SD Negeri 2 Cimareme, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, salah satu penerima manfaat MBG. (Istimewa)
JawaPos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah menjadi sorotan usai peristiwa keracunan massal yang terjadi di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dari 16 kecamatan di wilayah tersebut, ditemuka dua kecamatan bermasalah dalam pengelolaan MBG.
Pakar kebijakan publik dari Universitas Pasundan Bandung, Eki Baehaki menilai, MBG masih dibutuhkan banyak masyarakat. Oleh karena itu, tidak seharusnya program ini dihapuskan hanya karena terjadi masalah.
“Sepiring makan bergizi gratis di sekolah adalah intervensi negara yang sangat dibutuhkan. Namun, niat mulia bisa runtuh oleh tata kelola yang rapuh. Program MBG harus terus dilanjutkan tetapi dengan perbaikan tata kelola yang radikal,” ujar Eki, Minggu (28/9).
Eki menuturkan, perlu perbaikan tata kelola MBG. Sehingga program ini bisa berjalan lebih baik, dan manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.
Pengelolaan MBG perlu mempertimbangkan prinsip keamanan pangan, yang menyaratkan menjaga kebersihan, memisahkan pangan mentah dan matang, memasak dengan benar, menyimpan pada suhu aman, serta memakai bahan baku bersih, belum berjalan konsisten.
“Program MBG adalah investasi besar tetapi tanpa tata kelola yang disiplin, investasi itu justru bisa menghasilkan kerugian kesehatan, hilangnya kepercayaan publik, dan kegagalan politik. Walau bagaimanapun agar Program MBG harus tetap jalan maka harus ada jalan selamat bagi revitalisasi Program MBG itu sendiri,” jelasnya.
Manfaat MBG sendiri banyak dirasakan masyarakat. Salah satunya 432 murid SD Negeri 2 Cimareme, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Sekolah ini menjadi salah satu yang menerima MBG dengan pengelolaan yang baik di wilayah Bandung Barat.
"Tadi sudah makan pakai burger, enak," kata murid kelas 3 bernama Aleyshia.
Penjaga sekolah, Zainudin juga memastikan program MBG di sekolah tersebut berjalan lancar. Tidak ada siswa yang mengalami keracunan.
"Alhamdulillah selama ini aman, nggak ada murid yang ngeluh atau sakit setelah makan," kata Zainudin.
Sementara itu salah seorang wali murid, Siti percaya pihak sekolah akan melakukan pengecekan dengan baik terhadap menu MBG yang disajikan. Sehingga, peristiwa keracunan tidak terjadi.
"Kalau dengar dari berita ya khawatir (keracunan). Tapi guru-guru di sini (SD Negeri 2 Cimareme selalu cek makanan itu satu satu. Jadi sebelum dikasih ke murid, dicoba dulu sama gurunya. Kalau ada yang basi, ya nggak dikasih ke murid. Itu yang membuat saya yakin makanan untuk anak saya aman," kata Siti.
Karena itu, Siti yang putrinya yang saat ini duduk di bangku kelas 4 berharap MBG terus berjalan dengan pengecekan melibatkan dewan guru. "Ayeuna (sekarang, Red) program MBG janten (menjadi, Red) tidak memberatkan beban keluarga untuk makan anak di sekolah. Sangat membantu," kata dia.

Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 Menit
Sesi Foto Bersama di Pemakaman Komedian Temon Terbelah Jadi 2 Kubu
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Kompak Turun, Berikut Daftar Harga Terbaru BBM Pertamina hingga Shell
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
Daftar Pemain Cedera Prancis vs Spanyol di Piala Dunia 2026: Les Bleus Terancam Krisis Lini Tengah!
MA Kekurangan 1.600 Hakim, Lulusan Fakultas Hukum Ditawari Gaji Rp 50 Juta Per Bulan
Prediksi Skor Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: Lionel Messi Cs Dijagokan Singkirkan Three Lions dan Lolos ke Final
