat peringatan kedua karena yang lama belum rampung ini sudah ada lagi aplikasi sejenis lainnya," pungkas Rudiantara.

(ryn/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP