Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 September 2026 | 01.24 WIB

Bursa Sekjen PBNU Menghangat, Gus Lilur Minta Jangan Disederhanakan

Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Khalilur Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur. (ANTARA/Dok/Pribadi) - Image

Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Khalilur Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur. (ANTARA/Dok/Pribadi)

JawaPos.com - Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur mendukung langkah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin dalam menyusun dan merestrukturisasi kepengurusan baru.

Menurut Gus Lilur proses tersebut perlu dilakukan dengan mengedepankan profesionalisme, kapasitas kader, serta keterwakilan dari berbagai daerah. Ia menilai pembentukan struktur kepengurusan tidak semestinya disederhanakan ke dalam pertarungan atau kepentingan politik tertentu.

Gus Lilur menyebut Ketua Umum terpilih memiliki hak prerogatif sekaligus tanggung jawab konstitusional dalam menentukan jajaran yang akan membantunya menjalankan roda organisasi. Karena itu, figur yang dipilih seharusnya dinilai berdasarkan kemampuan, pengalaman, integritas, dan rekam jejak.

“Penyusunan kepengurusan PBNU harus bertumpu pada indikator profesionalisme dan meritokrasi. Sangat tidak rasional apabila dinamika internal dikerdilkan oleh prasangka politik sempit. NU adalah entitas multisektoral yang membutuhkan kapasitas kepemimpinan yang adaptif dan teruji,” kata Gus Lilur di Jakarta pada Kamis (10/9).

Ia turut menanggapi munculnya nama Lukman Edy dalam bursa calon Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU. Gus Lilur menilai pengalaman Lukman Edy baik di lingkungan eksekutif maupun dalam tata kelola organisasi, merupakan rekam jejak yang dapat menjadi pertimbangan secara objektif.

Menurut dia, mengaitkan kemunculan figur tertentu dengan istilah “PKB Come Back” justru berpotensi menyederhanakan persoalan dan mengganggu proses konsolidasi organisasi. Penilaian terhadap calon pengurus, kata dia, seharusnya tidak dibangun hanya berdasarkan latar belakang politik seseorang.

“Kehadiran figur dengan portofolio kepemimpinan yang kuat, seperti mantan menteri atau sekretaris jenderal organisasi nasional, adalah bentuk pemanfaatan modal manusia yang rasional. Sinergi antara Ketua Umum dan jajarannya harus dinilai dari efektivitas kerja serta komitmen terhadap khittah NU, bukan dari asumsi subjektif,” jelasnya.

Pentingnya Representasi Nasional

Selain persoalan kapasitas dan profesionalisme, Gus Lilur menilai aspek keterwakilan wilayah juga harus menjadi perhatian dalam penyusunan kepengurusan PBNU. Struktur organisasi dinilai perlu mencerminkan karakter NU sebagai organisasi kemasyarakatan keagamaan yang memiliki basis luas di berbagai penjuru Indonesia.

Editor: Diar Candra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore