
Suasana rumah subsidi di kawasan Parung Panjang, Jakarta, Jumat (26/6/2020). Survei Bank Indonesia mencatat penjualan rumah di pasar primer selama 3 bulan pertama tahun ini anjlok 30,52 persen atau lebih dalam dari kuartal sebelumnya sebesar -16,33 persen
JawaPos.com - Perluasan akses rumah layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terus dilakukan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mendapatkan mandat untuk menyalurkan tambahan kuota kredit pemilikan rumah fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (KPR FLPP) pada 2025. Sehingga mampu menurunkan backlog kepemilikan perumahan.
Tahun ini, BRI menyalurkan FLPP sebanyak 25 ribu unit. Meningkat 7.300 unit dari kuota sebelumnya sebanyak 17.700 unit.
"Kami berupaya mengekspansi program ini agar penyalurannya dapat terserap maksimal. Sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat memiliki hunian. Tentunya kami juga tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam setiap prosesnya," ucap Direktur Utama BRI Hery Gunardi, Rabu (6/8).
Bank pelat merah itu telah menandatangani nota kesepahaman kuota penyaluran dan akad massal 1.000 nasabah KPR Subsidi di Menara BRILiaN, Jakarta, Selasa (5/8). Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait dan Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho turut hadir. Realisasi penyaluran juga dilakukan di 75 kantor cabang BRI.
Per Juni 2025, BRI telah menyalurkan KPR subsidi kepada lebih dari 101 ribu nasabah. Dengan outstanding mencapai Rp 13,79 Triliun. Dari penyaluran tersebut, sekitar 97 persen merupakan outstanding FLPP dengan kualitas kredit yang terjaga. Rasio kredit bermasalah alias non-performing loan berada di level 1,1 persen.
"Jadi, tetap aman," ujar Hery.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 mencatat backlog kepemilikan rumah nasional tercatat sebesar 9,9 juta. Sebanyak 83,4 persen dari backlog berasal dari rumah tangga berpenghasilan rendah dan kelompok miskin.
Sementara itu, hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan II 2025 tumbuh terbatas. Tercermin dari indeks harga properti residensial (IHPR) yang tumbuh 0,90 persen Year-on-Year (YoY). Sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan I 2025 sebesar 1,07 persen YoY.
"Perkembangan harga properti dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan penjualan unit properti residensial tipe kecil di pasar primer. Sementara penjualan rumah tipe besar dan menengah mengalami kontraksi," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso.
Secara keseluruhan, penjualan unit properti residensial di pasar primer mengalami kontraksi. Yakni, sebesar 3,80 persen YoY, setelah tumbuh 0,73 persen di triwulan sebelumnya.
Dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial masih berasal dari dana internal pengembang. Dengan pangsa mencapai 78,36 persen.
"Dari sisi konsumen, mayoritas pembelian rumah di pasar primer dilakukan melalui skema pembiayaan KPR dengan pangsa sebesar 73,06 persen dari total pembiayaan," ungkap Denny.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
