Sabtu, 24 Feb 2018
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Mengenang Almarhum Daoed Joesoef, Akademisi dan Penulis

Senang Mantan Mahasiswa Jadi Doktor Duluan

| editor : 

Mantan Mendikbud  Daoed Yoesoef saat akan dikebumikan.

Mantan Mendikbud Daoed Yoesoef saat akan dikebumikan. (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Daoed Joesoef menganggap kebijakan normalisasi kampus semasa dirinya menjadi menteri dulu disalahpahami. Pada usia senjanya masih menelurkan novel setebal lebih dari 400 halaman.

FERLYNDA PUTRI, Jakarta

---

Almarhum Mantan Mendikbud  Daoed Yoesoef.

Almarhum Mantan Mendikbud Daoed Yoesoef. (Repro: Miftahulhayat/Jawa Pos)

BAMBANG Pharmasetiawan masih ingat betul perjumpaan tak sengaja itu. Di salah sudut Pasar Raya Jakarta itu, seorang mantan tokoh mahasiswa menghampirinya.

''Dia tahu kalau saya menantu Pak Daoed (Joesoef). Kepada saya dia bilang, kebijakan bapak puluhan tahun silam itu benar,'' kata Bambang kepada Jawa Pos kemarin (24/1).

Mata Bambang tiba-tiba merah selepas menceritakan peristiwa di Pasar Raya sekian tahun silam tersebut. Suaranya pun parau. Air matanya mengumpul meski dia berusaha keras tidak menangis.

Ingatan itu kembali menghampiri Bambang pada hari ketika mertuanya dimakamkan.

Menteri pendidikan dan kebudayaan era 1978-1982 itu meninggal di usia 91 tahun pada Selasa (23/1) pukul 23.55 di RS Medistra, Jakarta, karena penyakit jantung.

Pria kelahiran Brastagi, Sumatera Utara, tersebut memang telah lama menderita penyakit jantung Keluarga menyatakan, sejak Daoed berusia 73 tahun, sudah dipasang ring di jantungnya.

Kebijakan yang dimaksud Bambang tadi adalah NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Banyak pihak yang menuding kebijakan itu dimaksudkan mengebiri kebebasan mahasiswa karena dilarang berpolitik.

Ketika itu, bara peristiwa Malari memang masih terasa. Empat tahun sebelum penerapan NKK/BKK, persisnya 15 Januari 1974, terjadi demonstrasi mahasiswa yang diakhiri kerusuhan sosial. Mundur delapan tahun sebelumnya, mahasiswa juga turut berperan dalam runtuhnya Orde Lama.

Tapi, dalam banyak kesempatan, Daoed membantah tudingan tersebut. Sebagaimana diulangi Bambang kemarin, NKK/BKK sejatinya merupakan kebijakan yang menempatkan kampus sebagai pusat keilmuan. "Mempelajari politik sebagai ilmu boleh, tapi bukan sebagai politik praktis."

Bambang dulu pun tidak mengerti apa yang dimaksud mertuanya yang pernah menjadi kepala Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1962-1965) tersebut. Hingga akhirnya dia pun kerap berdiskusi dengan Daoed. "Dari diskusi itu, saya menyimpulkan jika sosialisasi NKK/BKK ini belum dalam. Sehingga yang dipahami hanya itu sa­ja," jelasnya.

Jadi, lanjut Bambang, selama ini ada salah pengertian mengenai NKK/BKK. Seolah-olah politik sama sekali tidak boleh dipelajari di lingkungan kampus. Padahal, menurut Daoed, hanya politik praktis yang tidak boleh dicampuradukkan dengan keilmuan. Sebab, dikhawatirkan, dinamika akademisi kampus akan cenderung memihak sesuai dengan ideologi politik yang dianut.

Di luar soal kebijakannya sebagai menteri, Daoed merupakan sosok yang penuh "warna". Dia pernah duduk di birokrasi, tapi juga akademisi sekaligus penulis. Pada usia 77 tahun, direktur CSIS (Center for Strategic and International Studies) 1970-1973 itu sempat menelurkan novel setebal 408 halaman bertajuk Emak. Juga, terus aktif menulis di berbagai surat kabar nasional.

Kendati pernah menjabat menteri pada era Orde Baru, Daoed pernah pula menolak jabatan di kabinet sebagai gubernur Bank Indonesia. Di sisi lain, ISIS, lembaga yang pernah dipimpin mantan anggota DPA dan MPR itu, dikenal sebagai think thank berpengaruh pada era pemerintahan Presiden Soeharto.

Sri Edi Swasono, salah seorang mantan mahasiswanya di Universitas Indonesia, memuji Daoed sebagai sosok yang terbuka dan bersahabat. "Waktu saya selesai menempuh doktor di Amerika dan main ke Prancis, Pak Daoed ini malah senang saya dapat doktor dulu, sedangkan dia belum," ungkapnya.

Hubungan baik itu terus berlanjut. Hampir setiap tahun Edi datang menyambangi gurunya tersebut. "Semalam (Selasa malam) saat di rumah sakit, saya sudah merasa. Sekitar pukul 21.00, dokter sudah angkat tangan," katanya.

Menurut cerita Bambang, 1,5 jam sebelum meninggal, sang cicit sempat membisikkan bahwa keluarga sudah ikhlas. Tak lama berselang, doktor lulusan Universite de Paris I, Sorbonne, Prancis, tersebut berpulang.

Kemarin rumah duka di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, penuh dihadiri petakziah. Karangan bunga memenuhi gang rumah Daoed di Jalan Bangka VII Dalam Nomor 14 itu.

Di antara salah satu rombongan petakziah, tampak Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswe­dan. Keduanya datang setelah mengantar Presiden Joko Widodo terbang ke Sri Lanka untuk menyerahkan bantuan bagi pengungsi Rohingnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat dihubungi Jawa Pos juga mengucapkan belasungkawa. "Saya kenal Pak Daoed, walaupun tidak kenal dekat. Saat beliau masih menjabat menteri, saya bersama beberapa ak­tivis pers mahasiswa menjadi anggota redaksi koran Warta Mahasiswa terbitan Depdiknas," ujarnya.

Daoed pun ketika itu turun gunung langsung dalam beberapa kali kesempatan. Memberikan pengarahan saat rapat redaksi. "Pandangannya luas, pikirannya mendasar, visinya kuat. Beliau juga tidak enggan makan nasi bungkus bersama sebelum rapat redaksi dimulai," ungkap Muhadjir.

Walaupun selama menjabat menteri Muhajir belum pernah bertemu Daoed, hubungan mereka tidak putus. "Beliau sering memberi saran melalui orang dekat beliau. Beliau telah memberi andil besar terhadap arah perjalanan pendidikan Indonesia," katanya.

Sebelum meninggal, kenang Bambang, Daoed juga sempat bilang bahwa bakal ada NKK jilid kedua. Namun, sayang, Bambang belum mengerti betul yang dimaksud ayah mertuanya itu. "Mungkin ada di perpustakaannya," tuturnya.

Daoed pun sempat berucap kritik untuk Indonesia. "Beliau sebenarnya ingin pembangunan itu berbasis kebudayaan, nge­wongke. Kalau mau membangun itu ditanya, perlu atau tidak," ujarnya. 

(*/c5/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP