
GAYA HIDUP: Makanan tinggi kalori dan gula serta ditambah kurangnya aktivitas ditengarai sebagai pemicu.
JawaPos.com - Tingkat obesitas anak dan remaja meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir. Artinya, 124 juta anak laki-laki dan perempuan di seluruh dunia terlalu gemuk.
Angka tersebut dirilis Lancet, salah satu lembaga survei di Inggris. Mereka melihat jenis dan tren obesitas di lebih dari 200 negara. Di Inggris, satu dari setiap 10 anak muda berusia lima sampai 19 tahun, mengalami obesitas.
Berdasar para ahli, anak-anak yang obesitas cenderung menjadi orang dewasa gemuk, menempatkan mereka pada risiko masalah kesehatan yang serius. Itu termasuk diabetes tipe 2, penyakit jantung, stroke dan beberapa jenis kanker, seperti payudara dan usus besar.
”Meskipun tingkat obesitas anak terlihat stabil di banyak negara makmur di Eropa, termasuk Inggris, namun ada tren kenaikan yang mencemaskan di negara lain di dunia,” kata Prof Majid Ezzati dari Imperial College London.
Para peneliti meyakini, promosi dan banyaknya makanan murah namun menggemukkan merupakan salah satu pendorong utama naiknya angka obesitas remaja dan anak-anak. Kenaikan terbesar jumlah anak obesitas dan remaja terjadi di Asia Timur. ”Tiongkok dan India mengalami kenaikan obesitas yang pesat dalam beberapa tahun terakhir,” sambung Ezzati.
Para periset mengatakan bahwa jika tren dunia saat ini terus berlanjut, obesitas akan segera menjadi lebih umum daripada langsing.
Pada 2016, ada 192 juta orang muda kurus. Angka itu masih jauh lebih banyak daripada jumlah orang muda yang mengalami obesitas. Tapi itu tampaknya akan berubah. Asia Timur, Amerika Latin, dan Karibia telah melihat adanya pergeseran dari kekurangan gizi hingga obesitas dalam beberapa dekade.
Secara global, pada 2016 ada tambahan 213 juta orang muda kelebihan berat badan meski masih di bawah ambang batas obesitas. ”Ini adalah masalah besar dan akan semakin memburuk,” kata wakil peneliti Dr Harry Rutter, dari London School of Hygiene and Tropical Medicine. ”Bahkan orang kurus pun lebih berat daripada sepuluh tahun yang lalu. Kita belum menjadi lebih lemah, malas, atau serakah. Kenyataannya adalah dunia di sekitar kita sedang berubah,” sambungnya.
Dr Fiona Bull dari WHO menyerukan tindakan keras untuk menindak makanan padat kalori dan gizi buruk dan mempromosikan lebih banyak aktivitas fisik.
Sejauh ini, lebih dari 20 negara di seluruh dunia telah melabelkan pajak atas minuman bergula. ”Program pengurangan gula dan pajak gula pemerintah kami adalah yang terdepan di seluruh dunia. Tetapi ini hanya awal untuk satu generasi,” kata Dr Alison Tedstone, kepala ahli gizi di Health England.
"Bukti jelas, bahwa hanya memberi tahu orang apa yang harus dilakukan tidak akan berhasil. Sementara pendidikan dan informasi penting, tindakan yang lebih dalam diperlukan untuk membantu kita menurunkan konsumsi kalori dan mencapai makanan yang lebih sehat.”(*)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
