Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 Januari 2018 | 18.25 WIB

Panji Petualang: Menaklukan Buaya Liar Beda dengan Peliharaan

Panji Petualang saat melakukan pencarian buaya berkalung ban pada malam hari, Senin (22/1) - Image

Panji Petualang saat melakukan pencarian buaya berkalung ban pada malam hari, Senin (22/1)

JawaPos.com – Upaya penyelamatan buaya berkalung ban di Palu, Sulawesi Tengah yang dilakukan Panji Petualang dan Jawa Pos terus dilakukan. Pada hari ke-3 operasi, opsi-opsi menjebak buaya di dalam sungai mulai dilakukan. Sebab, proses penaklukan buaya di alam liar memang berbeda dengan satwa di tempat konservasi.



Upaya penyelamatan buaya berkalung ban ini memang tak mudah. Butuh waktu dan proses. Kondisi ini juga yang dialami sejumlah pihak, yang pernah berupaya menyelamatkan buaya malang tersebut. Termasuk para aktivis penyelamat satwa dari Jakarta Animal Aid Network atau JAAN.



Pada Desember 2016, JAAN memang pernah melakukan upaya penyelamatan buaya berkalung ban. Selama hampir 12 hari mereka berjibaku mencari dan berupaya menarik buaya itu untuk ke darat. Tapi sayangnya belum berhasil.



Salah satu penyebab belum berhasilnya operasi juga karena kegaduhan yang ditimbulkan masyarakat di sekitar lokasi.  “Tidak bisa menangkap buaya dengan kegaduhan. Suara yang ditimbulkan warga bisa membuat buaya lari,” kata Sudarno, ahli buaya dari JAAN yang melakukan operasi penyelamatan di Palu.



Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah pun sebenarnya tak berdiam diri. Mereka pernah melakukan upaya penyelamatan, tapi justru buayanya yang tak menampakan diri. Lembaga yang di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu bahkan sudah menyiapkan perangkap. Tapi hasilnya juga nihil.



Panji mengatakan, menaklukan buaya di alam liar berbeda dengan satwa di tempat konservasi atau penangkaran. Apalagi, kondisi buaya berkalung ban itu saat ini seperti trauma. Satwa itu sudah tak nyaman di lokasi yang biasa digunakan untuk berjemur atau sembunyi. “Buaya itu stres berat. Sepertinya sekarang sering di pantai,” terangnya.



Menurut Panji, sebenarnya pada operasi hari pertama (Minggu, 21/1/2017) kita sudah dapat kesempatan. Buayanya nongol berjemur. Tapi baru saja saya siapkan strategi pengkapan, eh si buaya menghilang karena suara-suara gaduh,” keluhnya.



Panji mengatakan, dirinya bukan seorang pawang. Operasi penyelamatan yang dilakukan murni menggunakan hal-hal teknis. Tak ada hal-hal yang berbau mistis. “Kalau buayanya berhasil dibawa ke darat saja, tidak perlu lama saya untuk mengevakuasinya,” terangnya. Lantaran bukan pawang, dia tidak punya kemampuan yang bisa memanggil binatang termasuk buaya berkalung ban.



Meski begitu, Panji dan tim tak menyerah. Dia menyiapkan sejumlah opsi penjebakan buaya di dalam air. Sebab upaya yang sangat sulit ialah membawa buaya itu keluar dari air. Opsi penjebakan itu dilakukan dengan jala dan pukat. Perangkat itu diharapkan bisa membendung buaya berkalung ban kabur lewat dalam aliran sungai.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore