Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Juni 2026 | 16.04 WIB

 PDIP Kritik Gibran Ajak 5 Mahasiswa Keliling Indonesia Timur: Pecah Belah Gerakan Secara Sistematis

Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka mengajak lima mahasiswa dalam kunjungan kerja ke wilayah Indonesia Timur, pada Kamis (18/6). (Satwapres) - Image

Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka mengajak lima mahasiswa dalam kunjungan kerja ke wilayah Indonesia Timur, pada Kamis (18/6). (Satwapres)

JawaPos.com - PDI Perjuangan mengkritisi sikap Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka yang mengajak lima mahasiswa dalam kunjungan kerja ke sejumlah wilayah di Indonesia Timur, mulai dari Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Papua. Menurutnya, kegiatan tersebut bukanlah bentuk apresiasi kepada mahasiswa, melainkan upaya untuk meredam sikap kritis kalangan kampus.

Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, menilai publik tidak boleh melihat sikap Gibran tersebut secara sederhana. Ia menganggap ada kepentingan politik yang lebih besar di balik keterlibatan mahasiswa dalam agenda kunjungan kenegaraan tersebut.

“Jangan tertipu Gibran yang membawa 5 mahasiswa dalam kunjungan ke NTT hingga Papua, itu bukan apresiasi, itu operasi penjinakan,” kata Guntur Romli, Jumat (19/6).

Ia menganggap, langkah yang dilakukan Gibran merupakan bentuk penggunaan kekuatan lunak atau soft power untuk memengaruhi kalangan mahasiswa. Ia menilai, cara tersebut berpotensi mengubah peran mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai agen perubahan menjadi pendukung kekuasaan.

“Gibran sedang menjalankan soft power paling vulgar yang pernah dilakukan oleh seorang Wakil Presiden terhadap civitas akademika mengubah agen perubahan menjadi buzzer kekuasaan,” ujarnya.

Guntur berpendapat, mahasiswa seharusnya tetap berada pada posisi independen dan kritis terhadap pemerintah. Ia menegaskan, pemberian akses terhadap fasilitas negara berisiko mengikis jarak kritis yang selama ini menjadi karakter gerakan mahasiswa.

“Mahasiswa yang semestinya tetap kritis berada di luar pagar kini diajak masuk ke dalam fasilitas negara, naik pesawat dan fasilitas mewah lainnya, dan itulah tepatnya jebakan itu bekerja. Sekali kenyamanan protokoler itu dinikmati independensi runtuh, seketika itu pula laporan yang mereka hasilkan bukan lagi kritik, melainkan testimoni berbayar fasilitas,” tegasnya.

Guntur menuding langkah tersebut berpotensi memecah belah gerakan mahasiswa. Menurut dia, terdapat upaya sistematis untuk menciptakan perbedaan sikap di kalangan mahasiswa antara yang memilih berkolaborasi dengan pemerintah dan yang tetap mengambil posisi kritis.

“Gibran juga tengah memecah belah gerakan mahasiswa secara sistematis, ia menciptakan dua kubu dengan sengaja. Mereka yang memilih koperatif demi panggung instan, dan mereka yang tetap konsisten melawan di garis luar,” ucapnya.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore