
Panji Petualang saat melakukan pencarian buaya berkalung ban pada malam hari, Senin (22/1)
JawaPos.com – Upaya penyelamatan buaya berkalung ban di Palu, Sulawesi Tengah yang dilakukan Panji Petualang dan Jawa Pos terus dilakukan. Pada hari ke-3 operasi, opsi-opsi menjebak buaya di dalam sungai mulai dilakukan. Sebab, proses penaklukan buaya di alam liar memang berbeda dengan satwa di tempat konservasi.
Upaya penyelamatan buaya berkalung ban ini memang tak mudah. Butuh waktu dan proses. Kondisi ini juga yang dialami sejumlah pihak, yang pernah berupaya menyelamatkan buaya malang tersebut. Termasuk para aktivis penyelamat satwa dari Jakarta Animal Aid Network atau JAAN.
Pada Desember 2016, JAAN memang pernah melakukan upaya penyelamatan buaya berkalung ban. Selama hampir 12 hari mereka berjibaku mencari dan berupaya menarik buaya itu untuk ke darat. Tapi sayangnya belum berhasil.
Salah satu penyebab belum berhasilnya operasi juga karena kegaduhan yang ditimbulkan masyarakat di sekitar lokasi. “Tidak bisa menangkap buaya dengan kegaduhan. Suara yang ditimbulkan warga bisa membuat buaya lari,” kata Sudarno, ahli buaya dari JAAN yang melakukan operasi penyelamatan di Palu.
Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah pun sebenarnya tak berdiam diri. Mereka pernah melakukan upaya penyelamatan, tapi justru buayanya yang tak menampakan diri. Lembaga yang di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu bahkan sudah menyiapkan perangkap. Tapi hasilnya juga nihil.
Panji mengatakan, menaklukan buaya di alam liar berbeda dengan satwa di tempat konservasi atau penangkaran. Apalagi, kondisi buaya berkalung ban itu saat ini seperti trauma. Satwa itu sudah tak nyaman di lokasi yang biasa digunakan untuk berjemur atau sembunyi. “Buaya itu stres berat. Sepertinya sekarang sering di pantai,” terangnya.
Menurut Panji, sebenarnya pada operasi hari pertama (Minggu, 21/1/2017) kita sudah dapat kesempatan. Buayanya nongol berjemur. Tapi baru saja saya siapkan strategi pengkapan, eh si buaya menghilang karena suara-suara gaduh,” keluhnya.
Panji mengatakan, dirinya bukan seorang pawang. Operasi penyelamatan yang dilakukan murni menggunakan hal-hal teknis. Tak ada hal-hal yang berbau mistis. “Kalau buayanya berhasil dibawa ke darat saja, tidak perlu lama saya untuk mengevakuasinya,” terangnya. Lantaran bukan pawang, dia tidak punya kemampuan yang bisa memanggil binatang termasuk buaya berkalung ban.
Meski begitu, Panji dan tim tak menyerah. Dia menyiapkan sejumlah opsi penjebakan buaya di dalam air. Sebab upaya yang sangat sulit ialah membawa buaya itu keluar dari air. Opsi penjebakan itu dilakukan dengan jala dan pukat. Perangkat itu diharapkan bisa membendung buaya berkalung ban kabur lewat dalam aliran sungai.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
