
ILUSTRASI. Pembangunan properti. (Puguh/Jawa Pos)
JawaPos.com - Developer besar sudah menyiapkan lahan di kawasan perbatasan Surabaya Barat dan Gresik. Namun, mereka butuh waktu untuk membangun. Selain melihat pasar, mereka juga memastikan kondisi ekonomi yang sedang terjadi.
Pembangunan infrastruktur di kawasan perbatasan Surabaya Barat, seperti Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) dan pelebaran Jalan Wiyung menuju Gresik, memunculkan harapan baru bagi pengembangan perumahan. Namun, Ketua Arebi Jatim Budiono Yuwono menilai geliat pembangunan hunian di kawasan tersebut masih terbilang lambat.
"Tahun ini nyaris tidak ada pengembangan baru. Developer masih wait and see," ujarnya.
Menurut Budiono, faktor harga menjadi penentu utama. Untuk rumah dengan alamat KTP Surabaya, pasar masih bisa menerima harga Rp 2 miliar.
Namun, jika sudah masuk wilayah Gresik, permintaan cenderung di bawah Rp 2 miliar. Paling banyak justru di kisaran Rp 1 miliar karena itu yang paling dicari.
Budiono menambahkan, sebenarnya permintaan tetap ada, terutama dari generasi milenial yang kini mulai membangun keluarga. Mereka memilih tinggal di perbatasan karena harga lebih terjangkau meski identitas kependudukan masih Surabaya. Banyak pembeli KTP Surabaya tapi rumahnya di Gresik.
Meski permintaan ada, developer belum berani agresif membangun. Salah satu penyebabnya adalah faktor pembiayaan. Kondisi perbankan yang sedang mengetatkan kredit membuat pengembang menahan diri.
"Bank sekarang NPL-nya tinggi. Pembiayaan ke developer dan KPR agak seret. Jadi, pembangunan baru ditahan dulu," ungkap Budiono.
Pembangunan klaster perbatasan diperkirakan baru mulai tahun depan. Principal Java Property Citraland Surabaya Rudy Sutanto mengakui kondisi tersebut. Dia menyebut sebagian developer besar sudah menyiapkan lahan di kawasan perbatasan, tapi realisasi pembangunan diperkirakan baru mulai tahun depan.
"Sekarang masih tahap persiapan lahan dan perizinan. Launching proyek baru kemungkinan 2026 awal," jelas Rudy.
Menurut Rudy, proyek baru di perbatasan cenderung akan digarap oleh developer besar. Sebab, mereka memiliki cadangan lahan luas dan kekuatan modal lebih besar. Developer kecil rata-rata masih menahan diri, sementara yang besar sudah siapkan strategi.
Dia mencontohkan, di wilayah Surabaya Barat, pengembangan masih berbentuk klaster baru di kawasan yang sudah berjalan. Sedangkan di perbatasan dengan Gresik, lahan-lahan kosong sebenarnya tersedia, namun masih menunggu momentum yang tepat.
"Permintaan di secondary market tetap ada, tapi untuk pengembangan besar masih menunggu timing," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, konsumen tetap bisa berharap harga hunian di perbatasan relatif lebih ramah dibanding kawasan inti Surabaya Barat. Hanya saja, untuk proyek-proyek baru berskala besar, masyarakat tampaknya masih harus menunggu hingga developer benar-benar siap meluncurkan produk di kawasan tersebut.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
