Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Februari 2018 | 21.25 WIB

Catatan Moammar Emka: Narkoba dan Artis di Titik Stadium IV

Moammar Emka menyebut ada tiga faktor artis terjerat narkoba - Image

Moammar Emka menyebut ada tiga faktor artis terjerat narkoba


INI bukan kejadian di film atau sinetron! Untuk kali kesekian, beberapa selebritas (baca: artis) tersandung narkoba.



Ini menarik mengingat kejadiannya selalu berulang Tidak hanya satu, dua, atau tiga, tetapi lebih dari itu. Dan hampir setiap satu atau dua bulan, selalu muncul kasus serupa.



Sebenarnya bagaimana kaitan antara narkoba dan gaya hidup di kalangan selebritas? Tentu, pertanyaan ini tidak hanya berlaku untuk selebritas. Sebab, faktanya, narkoba juga menjadi gaya hidup sebagian "orang biasa". Mulai pekerja kantoran, pegawai pemerintahan, pengusaha, sampai pejabat.



Narkoba, Artis, dan Gaya Hidup


Dalam wawancara di beberapa televisi swasta, saya mengatakan bahwa godaan narkoba lebih kejam dari setan. Pada saat yang sama, saya juga mengatakan narkoba, artis, dan gaya hidup sudah sampai di titik kritis. Skalanya mencapai "stadium IV".



Karena itulah, jerat narkoba seperti tak habis-habisnya memakan korban dari waktu ke waktu, termasuk kalangan selebritas. Tidak saja menjadi pengguna uji coba, pengguna situasional, pengguna aktif, pengguna akut, atau bahkan sampai perantara dan penjual.



Menurut catatan dan pengamatan saya, ada beberapa faktor yang membuat sebagian artis menjadikan narkoba sebagai bagian dari gaya hidup. Pertama, status. Figur yang populer, punya banyak uang, adalah akses besar untuk mendapatkan, membeli, dan mengonsumsi narkoba. Bahkan, dalam beberapa kasus tertentu, tak hanya menjadi pengguna, tapi sekaligus perantara dan penjual ke sesama artis.



Yang kedua adalah pergaulan dan lingkungan. Bukan lagi rahasia, sebagian artis dekat dengan dunia party, clubbing, dan sejenisnya. Party dan clubbing adalah bagian dari ajang bersosialisasi. Juga refreshing karena beban dan tuntutan pekerjaan yang berat. Ada yang memilih party/clubbing yang sehat, ada juga yang sebaliknya: tidak sehat.



Pilihan kedua itulah yang biasanya melibatkan narkoba di dalamnya. Tidak hanya terjadi di public party/clubbing saja. Tapi juga berlanjut ke private party/clubbing.



Tercatat, dari sejumlah penangkapan kasus narkoba belakangan, beberapa di antaranya dilakukan di rumah atau apartemen. Misalnya, yang terjadi pada kasus Tio Pakusadewo, Jennifer Dunn, Fachri Albar, Roro Fitria, dan keluarga Elvy Sukaesih.



Faktor ketiga adalah sensasi dan orientasi. Jelas, ini lebih kepada cara pandang yang salah. Ada sejumlah artis yang tertang­kap yang mengganggap narkoba sebagai jalan keluar.



Sensasi stimulan dan memberikan rasa nyaman (fly) diyakini sebagai alat bantu untuk bergaul dan bekerja supaya lebih bersemangat serta percaya diri. Ada juga yang menggunakan narkoba sebagai jalan untuk menjaga kebugaran dan langsing tanpa diet atau olahraga teratur. Akibatnya, mereka terjebak dalam orientasi yang salah dan berujung menjadi pengguna aktif, bahkan akut.



Dari Pengguna ke Pengedar


Berdasar data Badan Narkotika Nasional (BNN), sekitar 5 juta di antara 250 juta penduduk kita terjerat narkoba. Kerugian material akibat kejahatan narkoba tersebut juga sangat besar, yakni mencapai Rp 63,1 triliun.



Mengapa artis menjadi pengguna? Sebab, sebagai figur publik, akses mereka untuk mendapatkan narkoba terbuka lebar. Mo­dus awalnya, artis memperoleh narkoba secara gratis.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore