Kamis, 14 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Music & Movie

Pandangan Hanung Bramantyo Soal Pemutaran Kembali Film G30S/PKI

| editor : 

Hanung Bramantyo

Hanung Bramantyo (doc Jawa Pos.com)

JawaPos.com - Sutradara kenamaan, Hanung Bramantyo memberi komentar terkait pemutaran kembali film G30S/PKI. Lewat akun Twitter, dia menjabarkan pandangannya terkait film garapan Arifin C. Noer itu.

"Lagi rame polemik Film G30S/PKI yg mau ditayangkan lagi di TV. Hmm menarik. Komentar ah! Film G30S/PKI dibuat sutradara Arifin C Noor. Serius banget bikinnya dan estetik. Soal akurat ato tidak itu urusan lain,” tulis Hanung Bramantyo pada awal kultwit yang dibuatnya.

"Namanya juga film saya ngefans bgt ama Film G30S karena unsur sinematik di dalamnya sangat kaya dan cerdas. Aktor2 yg memerankan sangat meyakinkan. Kalo tujuan Film G30S diputar lagi biar penonton paham peristiwa sebenarnya di malam 30 sept 65. Menurut saya kok gak tepat yah,” sambungnya.

Cuplikan The Birth of Cinema (youtube)

Pada lanjutan tulisannya, suami Zaskia Adya Mecca itu menguraikan pandangan terkait film yang menurutnya merupakan realitas yang diciptakan.

Berikut pendapat Hanung Bramantyo terkait film G30S/PKI;

1. Film adalah Realitas yang diciptakan. BUKAN realitas sebenarnya. Dia diciptakan oleh Producer-Sutradara-Penulis Skenario.

2. Sejak awal penemuannya Film selain diyakin sebagai temuan teknologi juga diyakini sebagai SENI MENGELABUHI (Trick) penonton.

3. Tengok Link ini https://youtu.be/R0jm6j3s_uE atau.

4. Sebagai Realitas yang diciptakan, Film harus Subyektif. Siapa Jagoan (protagonis) dan Lawan (Antagonis) harus terbaca jelas oleh penonton.

5. Jagoan atau Lawan bisa perseorangan atau kelompok. Seperti Avenger, Three Musketer, dan sebagainya. Demikian halnya dengan Lawan.

6. Film disebut Realitas yang Subyektif juga terlihat dari begaimana dia membingkai peristiwa (Framing).

7. Kehidupan (Realitas ) yang tersaji dalam banyak peristiwa tersebut dipilih sesuai dengan VISI Eksekutif Producer dengan tujuan tertentu.

8. Tujuan tertentu itu bisa murni bisnis, atau membentuk opini tertentu. Seperti yang dilakukan Hitler atau Jepang dengan film-film Propagandanya

9. Eksekutif Producer kemudian meminta Producer untuk merealisasikan VISINYA. Mengemasnya secara kreatif dan entertaining.

10. Producer lalu memilih Penulis Skenario untuk menuliskan Visi dari eksekutif producer tsb, lalu di HIDUP kan oleh Sutradara ke layar.

11. Lewat tangan Sutradara-Producer-Penulis, Aktor dipilih, Set dibangun. Lalu direkam. woala! Realitas tercipta dalam Layar.

12. Oh ya, ditambah music atau Narasi agar lebih tergambar nuansa dramatisnya.

13. Realitas tersebut membentuk sudut pandang. Subyektifitas tergambar. Itu yang DIAPRESIASI. Bukan semata-mata DIPERCAYAI.

14. Pandangan ini, buat sy, berlaku untuk semua jenis FILM. Fiksi, sejarah, Non-Fiksi. Termasuk doku-drama seperti Film G30S/PKI.

15. Pembuat Film berhak m'klaim Sudut Pandang tersebut akurat. Sesuai data. didukung sejarawan kelas Wahid. Itu SAH banget!!.

16. Itu memang tanggung jawabnya untuk meyakinkan penonton agar menonton film tersebut.

17. Jadi kalo Film G30S diputar lagi, anggap saja seperti sinetron Re-Run kayak tersanjung. Kalo ndak suka ya matikan saja TV nya.

18. Buat saya, gak ada yg salah di Film G30S. Karena Visi Eksekutif Producernya jelas. Membuat penonton membenci PKI dan memuja orde baru.

19. Sebagai Sutradara, Arifin berhasil menyajikan Horor di Lubang Buaya. Tentunya berdasar sudut pandang Eksekutif Producer ( Orde Baru ).

20. Terus terang kalau sampai sekarang kalo saya nonton sendirian juga masih keder.

21. Kalau ada yang terganggu dengan subyektifitas di Film G30S ya silakan bikin versi lain. Itulah Demokrasi. (Eh, Kita masih demokrasi gak sih?).

22. Demikian pandangan saya soal film G30S yang mau tayang. Gak penting sih. Tapi biarin deh, lama gak nggambleh di Twiter soalnya, tutup Hanung Bramantyo.

(ded/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP