
Sumirah saat membuat sapu lidi
JawaPos.com MATARAM- Banyak orang harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Bahkan hanya untuk sekadar makan. Salah satunya Sumirah.
Untuk memenuhi kebutuhan makan siangnya, pagi-pagi buta, Ia sudah berjalan melintasi sepanjang garis Pantai Gading. Tatapannya selalu terhenti saat melihat sebuah pohon kelapa dan memunguti pelepah daun kelapa itu.
Usianya yang tidak lagi muda, yakni 65 tahun membuatnya selalu tertatih-tatih saat melangkah.
Meski pelan, Sumirah selalu telaten bekerja memisahkan daun dari batangnya. Daun yang terkumpul ia masukkan dalam bakul kayu miliknya. Ia pun melanjutkan kembali perjalanannya.
Memandangi setiap pohon di jalan tersebut. Ia kembali berhenti di sebuah pohon besar. Ia memunguti beberapa bunga yang ada di bawah pohon tersebut. Ia kembali memasukkan dalam bakul miliknya.
“Saya mau jual di pasar,” akunya saat Lombok Post (Jawa Pos Group), Minggu (4/11).
Daun kelapa kering yang tak begitu banyak tersebut ia bersihkan menjadi lidi. Tangan keriputnya perlahan menggerakkan cutter memotong bagian daunnya. Sambil masih asyik membersihkan daun tersebut, Samirah bercerita kisah hidupnya.
Samirah tinggal di Lingkungan Mapak Belatung Kelurahan Jempong Baru. Anak kandungnya entah berada dimana. Sementara suaminya telah lama menikah lagi dan meninggalkannya.
Untuk bertahan hidup, ia harus berusaha sendiri. Segala cara ia lakukan untuk bisa mendapatkan rupiah. Tentunya di usianya yang renta, ia hanya bisa memungut pelepah kelapa dan bunga untuk dijual.
Dalam sehari, ia hanya menghasilkan satu atau dua buah sapu lidi. Terkadang sapu tersebut tak sempat dibawa ke pasar. Sebab salah seorang pengguna jalan langsung membelinya. Ia pun hanya membawa bunga untuk dijual di Pasar Perumnas.
“Kadang dapat Rp 10 ribu, kadang tidak sama sekali,” ujarnya tersenyum memperlihatkan gigi tuanya.
Jika tak ada bunga, Samirah akan mencari kangkung yang tumbuh di luar sawah orang. Kangkung yang terkumpul juga dijualnya. Lagi-lagi hasilnya tak seberapa.
Maksimal hanya Rp 10 ribu saja yang digunakan untuk membeli makan siang. Malamnya ia harus kembali menahan lapar karena tak lagi memiliki uang. Paginya ia kembali bekerja untuk mencari nafkah.
Meski begitu, ia tidak pernah menunjukkan kesedihan. Ia tetap bertahan melalui hari-hari yang sama. Hanya senyum yang ia perlihatkan pada siapapun yang menyapanya.(ferial ayu/r3/nas/JPG)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
