Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Juni 2026 | 19.09 WIB

Budiman Sudjatmiko Lari Lewat Pintu Belakang, Nusron-Sudaryono Dievakuasi Polisi saat Dikepung Mahasiswa UGM

Wamentan Sudaryono dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid saat berdiskusi dengan mahaiswa UGM, Jogjakarta, Senin (15/6) malam. (Istimewa) - Image

Wamentan Sudaryono dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid saat berdiskusi dengan mahaiswa UGM, Jogjakarta, Senin (15/6) malam. (Istimewa)

JawaPos.com - Peristiwa menegangkan terjadi usai diskusi Kopdar Bareng Mas Dar bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta, pada Senin (15/6) malam.

Diskusi yang dihadiri tiga pejabat Kabinet Merah Putih itu menuai protes dari kelompok mahasiswa. Ketiga pejabat tersebut di antaranya, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko.

Mantan aktivis 1998, Budiman Sudjatmiko, memilih lari meninggalkan lokasi melalui pintu belakang, saat Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM melakukan aksi protes atas digelarnya diskusi yang diinisiasi Total Politik.

Sementara, Nusron Wahid dan Sudaryono sempat melakukan diskusi dengan kelompok mahasiswa. Namun, kondisi yang semakin memanas mengharuskan keduanya dievakuasi oleh aparat kepolisian menggunakan patwal dengan pengawalan ketat aparat.

Ketua Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Sheron Adam Funay, menyatakan para pejabat yang hadir ke dalam acara diskusi di UGM tidak layak membicarakan nilai-nilai Pancasila, di saat masyarakat telah turun ke jalan menyuarakan keresahannya. Namun, justru pemerintah tidak merespons berbagai tuntutan yang disuarakan.

"Di kala masyarakat sudah terlalu sesak dengan kebodohan pemerintah dalam menangani berbagai permasalahan yang terjadi di negeri ini. Rakyat di berbagai kota sudah turun ke jalan, berteriak dengan serenteng tuntutannya, tapi di mana pemerintah saat itu?," kata Sheron Adam Funay dalam keterangannya, Selasa (16/6).

"Terhinalah mereka ketika berbicara mengenai nilai-nilai Pancasila di tengah kondisi suara rakyat dibungkam, dikriminalisasi, dan kritik dianggap gangguan," sambungnya.

Ia pun mempertanyakan, mereka yang berbicara soal keadilan, kemanusian, dan kesejahteraan, tetapi justru berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang negara untuk program dan kunjungan luar negeri yang tidak bermanfaat.

Ia menegaskan, anggaran negara seharusnya digunakan untuk program-program yang bermanfaat, seperti pendidikan gratis, memperbaiki sekolah-sekolah, menambal defisit BPJS, dan mensubsidi BBM.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore