Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 September 2026 | 01.44 WIB

Hadapi Polarisasi dan Disinformasi, Romy Soekarno Serukan Penguatan Nilai Pancasila

Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno, dalam webinar teknologi informasi dan komunikasi bertajuk "Penguatan Ideologi Pancasila". (Istimewa) - Image

Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno, dalam webinar teknologi informasi dan komunikasi bertajuk "Penguatan Ideologi Pancasila". (Istimewa)

JawaPos.com - Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno, menilai penguatan ideologi Pancasila perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih substantif. Menurutnya, upaya membumikan Pancasila tidak seharusnya hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, seminar, maupun aktivitas yang berorientasi pada hafalan.

Legislator Fraksi PDI Perjuangan itu mengatakan, Pancasila harus menjadi nilai yang benar-benar hidup atau living values dalam kehidupan masyarakat. Nilai tersebut juga harus tercermin dalam perilaku warga negara serta cara negara menjalankan pemerintahan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Romy dalam webinar teknologi informasi dan komunikasi bertajuk "Penguatan Ideologi Pancasila" yang berlangsung secara daring pada Kamis (3/9).

Ia menilai, perubahan zaman yang berlangsung cepat membuat Pancasila perlu ditempatkan sebagai leitstar atau bintang penuntun yang mampu menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan baru.

"Pancasila bukan sekadar rumusan yang diletakkan dalam dokumen negara. Pancasila adalah pandangan hidup bangsa, arah moral bangsa, sebagai kekuatan pemersatu masyarakat Indonesia yang sangat majemuk," kata Romy.

Cucu Proklamator Bung Karno itu menilai, Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Fragmentasi sosial, intoleransi, serta polarisasi masyarakat menjadi sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian, terlebih ketika perkembangan teknologi turut mempercepat penyebaran informasi dan membentuk persepsi publik.

Menurut Romy, implementasi nilai-nilai Pancasila juga harus diperluas ke ruang digital. Hal tersebut penting untuk menghadapi pengaruh algoritma dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin berperan dalam membentuk opini masyarakat.

"Karena itu nilai Pancasila juga harus hadir di sana. Ketuhanan berarti toleransi beragama. Kemanusiaan berarti tidak melakukan cyberbullying dan tidak menggunakan teknologi untuk merusak martabat manusia. Persatuan berarti tidak menyebarkan kebencian dan disinformasi yang memecah masyarakat. Demokrasi berarti membangun dialog yang sehat, bukan sekadar siapa yang paling viral. Dan keadilan sosial berarti digitalisasi tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu. Jangan sampai digital divide menjadi bentuk baru ketimpangan sosial. Dalam Artificial Intelligence, kita pun membutuhkan orientasi etik," ucap Romy.

Atas dasar itu, Romy mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengambil posisi strategis dalam membangun ekosistem teknologi yang tetap berlandaskan karakter dan nilai-nilai Indonesia. Salah satu gagasan yang disampaikannya ialah pengembangan "AI Merah Putih" sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan teknologi nasional.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore