
Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno, dalam webinar teknologi informasi dan komunikasi bertajuk "Penguatan Ideologi Pancasila". (Istimewa)
JawaPos.com - Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno, menilai penguatan ideologi Pancasila perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih substantif. Menurutnya, upaya membumikan Pancasila tidak seharusnya hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, seminar, maupun aktivitas yang berorientasi pada hafalan.
Legislator Fraksi PDI Perjuangan itu mengatakan, Pancasila harus menjadi nilai yang benar-benar hidup atau living values dalam kehidupan masyarakat. Nilai tersebut juga harus tercermin dalam perilaku warga negara serta cara negara menjalankan pemerintahan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Romy dalam webinar teknologi informasi dan komunikasi bertajuk "Penguatan Ideologi Pancasila" yang berlangsung secara daring pada Kamis (3/9).
Ia menilai, perubahan zaman yang berlangsung cepat membuat Pancasila perlu ditempatkan sebagai leitstar atau bintang penuntun yang mampu menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan baru.
"Pancasila bukan sekadar rumusan yang diletakkan dalam dokumen negara. Pancasila adalah pandangan hidup bangsa, arah moral bangsa, sebagai kekuatan pemersatu masyarakat Indonesia yang sangat majemuk," kata Romy.
Cucu Proklamator Bung Karno itu menilai, Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Fragmentasi sosial, intoleransi, serta polarisasi masyarakat menjadi sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian, terlebih ketika perkembangan teknologi turut mempercepat penyebaran informasi dan membentuk persepsi publik.
Menurut Romy, implementasi nilai-nilai Pancasila juga harus diperluas ke ruang digital. Hal tersebut penting untuk menghadapi pengaruh algoritma dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin berperan dalam membentuk opini masyarakat.
"Karena itu nilai Pancasila juga harus hadir di sana. Ketuhanan berarti toleransi beragama. Kemanusiaan berarti tidak melakukan cyberbullying dan tidak menggunakan teknologi untuk merusak martabat manusia. Persatuan berarti tidak menyebarkan kebencian dan disinformasi yang memecah masyarakat. Demokrasi berarti membangun dialog yang sehat, bukan sekadar siapa yang paling viral. Dan keadilan sosial berarti digitalisasi tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu. Jangan sampai digital divide menjadi bentuk baru ketimpangan sosial. Dalam Artificial Intelligence, kita pun membutuhkan orientasi etik," ucap Romy.
Atas dasar itu, Romy mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengambil posisi strategis dalam membangun ekosistem teknologi yang tetap berlandaskan karakter dan nilai-nilai Indonesia. Salah satu gagasan yang disampaikannya ialah pengembangan "AI Merah Putih" sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan teknologi nasional.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
35 Santri Keracunan MBG Masih Dirawat di RS Siti Hajar Sidoarjo
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Prediksi Sassuolo vs Frosinone di Coppa Italia 2026/2027: Jay Idzes Cs Menang Susah Payah
