
Anak-anak di Asmat saat terkena KLB gizi buruk dan campak
JawaPos.com - Pihak Kemenkes menduga terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak yang mengakibatkan puluhan anak dan orang dewasa meninggal dunia dipicu oleh perubahan gaya hidup dan kebiasaan.
Pengurus bagian masyarakat dan pembagian bencana PBID Kemenkes, Muhammad Iqbal L Mubarak mengatakan, salah satu faktor penyebab terjadinya gizi buruk dikarenakan watak dari masyarakat Asmat sendiri.
"Ada faktor habbit yang bisa dikatakan tidak disiplin masyarakat dalam hal pelaporan rutinitas kunjungan ke puskesmas," kata Iqbal saat ditemui di Distrik Siret, Asmat, Rabu (7/2).
Selain kebiasaan, pemicu lainnya yakninya faktor modernisasi pun menjadi penyebab. Malasnya warga mencari ikan dan lebih memilih untuk mengkonsumsi mi instan, sehingga warga sekitar menjadi kekurangan sumber protein.
"Modernisasi juga mulai beralih, saat ini kan juga dibilang APBD Asmat juga besar, tapi efeknya masyakarat malah lebih senang konsumsi makanan instan misalnya Indomie. Bisa dibilang malas bergerak," ungkapnya.
Bahkan, susu yang seharusnya diperuntunkan bagi anak digunakan untuk menyeduh segelas kopi. Kehidupan anak mereka pun terbengkalaikan, karena kurangnya kepekaan orang tua terhadap anaknya.
"Misal gizi buruk sudah ditangani. Dikasih susu misal, susu yang harusnya dikonsumsi anak akan tetapi dikonsumsi orang tuanya. Katakanlah bapaknya dicampur kopi. Pasien anak dengan Hb 4, harusnya sudah transfusi darah tetapi di sini masih lari dia," terangnya.
Senada dengan perawatan di Puskesmas Siret, Reza Darise mengatakan, beberapa anak yang terkena malaria disarankan untuk rawat inap di Puskesmas. Pasalnya, jika anak tersebut diizinkan pulang ke rumah, mereka tidak akan meminum obat yang diberikan dari Puskesmas.
"Kebanyakan komplikasi, jadi agak berat kita anjurkan rawat inap, karena kalau tidak hari ini minum besoknya tidak," pungkasnya.
Kampung Sakor berada di Distrik Siret Kabupaten Asmat, kampung ini mempunyai puskesmas yang menangani lima kampung lainnya. Bantuan pertama akan diberikan di puskesmas ini, jika peralatan media tidak memungkinkan maka pasien akan dirujuk ke Agast.
Sama halnya dengan Agast, Distrik Siret ini juga berada di atas rawa-rawa. Hanya saja, Distrik Siret tak seramai Agast yang dipadati permukiman warga. Anak-anak dari Kampung Sakor juga tidak ada yang terkena wabah campak maupun gizi buruk. Namun ada sebagian anak yang terkena wabah tersebut di beberapa kampung distrik Siret.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
